'Abracadabra' Bikin Pengunjung Tersihir di Pembukaan JAFF 2019

Yogyakarta - Jogja-NETPAC Asian Film Festival alias JAFF 2019 akhirnya resmi dibuka oleh Budi Irawanto selaku Festival President dan Ifa Isfansyah selaku Festival Director bersama sederet team JAFF pada hari Selasa (19/11/2019) malam di Empire XXI Yogyakarta, Jalan Urip Sumoharjo No 104, Klitren, Gondokusuman, Yogyakarta. Dari total 113 film, film pertama yang ditayangkan sebagai pembuka JAFF ini adalah 'Abracadabra' (2019), besutan sutradara Faozan Rizal.

Setelah prosesi pembukaan yang ditandai dengan kirab prajurit bregada dan pemukulan gong usai sekitar jam 8 malam, para pengunjung kemudian diarahkan untuk masuk ke studio-studio yang telah siap menayangkan salah satu film yang diproduksi oleh Fourcolours Films ini.

Film 'Abracadabra' sendiri bercerita tentang seorang pesulap bernama Lukman (Reza Rahadian) yang kehilangan passion-nya dan ingin pensiun dari dunia sulap. Suatu ketika, ia mengadakan sebuah pertunjukan terakhirnya dengan mengundang kolega pesulap lain dan penonton biasa. Di malam itu, Lukman sengaja ingin menggagalkan triknya sendiri untuk menunjukkan bahwa sulap hanya sekadar tipuan kecepatan tangan dibarengi dengan manipulasi logika.

Lukman mengundang seorang pengunjung untuk masuk ke kotak, kemudian seorang anak dari barisan penonton mengajukan diri. Tak disangka-sangka, si anak tersebut malah jadi hilang betulan di dalam kotak tersebut. Lukman pun jadi bingung bukan kepalang dan segala keajaiban yang berkaitan dengan hidupnya mulai muncul saat ia memutuskan berpetualang dengan membawa kotak sulap itu untuk memecahkan teka-teki dan misteri di baliknya.

Salah seorang pengunjung bernama Ayu Saraswati mengomentari tentang acara pembukaan JAFF sekaligus film pembukanya secara keseluruhan. "Suasana openingnya Jogja banget ya, ada prajurit-prajurit, terus semua yang datang di sini ngedukung adanya JAFF, apalagi ini bisa terus ada tiap tahun. Semua orang support, semua orang dukung film-film yang semakin berkualitas juga, dan aku liat film openingnya ini eksperimental banget menurutku. Gambarnya surreal, tapi kita bisa tetap ikut masuk dalam cerita imajinasi bareng, dan pengemasannya bagus banget sih, warnanya. Udah bisa diakui internasional lah, semakin bagus film-film Indonesia, semakin bisa bersaing, seru. Aku juga ngga nyangka komedi bakal masuk di situ, kirain surreal yang serius, ternyata tetap fun juga lihatnya. Seru sih, aku nikmatin banget sampai selesai," paparnya.

Sedangkan pengunjung lain bernama Kristiawan Bayu memberikan komentarnya kepada BeritaBaik setelah selesai nonton film ‘Abracadabra’. “Film ‘Abracadabra’ bagus, beda dari film-film kebanyakan yang pernah ku tonton, tone warnanya asik, bener-bener enggak biasa. Kantor polisi serba pink? Aneh kan? Hehe. Kalo dari cerita lucu sih, dari kebingungan-kebingungan Lukman, kita seperti diajak memecahkan misteri-misteri yang ada di balik kotak sulap itu," komentarnya.

Ia pun memberi tanggapan positif tentang JAFF tahun ini yang hanya menggunakan satu bioskop saja selama 5 hari dan sistem ticketing seperti Sahabat Hanoman tahun ini tampak memudahkan para penonton dan sebuag solusi untuk mengurangi antrean tiket OTS.

BeritaBaik juga mendapat kesempatan untuk berbincang secara pribadi dengan salah satu pemain film 'Abracadabra' di hari pembukaan JAFF, yakni Mbok Tun yang berperan sebagai Rawit. Ia membeberkan momen yang paling berkesan baginya selama proses syuting. "Kalo aku sendiri, syutingnya selama 15 hari. Momen yang paling berkesan ya pas itu, yang aku lagi turun pas lagi naik sepeda itu. Semua pada ngeri dan jagain aku turun itu, pada takut aku kecebur, habis itu kan laut. Ada kira-kira 20 orang yang jagain pas aku sampe nyungsep itu," kenangnya sambil tertawa lepas.

Ia juga mengatakan bahwa proses syutingnya saat itu berhasil hanya dengan "one take" saja. "Syutingnya one take aja, sama mas Reza itu juga semua one take, enggak ada yang ngulang," tuturnya.

Sebagai salah seorang pemain, Mbok Tun juga tentunya berharap agar film 'Abracadabra' bisa ditonton oleh orang banyak. Ia pun berpesan kepada para penonton agar mengambil salah satu pelajaran dari film tersebut, salah satunya yakni jangan melupakan masa lalu.

"Itu film sebagai pelajaran juga sama kita. Kan sekarang banyak yang bilang show must go on, apa yang terjadi terjadilah, yang dulu ya dulu, nah itu jangan. Soalnya tanpa orangtua kan kita enggak bisa kayak gini, kita sebelumnya kan punya step-by-step, gitu," pungkasnya.


Foto: Hanni Prameswari

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler