Kreativitas 'Toekang Ketjos', Seni Jahit Manual dari Bandung

Bandung - TemanBaik, pernah dengar Sashiko, yang merupakan kultur jahit sulam dari Jepang? Nyatanya, di Indonesia, bahkan Jawa Barat punya juga loh kultur sejenis yang dinamakan Kecos. Ya, berangkat dari hal itu, dua pemuda asal Bandung ini mendirikan produk kreatif Toekang Ketjos. Yuk simak ceritanya!

Dua pemuda itu ialah Deri 'Kokok' Firmansyah dan Dian 'Obin' Rusdiana. Kokok, sapaan akrab Deri adalah pendiri awal produk Toekang Ketjos. Beberapa bulan setelah menjalankan usaha kreatifnya, ia kemudian bertemu dengan Obin, pemilik brand (merek) Handbin, yang rupanya lebih 'senior' dan dianggap lebih memahami teknik kecos alias jahit tangan manual yang berkembang sejak zaman dahulu. Kokok sendiri baru mempelajari teknik Kecos sejak November 2019.

"Pertamanya sih saya mempelajari teknik kecos ini. Lalu enggak sengaja ketemu dengan Obin, yang ternyata udah lebih jago. Kita ketemu di salah satu eksibisi, dan saya mikir proyek eksibisi ini bakal menjadi sesuatu yang besar saat itu," ujar Kokok saat ngobrol dengan Beritabaik.id.

Pada dasarnya, teknik Kecos atau jahit manual yang diterapkan oleh Kokok dan Obin di brand Toekang Ketjos ini bukanlah menjahit baju dari nol sampai jadi, tetapi mengembangkan medium kain untuk diberi sentuhan jahit manual alias Kecos ini sebagai penambah ornamen pakaian atau aksesori seperti sepatu, topi, dan lebih banyak lagi.

Intinya, semua properti busanamu akan lebih keren dengan tambahan ornamen kecos ini. Kendati terdengar simpel, rupanya teknik Kecos atau jahit manual ini punya kesulitan tersendiri loh. Bayangkan saja, pola robot atau bunga yang tergambar dalam pemikiranmu dituangkan ke dalam medium kain sebagai ‘lukisan’ dari benang jahit. Wah, tentu ini enggak bisa dilakukan oleh sembarangan orang, kan?


Baca Ini Juga Yuk: Kain Endek Digandeng Christian Dior Jadi Desain Fesyen Terbarunya

Apabila dalam Sashiko yang dikenal sebagai kerajinan menjahit sulam di Jepang, medium hingga materialnya sudah dikonsep sedemikian rupa, maka hasil kreasi Toekang Ketjos sebetulnya lebih kepada pemanfaatan material yang sudah ada, seperti benang jahitnya, misalnya. Kokok menyebut kreasi ini seperti menyulap material yang ada di rumah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

"Pertama itu, dan yang kedua adalah sebagai upaya memperkenalkan aja sih, kalau di kita juga ada nih Sashiko-nya orang Sunda lah gitu. Namanya kecos. Saya punya harapan kultur ini dikenal lagi sama anak muda, karena saya perhatiin emang udah mulai punah. Kan sayang banget gitu," terangnya.

Momentum pandemi yang menerpa dunia sekitar bulan April 2020 juga berdampak pada kegiatan sehari-hari Kokok maupun Obin. Sejak saat itu, mereka gencar menerima pesanan Kecos atau jahit manual untuk beberapa produk. Berawal dari peniruan gaya pada pola Sashiko-nya Jepang, Toekang Ketjos kemudian mengeksplorasi teknik Kecos ini dan menciptakan beberapa karakter baru, yang tentunya menjadi identitas mereka. Pada dasarnya, karakter tersebut lebih menonjolkan nilai abstrak.

Karena berbasis jasa, selain mengembangkan karakter sendiri, Toekang Ketjos pastinya mengedepankan permintaan konsumennya. Contohnya begini; misalnya kamu punya sepatu kanvas yang polos. Nah, di tangan Toekang Ketjos, kanvas polos pada sepatumu itu bakal disulap menjadi lebih artistik lagi. Atau kamu punya kaos polos, yang di bagian depannya ingin kamu tambahi motif bunga, atau karakter ikonik kesukaanmu. Nah, rasanya enggak salah deh kalau kamu menyerahkan keinginanmu itu kepada Toekang Ketjos.


Sebagai contoh, kamu bisa mengunjungi akun Instagram mereka di @toekangketjos. Di sana, ada banyak contoh hasil jahit manual keren sebagai rujukanmu memesan jasa Kecos ini.

Enggak puas bermain di medium yang terbilang mainstream, ke depannya Toekang Ketjos sedang menjajal medium baru untuk di-kecos alias dijahit manual. Ya, kabarnya mereka sedang menyiapkan prototype untuk Kecos helm. Jadi, helm kamu yang polos itu bisa dibikin motif keren nan artistik. Wah, keren juga ya!

"Untuk helm itu sebetulnya kita siapin buat covering-nya aja. Karena enggak kebayang, masak iya kita menjahit manual si helm-nya? Nah, sebagai alternatif biar enggak mainstream, tapi sekiranya bisa dikejar, kita kembangin Kecos helm ini sebagai produk baru," ujar Obin, diamini oleh Kokok.

Sebagai penutup, keduanya berharap usaha kreatif yang dijalankannya enggak sebatas meraup banyak pemesan saja. Lebih jauh dari itu, mereka ingin kultur jahit manual atau Kecos ini lebih dikenal lagi oleh kawula muda. Meski ada kesan urakan dari hasilnya, namun, menurut Kokok maupun Obin, teknik Kecos enggak bisa disamakan dengan nilai-nilai yang buruk.

"Sebetulnya kita kan berangkat dari kesukaan terhadap musik punk, yang notabene menjahit emblem di pakaian. Nah, berangkatnya dari situ kan. Tapi kalau ada yang bilang 'wah, ini gembel nih,' enggak lah. Enggak begitu. Ada semacam keindahan dan kepuasan tersendiri dari teknik Kecos ini, baik untuk kami sebagai kreator dan buat pembelinya," pungkas Kokok.

TemanBaik, apabila kamu hendak memperindah pakaian, aksesori, atau pernak-pernik fesyenmu dengan sentuhan jahit manual, kamu bisa langsung menghubungi jasa Kecos ini di Instagram @toekangketjos. Di sana, kamu bakal terhubung langsung dengan kontak telepon dan bisa bertanya lebih jauh mengenai harga, sampai jasa layanan Kecos yang bisa didapatkan.

Foto: dok. Toekang Ketjos

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler