Tata Rias Etnik Indonesia Kian digandrungi Apa Alasannya?

Bandung - Di tengah perkembangan zaman yang kian modern, ternyata pernikahan berkonsep etnik tradisional kian digandrungi pasangan muda loh. Selain melestarikan budaya Indonesia, mengenakan pakaian daerah juga bikin tampilan lebih unik dan terkesan sakral.

Untuk mengangkat pengantin etnik Nusantara, baru-baru ini desainer dan makeup artist Ivan Belva meluncurkan Belva Makeup Management di El Royale Hotel Bandung. Perancang kebaya mumpuni ini menebar pesona pengantin tradisional Indonesia dengan warna bold dan shabby chic. 

Dengan label Kebaya Belva, beberapa desain disuguhkan dalam modifikasi dan latar tradisi yang berbeda. Malam itu Ivan menampilkan tren pengantin tradisional sunda siger, Bali, Minang, Jawa, muslim dengan 12 tim MUA yang siap mendandani para pengantin dengan berbagai latar belakang etnik budaya. 

"Saat ini masih jarang desainer dan MUA yang bisa menawarkan tatanan dari setiap daerah dari seluruh Indonesia. Kali ini kami menyediakan mulai dari desain pakaian, tata rias hingga aksesori. Semua diadopsi sesuai daerah aslinya," ujar Ivan di sela fashion show. 

Sebagai perancang yang fokus terhadap kebaya pengantin, Ivan memperkuat sentuhan desainnya pada pakem tradisi lokal. Meski begitu, ide kreatifnya tetap berjalan. Ia masih bebas memodifikasi berbagai sisi detil pakaian kecuali hairdo alias tatanan rambut. 

Layaknya ratu sehari, tata rias dan kebaya pengantin juga harus memancarkan kemewahannya dari berbagai detail suguhan. Kebaya pengantin Belva misalnya, secara konsep selalu bermain dengan aksentuasi payet dan kristal swarovsky untuk menciptakan kilau mewahnya. Sementara untuk aplikasi yang menempel pada bahan tile, biasanya mengetengahkan sulam bordir dan brokat untuk menyempurnakan tampilan kebaya.

"Kebaya klasik modifikasi yang saya ciptakan, harus memenuhi kriteria kecantikan elegan khas pengantin nusantara. Pada tahun ini, saya memastikan selera kebaya pengantin memang kembali pada tema klasik yang potongannya mengikuti standar kebaya nasional. Hal ini bisa dilihat dari potongan yang serba lurus, minim detail tapi tetap diperkaya dengan kristal dan aneka payet," tandas Ivan.

Untuk menghasilkan gemerlapnya yang paling memukau, kebaya klasik modifikasi ini juga tetap mengandalkan payet impor Jepang dan kristal swarovsky asal Austria. Sedangkan untuk bahan dasar brokat dan tile, ia memastikan semuanya diambil dari kawasan Bandung dan Jakarta. 

"Semua bahan aplikasi saya ambil dari luar negeri karena ketahanan kilaunya lebih baik. Hal ini sangat saya jaga karena aplikasi detil inilah yang menjadi penunjang kemewahan dari kebaya pengantin," rincinya.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler