Melihat Perempuan di Industri Media Lewat Film 'More Than Work'

Jakarta - Pada Sabtu (15/06/2019) sebuah film yang mengangkat isu tentang bagaimana perempuan dalam industri media berjudul 'More Than Work' baru saja diluncurkan di Institut Prancis Indonesia (IFI) Jakarta. Seiring perkembangan zaman, industri media di Indonesia semakin berkembang pesat. Menurut data dari Dewan Pers, pada saat ini diketahui sudah terdapat 47.000 mediayang tersebar di seluruh Indonesia.

Pemilihan judul 'More Than Work' oleh sang sutradara Luviana dikarenakan ia ingin memperlihatkan bahwa pekerja perempuan di media tidak seperti yang selama ini ada di bayangan orang-orang. "Saya memilih membuat cerita ini sebagai film karena sejauh ini atau sekitar 5 tahun belakangan ini, saya belum menemukan film yang menceritakan tentang media dan perempuan," kata Luviana.

Ia yang sudah menjadi jurnalis sejak tahun 1993 silam merasa selama ini pembahasan tentang media dan perempuan hanya sebatas obrolan di warung. Perlakuan diskriminatif seperti hanya perempuan cantik yang memiliki tubuh langsing dan kulit mulus, yang bisa tampil di televisi, maupun perlakuan lain yang tidak mengenakan.

"Walaupun sebenarnya banyak yang enggak setuju dengan pendapat ini. Tapi mereka ketakutan kalau harus melapor, takut terkena protes atau bahkan peringatan," ujarnya.

Film 'More Than Work' juga bisa merujuk pada permasalahan, dimana perempuan mendapat jam kerja yang panjang. Setelah bekerja di kantor, para perempuan masih harus bekerja di sektor domestik (rumah). Mereka bekerja di industri kreatif yang tidak mengenal waktu.

Baca Ini Juga Yuk: Film Animasi Spice Girls Bakal Dirilis Tahun 2020

Sebelumnya Luviana dan AJI (Aliansi Jurnalis Independen), pada tahun 2012/2013 pernah mengeluarkan buku mengenai Jurnalis Perempuan di Media. Dalam buku tersebut dijelaskan tentang masalah yang sering muncul adalah yang dialami oleh para pekerja lepas (freelance), kontributor, atau koresponden, di mana mereka harus siap untuk selalu liputan di mana pun, agar bisa mendapatkan gaji.

"Saat ini, kita bisa bekerja di mana saja, benar. Tapi, apakah ada jaminan? Enggak ada. Para pekerja lepas tidak memiliki jaminan kesehatan, mereka juga bisa kapan saja diputus kontraknya, masih harus membuat revisi, lalu kalau sudah tenggat waktu masih belum dibayar. Sedangkan permasalahan di televisi yaitu kalau seorang perempuan tidak cantik, maka tidak bisa tampil. Syarat utama untuk tampil di televisi adalah berpenampilan menarik, kalau laki-laki cukup rapi aja. Sementara perempuan, harus menarik, tidak boleh ada jerawat, harus langsing, dan wajahnya berseri-seri," papar Luvi biasa ia disapa.

Sehubungan dengan masalah itu, Wulan salah seorang jurnalis perempuan yang juga hadir dalam peluncuran film ini memberikan tanggapannya mengenai hal ini. Ia bercerita jika beberapa waktu lalu pernah mengikuti diskusi mengenai pekerja perempuan. "Salah satu editor di media cetak bersama dengan jurnalis lain sedang mengupayakan untuk membuat day care di tempat kerja. Banyak jurnalis dan editor perempuan yang pintar, malah harus resign karena kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan anak," ungkapnya. 

Selain itu, ia jga menambahkan jika perempuan juga kerap kali dijadikan sebagai objek dalam media. Misalnya saja, media-media online seringkali membuat judul yang membahas sensualitas perempuan. Begitu pula dengan media televisi, sampai saat ini pun masih banyak tayangan yang menayangkan hal-hal yang berkaitan dengan sesualitas.

"Saya sempat baca salah satu judul di media online, '3 Pesepak Bola Wanita ini Bikin Salah Fokus'. Lagi-lagi, perempuan dijadikan objek. Kalau di dalam penerimaan pegawai, sejauh ini memang sudah tidak ada lagi lowongan yang hanya menerima laki-laki sebagai repoter. Namun, di sebagian judul berita online masih ditemukan judul yang hanya menjadikan wanita sebagai objek," ceritanya.

Baca Ini Juga Yuk: Asyik! Jember Kini Punya Banyak Pilihan Bioskop Berkualitas

Walau begitu, di era sekarang media sudah terasa tidak terlalu mengerikan. Ruang redaksi, tidak seseram seperti saat masa orde baru, di mana media masih dikuasai oleh pemerintah. Saat ini, anak muda bisa dengan bebas berekspresi dan mengungkapkan pendapat kritis mereka melalui postingan di media sosial. Kebanyakan juga konten yang ada di media massa saat ini justru diambil dari apa yang sedang hangat dibicarakan di media sosial.

Film produksi Konde Production ini akan diputar secara berkeliling di kampus-kampus, komunitas dan jaringan media, komunitas perempuan, komunitas jaringan buruh, dan lain-lain. Trailer dari film 'More Than Work' pun sudah disebarkan pada Hari Buruh Internasional yang jatuh pada 1 Mei lalu.

Nah, untuk bisa menikmati film ini, kamu dapat menguhubungi melalui email morethanworkfilm@gmail.com, nantinya mereka akan mengirimkan langsung dvd film 'More Than Work' agar bisa kamu tonton.


Foto: Nurul Faradila

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler