Inovasi Karya dan Eksplorasi Film Gaya Richard Oh

Bandung - Penulis sekaligus sutradara adalah dua hal yang bisa menggambarkan sosok pria yang satu ini. Dia adalah Richard Oh, mengawali karir sebagai seorang penulis novel, kemudian ia mengembangkan minat dan ketertarikannya pada dunia film.

Untuk mewujudkan impiannya tersebut, Richard Oh pun memilih jurusan penulisan kreatif di Universitas Wisconsin, Madison, dan UC Berkeley. Selain itu, ia juga sempat belajar pada Lorrie Moore, seorang penulis buku yang berhasil masuk nominasi National Book Award. Selain itu, Richard juga merupakan penggagas Kusala Sastra Khatulistiwa, sebuah ajang penganugerahan bagi sastrawan Indonesia berprestasi.

Sejumlah karya pun telah berhasil dia lahirkan, mulai dari novel hingga film yang ia tulis dansutradarai sendiri. Pada tahun 1999, Richard Oh menerbitkan buku berjudul 'Pathfinders of Love', kemudian tahun 2002 'Heart of The Night' dilanjutkan 'The Rainmaker's Daughter di tahun 2004.

Sementara dalam bidang film, Richard Oh memulainya tepat dua tahun setelah buku ke tiganya terbit yaitu tahun 2006. Baginya mengekplorasi film berbeda dengan pengalamannya ketika mempelajari sastra.

"Sejak saya masuk ke dunia film pada tahun 2006, saya punya keinginan mengeksplorasi film sebagai medium yang sama sekali berbeda dengan semua yg pernah saya pelajari dari sastra. Setiap film mesti merupakan sebuah eksplorasi yang unik baik dari pengolahan struktur narasi, adegan, sound dan musik," ujar Richard Oh pada BeritaBaik, Selasa (4/9/2018).

'Koper' adalah film pertama yang Richard Oh garap, bergenre drama dan dibintangi oleh Anjasmara, Maya Hasan dan Djenar Maesa Ayu. Film berdurasi 133 menit ini berkisah tentang koper yang ditemukan pasagan suami istri. Film ini hadir dengan sajian berbeda dari film Indonesia umumnya, yaitu menyuguhkan black comedy alias komedi satir.

"Setelah Koper (2006), saya menelusuri semakin dalam kemungkinan-kemungkinan sinema. Keinginan tahu mendorong saya membuat tiga film, Description Without Place (2011), Melancholy Is A Movement (2015), Terpana (2016), yang merupakan sebuah eksplorasi geometrika sinema. Film-film ini mencoba menyajikan narasi dalam ruang reflection symmetry. Film yang baru yang baru rampung, Love Is A Bird (2018) adalah langkah berikut dari eksplorasi di medium film," ungkapnya.

Kali ini Richard Oh hendak fokus pada gerakan, bagaimana menangkap momen-momen di interval gerakan, bagaimana imaji bukan merupakan sebuah presentasi, tapi sebuah kelebatan momen yang menggugah makna dan menguak waktu dalam dunianya sendiri. Dalam membuat karya, Richard enggan terjebak dengan cap mainstream atau tidak. Yang terpenting baginya adalah bagaimana menyajikan film berbeda dari karya sebelumnya.

"Mainstream, anti mainstream, saya kira adalah rujukan industri dan tidak begitu memusingkan saya. Yang pasti ketika saya membuat satu film saya ingin film itu bukan sebuah pengulangan dari sekian banyak film yang sudah mendahului. Tapi sebuah film yang memiliki keunikan tersendiri yg dituntut karya itu. Saya tidak percaya bahwa film hanyalah sebuah medium bertutur cerita, film memiliki kemungkinan yang tak terhingga yang masih bisa terus dikupas seiring dengan perkembangan teknologi," tambah Richard.

Bagi Richard, bagus atau tidaknya sebuah film harusnya tidak terefleksi dari berapa jumlah pasar yang terkumpul. Melainkan dari apa yang film itu raih sebagai sebuah inovasi ataupun keberhasilan dan kegagalan dari elemen yang membangun film.

Melihat sineas muda yang memanfaatkan platform media sosial dalam publikasi film buatan mereka menurut Richard Oh merupakan hal yang biasa. Namun mereka harus tetap menawarkan sesuatu yang berbeda.

"Perkembangan film sangat tergantung pada dialog para sineas yang terlibat dalam dunia film kita. Seberapa semua yg terlibat dalam film ingin meningkatkan prestasi film nasional. Berani mengajukan film-film kita pada capaian tertinggi di dunia. Di situ saya kira kita akan selalu berusaha dan saling memajukan standar perfilman. Intinya, apapun platform yg dipilih, pembuat film harus bisa menawarkan sesuatu yang unik dan inovatif," jelasnya.

Menurut Richard, kejayaan dalam film adalah kejayaan dalam membuat terobosan demi terobosan dalam gagasan, eksplorasi medium dan keberanian visi.

"Melayani pasar dan tuntutan pasar tidak menjadikan seseorang menjadi seorang sineas, tapi pelayan berbakat untuk industri. Sah saja itu dijadikan sebuah profesi, tapi saya kira itu jauh dari tuntutan sebuah kesenian yang membuka jalan-jalan baru ke pencapaian film kita," tutup Richard.

Richard Oh akan mengisi di acara tahunan, Ubud Writer Festival pada Bulan Oktober Mendatang. Pada acara tersebut, Richard ingin sekali berbincang mengenai perbedaan film dan sastra. Ia juga ingin bercerita bagaimana film menjadi medium di mana berbagai aspek kesenian saling bertubrukan. Dalam acara tersebut, TemanBaik juga bisa berdiskusi mengenai film terbarunya ‘Love is a Bird’.



Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler