Batik Sejawat, Kreasi Batik dengan Estetika Kedokteran

Yogyakarta - TemanBaik, sudah barang tentu batik bukanlah sesuatu yang asing di telinga kita. Berbagai motif batik banyak beredar di pasaran. Namun, bagaimana jadinya jika nilai estetika kedokteran jadi salah satu sumber inspirasi terciptanya batik? Ya! Itulah yang saat ini sedang dieksplorasi oleh Batik Sejawat. Sebuah merek dagang batik dari Yogyakarta-Solo yang diprakarsai oleh empat orang dokter muda.

Beritabaik.id punya kesempatan berbincang dengan salah satu pendiri Batik Sejawat, dr. Abdurrahman Afa Harifi. Menurutnya, Batik Sejawat yang mulai dibangun sejak 2017 ini bermula dari keresahan pasca pre-klinik di masa perkuliahan. Ia dan ketiga temannya, dr. Khariz Fachrurrozi, dr. Akbar Deyaharsya dan dr. Ghani Abdurrohim merasa perlu membuat sebuah karya yang selain bisa membentuk gerakan sosial, juga bisa menjadi penghasilan tambahan.

Pengalaman membuat seragam kelompok batik pun menjadi inspirasi Abdurrahman untuk kemudian membuat sebuah produk batik dengan kreasinya.

"Saya pernah liat kok ada batik mirip sama sel tubuh, ya. Akhirnya saya konsultasi lah ke sana-sini, kayaknya seru nih (membuat produk batik)," jelasnya.

Ia menyebutkan nilai yang coba disampaikan lewat Batik Sejawat adalah melestarikan budaya batik dengan mengangkat nilai estetika kedokteran. Setelah itu, dimulailah tahap konsultasi dan mempelajari cara membuat batik. Motif batik yang disajikannya pun mencakup estetika kedokteran seperti anatomi tubuh, histologi dan lain sebagainya.



Baca Ini Juga Yuk: Grace Sahertian Apresiasi Produk Lokal Melalui Panggung Musik

Produksi batik di Batik Sejawat menggunakan beberapa metode. Kebanyakan adalah batik tulis, namun ada juga beberapa batik semi-tulis. Abdurrahman memaparkan proses tahapan batik tulis. Pertama-tama, desain batik dikonsep terlebih dahulu, lalu digambar ke sketsa, dijiplak, 'dimalam' atau dililin sebelum akhirnya dicelup warna. Setelah dicelup warna, batik kemudian 'dimalam' lagi dan dicelup sebelum akhirnya dilelehkan, dijemur, dan dibungkus untuk diedarkan.

Kendati punya motif yang segmented (hanya bisa dimengerti kalangan tertentu), namun Abdurrahman menyebutkan pembeli di Batik Sejawat punya segmentasi yang umum dengan usia produktif. Ia menambahkan, para pembeli itu banyak yang mengenakan produk dari Batik Sejawat untuk dirinya sendiri, atau ada juga yang menjadikannya sebagai kado. Karena tumbuh di kalangan petugas medis, sampai saat ini pembeli dengan profesi yang beririsan masih mendominasi.

Adapun harga yang ditawarkan Batik Sejawat berkisar Rp.450.000 hingga Rp.910.000 untuk pakaian batik, dan Rp.250.000 hingga Rp.350.000. Nama-nama di katalognya pun bernuansa anatomi dan istilah kesehatan. Ada tiga kategori produk yaitu kain dan kemeja, customfit dan seragam yang opsinya bisa kamu pilih sesuai kebutuhan.

Sampai sekarang, pembelian Batik Sejawat hanya bisa TemanBaik akses via daring. Kamu bisa mengunjungi akun instagram resmi mereka @batiksejawat. Lebih jauh, Abdurrahman berharap ke depannya ia dan teman-temannya dapat meluncurkan batik jahit untuk perempuan, karena selama ini mereka hanya melayani jasa jahit (batik) namun hanya untuk laki-laki. Di luar produk batik, mereka juga sedang membangun Rumah Manfaat Sejawat, yang mana di dalamnya ada 4 rekrutan yang disebut Penerima Manfaat Batik Sejawat (PMBS) yang dibekali nilai-nilai kehidupan oleh para penggagas Batik Sejawat. Wah, menarik juga ya!

Pameran Nasional hingga Aksi Sosial
Angan-angan Batik Sejawat di usianya yang masih belia ini adalah mereka dapat memproduksi batik secara lebih masif lagi. Rumah produksi menjadi target bidikan mereka saat ini. Nantinya, rumah produksi tersebut akan diisi oleh kegiatan seminar membuat batik dan kelas-kelas membatik untuk mengedukasi generasi muda tentang cara membatik. Lebih jauh lagi, mereka ingin bergabung di Pameran Nasional tahun 2021 mendatang.

"Anak-anak muda sekarang tuh mungkin pada enggak tahu kenapa harga batik mahal. Makanya kita mau buat kelas-kelas membatik nanti," jelasnya.

Selama menjalankan Usaha Kecil Menengah ini, Abdurrahman yang berprofesi sebagai dokter di Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI ini mengaku sangat senang bisa memberi kontribusi untuk melestarikan budaya di Indonesia. Terlebih, saat ini batik sudah diakui oleh mancanegara sebagai identitas asli Indonesia.

Selain itu, dalam menyikapi pandemi global virus corona, Batik Sejawat juga menggelar aksi sosial berupa penggalangan dana yang diambil dari 100 persen penjualan batik jenis Havers dan Acin, dan Rp.50.000 dari penjualan batik tulis. Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para tenaga medis atau siapapun yang terdampak COVID-19.

Nah. Bagaimana, TemanBaik? Kamu berniat mengoleksi batik dengan motif yang berbeda dari biasanya? Produk Batik Sejawat ini bisa jadi alternatif buatmu.

Foto: Dok. Batik Sejawat

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler