JAFF 14 Suguhkan Film Omnibus Garapan 6 Sutradara Lintas Negara

Yogyakarta - Beberapa sinema asal negeri sakura dihadirkan melalui salah satu program JAFF 14 'Revival', yaitu 'Special Program: Japan Cinema Continuous'. Program ini merupakan rangkaian dari Japan Film Festival yang merupakan festival film yang digagas oleh Asia Center Japan Foundation yang dilangsungkan di beberapa kota di Indonesia. Salah satu film yang ditayangkan dalam program ini adalah 'Angel Sign' (2019), sebuah film omnibus yang digarap oleh 6 sutradara lintas negara.

Omnibus sendiri merupakan sekumpulan film pendek yang disatukan dalam sebuah film panjang. Biasanya, ada sekat judul yang berbeda antara satu cerita dengan cerita lainnya. Di dunia sastra, omnibus bisa dibilang seperti buku antologi atau kumpulan cerpen.

Berdurasi 105 menit, omnibus 'Angel Sign' dibagi jadi 6 kompilasi film pendek yang saling berkesinambungan. Semua cerita itu diangkat dari 5 karya manga terbaik pemenang SMA (Silent Manga Audition) Awards, salah satu kompetisi manga terbesar di dunia.

Seluruh pengambilan adegan film dibuat di seantero Asia. Sineas dari Thailand, Vietnam, Indonesia, dan tentu saja Jepang bekerja sama membuat karya antologi ini. Nonzee Nimibutr, Ham Tran, Ken Ochiai, Masatsugu Asahi, dan Kamila Andini menjadi sutradara dari masing-masing segmen pada omnimbus 'Angel Sign'.

Sedangkan Tsukasa Hojo (Jepang) jadi sutradara utama di omnibus 'Angel Sign' ini. Ia juga seorang mangaka atau pembuat komik Jepang yang sudah terkenal dengan seri manga 'City Hunter' miliknya, loh. Setelah akrab dengan belantika anime dan telah menjadi legenda pada bidang yang digelutinya sejak tahun 70-an, kini 'Angel Sign' jadi karya live-action pertamanya.

Sebagai sutradara utama, Tsukasa Hojo mengatur prolog dan epilog 'Angel Sign' yang dimulai dengan kisah sepasang musisi, Aika sang pemain cello dan Takaya sang pianis. Mereka berdua bermimpi untuk menggetarkan dunia dengan musik mereka.

Baca Ini Juga Yuk: Sutradara dan Para Pemain Ungkap Momen Unik di Balik Film 'Empu'

Namun, suatu hari, setelah menyusun lagu berjudul 'Angel Sign', Takaya tiba-tiba meninggal dunia akibat serangan jantung. Aika kemudian memainkan lagu 'Angel Sign' sendirian, hingga akhirnya lagu itu terdengar ke berbagai penjuru negara dan ternyata repertoire itu berhasil membawa berbagai keajaiban di seluruh dunia.

Di segmen kedua berjudul 'Beginning and Farewell' yang disutradarai oleh Ken Ochiai, bercerita tentang kisah masinis yang selalu membawa anjing kecil kesayangannya saat sedang mengendarai keretanya. Ia selalu menjalankan keretanya melalui jalur yang sama, melewati sebuah bangunan rumah yang penuh kenangan bagi masinis.

Setiap hari, si masinis memandang dengan penuh arti ke jendela di rumah itu, berharap kenangannya terulang kembali. Tingkah lucu si anjing kecil juga kerap menghibur tuannya selama melewati proses merelakan sebuah kehilangan. Di film pendek kedua ini, kita disuguhkan dengan pemilihan tone warna yang indah dan hangat.

Segmen berikutnya, 'Sky Sky' yang disutradarai oleh Nonzee Nimibutr (Thailand), bercerita tentang kedekatan seorang gadis kecil dengan anjing kesayangannya. Ikatan yang terbentuk nampak cukup berbeda dengan kisah masinis di segmen kedua. Kedekatan antara si gadis kecil dengan anjingnya terasa lebih personal sekaligus emosional, terlebih suatu ketika si gadis kehilangan anjingnya tersebut. Kita dapat melihat bagaimana si gadis akhirnya bisa merelakan kepergiannya.

Di segmen keempat ada 'Thirty and A Half Minutes' yang disutradarai oleh Ham Tran (Vietnam), bercerita tentang proses seseorang yang sedang melahirkan. Sosok Grim Reaper atau roh pencabut nyawa yang lekat dengan kehilangan dan kematian, menjadi tamu yang tak diundang di tengah-tengah proses itu. Kita dapat menyaksikan bagaimana pergulatan si suami demi mencegah kehilangan istrinya bersama calon bayi mereka, belum lagi dengan kejadian tak terduga yang terjadi setelah proses kelahiran itu.

Selanjutnya, di segmen kelima berjudul 'Father's Gift' yang disutradarai oleh Masatsugu Asahi (Jepang), berkisah tentang hadiah berupa robot dari seorang ayah untuk anak perempuan satu-satunya. Bagaimana ketiadaan sosok ibu dicoba digantikan dengan peran robot sebagai teman baru mereka, tetapi ternyata robot mereka tanpa sengaja malah merekam kehilangan baru bagi keluarga tersebut. Perpaduan aspek teknologi dengan segi emosional yang mengharukan dapat kita saksikan di segmen ini.

Kamila Andini, salah seorang sutradara wanita dari Indonesia juga tidak ketinggalan menyumbangkan perspektifnya akan momen 'kehilangan' dengan segmen keenam berjudul 'Back Home'. Segmen ini bercerita tentang janji seorang ayah yang pergi berperang kepada anak perempuannya untuk pulang ke rumah.

Walau berusaha untuk tetap bertahan hidup dalam kondisi peperangan itu nampaknya sangat sulit, tetapi sang ayah berusaha tetap ingin memenuhi janji itu. Pendalaman karakter Teuku Rifnu Wikana memerankan sosok ayah nampak jadi salah satu karakter terbaik dalam segmen ini.

Baca Ini Juga Yuk: 7 Film Dokumenter Animasi yang Bakal Hadir di FFD 2019

Semua segmen cerita tentang 'kehilangan' tersebut berhasil dihubungkan menjadi satu kesinambungan yang mengharukan dan menyayat. Tak ada dialog sama sekali dalam omnibus 'Angel Sign' ini, karena memang sesuai dengan konsep silent manga atau komik bisu yang mereka angkat.

Buncahan emosi hanya diselingi dengan aransemen musik 'Angel Sign' yang didominasi oleh gesekan cello dan denting piano. Repertoire tersebut sukses merefleksikan ingatan, menembus kultur, bahasa, dan latar yang beragam. Penonton dapat menemukan proses bagaimana akhirnya bisa merelakan sebuah kehilangan dan berdamai dengan diri sendiri saat menghayati proyek omnibus ambisius sepenuh hati ini.

Pada sesi Q&A setelah film ini ditayangkan, Yusei Kato selaku produser dari omnibus 'Angel Sign' membeberkan tentang proses pemilihan cerita silent manga yang akan diangkat untuk film ini.

"Ada sejumlah 6.888 peserta yang mengikuti perlombaan silent manga audition dari seluruh penjuru dunia, dari Indonesia sendiri ada hingga 1.200 manga yang masuk. Lima manga terbaik menjuarai ini. Kemudian kami ingin membuat sebuah film, juga dengan gaya bisu, namun dengan aransemen musik terbaik dan sutradara yang cocok membuat film seperti ini. Salah satunya adalah Kamila Andini dari Indonesia," bebernya.

Kamila Andini juga ikut berbagi tentang pengalamannya saat pertama kali diajak bergabung dalam project 'Angel Sign'. "Saat itu pada akhir tahun 2017 setelah menayangkan 'Sekala Niskala' di sebuah festival film di Tokyo, saya didatangi oleh beberapa orang dari sebuah perusahaan pembuat komik bisu (Silent Manga). Awalnya, saya kira bercanda karena masih belum tahu ada perusahaan seperti itu. Eh, ternyata serius. Kami bertemu di Jakarta, kemudian saya pun menyetujui untuk ikut dalam project tersebut," ungkapnya.

Kamila juga menambahkan tentang cerita silent manga yang menjadi inspirasi segmen 'Back Home' besutannya di omnibus ini. "Ketika membaca cerita manga tersebut, kreatornya adalah Vu Dinh Lan dari Vietnam. Settingnya tentang kerinduan seorang prajurit Vietnam kepada anaknya. Saya tidak merasa relevan dengan cerita itu. Kemudian saya pun meminta izin untuk mengubahnya sesuai dengan perspektif saya dan keadaan di Indonesia, dan akhirnya jadilah bagian film 'Back Home' dalam omnibus 'Angel Sign'," pungkasnya.


Foto: Hanni Prameswari/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler