FFD 2019 Sajikan 15 Program dan Film-film Dokumenter Dunia

Yogyakarta - Menginjak usia yang ke-18, tahun ini Festival Film Dokumenter (FFD) akan kembali digelar selama tanggal 1-7 Desember 2019 dan bertempat di 3 lokasi, yaitu Taman Budaya Yogyakarta, IFI-LIP Yogyakarta, dan Kedai Kebun Forum. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.

Dalam konferensi pers FFD 2019 yang diadakan pada hari Kamis (14/11) sore di Ayaartta Hotel Malioboro, Yogyakarta, Henricus Pria selaku Direktur FFD 2019 menerangkan bahwa ada tiga jargon yang menjadi dasar spirit FFD sejak pertama diadakan.

"Setiap program itu akan mempunyai tema atau bahasan yang khusus, dalam hal ini akan punya keunikan tersendiri, tapi salah satu spirit yang selalu ada sejak festival ini pertama diadakan ada tiga jargon, yaitu 'Mencari yang Tersembunyi', 'Merekam yang Tersisa' dan 'Menemukan Kearifan Semesta'. Tiga itulah yang kemudian menjadi spirit dasar kami untuk menentukan apa saja program yang akan kita bikin," paparnya.

Total ada 15 program yang disajikan dalam FFD 2019, yaitu: 'Kompetisi', 'Perspektif', 'Spektrum', 'Docs Docs', 'Focus on Canada', 'Focus on Korea', 'Layar Lebar', 'Layar Kekerasan', 'Lanskap', 'Etnografi Indrawi', 'The Feeling of Reality (VR)', 'SchoolDoc', 'DocTalk', 'Public Lecture', 'Lokakarya Kritik Film' dan 'Le Mois du Documentaire'.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2002, FFD tetap konsisten jadi wahana bertemunya film-film dokumenter dari seluruh penjuru Indonesia maupun mancanegara. Salah satu program utama dari perhelatan FFD tiap tahunnya yaitu 'Program Kompetisi'. Program ini didedikasikan untuk mempresentasikan film-film yang mampu menangkap isu-isu aktual di sekitar kita, serta mampu memberikan perspektif yang kritis terhadap isu-isu tersebut.

Tahun ini, FFD telah menerima total 286 film pendaftar, yang kemudian diseleksi hingga terpilih 26 film dokumenter. Film-film tersebut dibagi sesuai kategorinya, yaitu kategori 'Film Dokumenter Panjang Indonesia', kategori 'Film Dokumenter Panjang Internasional', kategori 'Film Dokumenter Pendek', dan kategori 'Film Dokumenter Pelajar'.

Baca Ini Juga Yuk: Kemeriahan Open Air Cinema di Yogyakarta

Sedangkan program utama non-kompetisi tahunan FFD adalah program 'Perspektif'. Program ini mengangkat isu kesehatan mental yang terjadi di sekitar kita. Dengan tidak terpaku pada persoalan klinis semata, FFD mencoba untuk menghadirkan beragam aspek dan pendekatan lain dalam merangkai program ini melalui 6 film pilihan, di antaranya '48 Years-Silent Director' (2018), 'Anxiety of Concrete' (2017), 'China Man' (2019), dan 'Good Neighbours' (2018).

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, FFD enggak cuma sekadar menyajikan kompetisi film dokumenter semata, tetapi FFD juga turut menghadirkan program pemutaran film, diskusi dan edukasi sebagai ruang pengembangan dokumenter, medium ekspresi dan ekosistem pengetahuan.

Hal ini sekaligus jadi tempat interaksi antara pegiat film, akademisi, seniman lintas bidang, programmer, distributor, hingga pelajar sekolah. Salah satu program FFD yang melibatkan pelajar sekolah yaitu 'SchoolDoc', sebuah exhibition yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan apresiasi film di kalangan pelajar.

Tahun ini, Forum Film Dokumenter mengadakan workshop produksi film untuk pelajar SMA sederajat yang mengangkat tema 'Melacak Akar, Merekam Asal: Potret Diri'. Melalui program ini menghasilkan 5 karya dari 5 peserta yang akan diputar mulai tanggal 2-6 Desember 2019 tiap hari Senin-Jumat pukul 13.00-20.00 WIB.

Mengenai penjelasan singkat untuk program-program lainnya dan judul film apa saja yang akan ditayangkan, kalian bisa cek di web resmi mereka di ffd.or.id dan akun Instagram serta Twitter di @ffdjogja ya, TemanBaik.


Foto: Hanni Prameswari/beritabaik

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler