Perjuangan Hidup Kakek Pelukis Sepatbor Becak di 'Cipto Rupo'

Festival Film Dokumenter (FFD 2019) baru saja selesai digelar pada tanggal 1-7 Desember 2019 kemarin. Berlokasi di 3 titik yang tersebar, yakni Taman Budaya Yogyakarta, IFI-LIP Yogyakarta, dan Kedai Kebun Forum, semua program FFD terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya apapun.

Salah satu film yang diputar di antara 91 film dalam 15 program FFD adalah film berjudul 'Cipto Rupo' (2019). Film ini disutradarai oleh Catur Panggih Raharjo. Film berdurasi 37 menit ini masuk ke dalam program 'Kompetisi' kategori 'Film Dokumenter Pendek Indonesia' dan berhasil meraih gelar penghargaan ‘Special Mention of Short Documentary Competition’ di malam penutupan FFD 2019 yang diadakan pada Sabtu (7/12/2019) malam di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Jalan Sriwedani No. 1, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta.

Film 'Cipto Rupo' menampilkan keseharian seorang kakek bernama Tjipto Setiyono (85 tahun) yang merupakan seorang pelukis sepatbor becak, memperbaiki tenda becak sekaligus pembuat mainan kitiran atau kincir angin dari kayu. Dalam usia yang tidak muda lagi, mbah Tjipto hidup mandiri di sebuah kamar kost berukuran 3x3 meter persegi. Tempat itulah yang menjadi saksi lahirnya karya-karya buatan tangan seorang mbah Tjipto yang berjuang seorang diri demi mencukupi kebutuhan hidup.

Film 'Cipto Rupo' mendapat jatah dua kali pemutaran selama FFD 2019, yakni pada tanggal 3 dan 5 Desember 2019. Setelah film diputar, diadakanlah sesi Q&A yang dihadiri oleh sang sutradara, Catur Panggih Raharjo. Di awal sesi, Catur menyampaikan kepada audiens tentang proses awal yang membuatnya terinspirasi untuk membuat film ini.

"Pertama-tama, kami terinspirasi dari banyaknya manula di Jogja ini yang masih aktif berkegiatan dan bekerja, terus akhirnya ketemu sama mbah Tjipto tadi. Proses pembuatan film ini memakan waktu sekitar 8 bulan, dan saya nge-kost di samping kamarnya mbah Tjipto tadi selama pembuatan film sampai selesai. Kebetulan sebelah kamar mbah Tjip pas kosong," katanya.

Ia kemudian menuturkan tentang bagaimana proses panjang yang ia jalani selama pembuatan film yang tentunya membutuhkan kesabaran ekstra dengan kondisi renta mbah Tjipto sebagai subjek. Ia percaya bahwa melalui pendekatan yang baik, posisinya sebagai film maker dan alat-alat yang ia bawa itu akan diterima menjadi bagian dari kehidupan si subjek.

"Hubungan itu dibangun atas asas saling percaya. Jadi, awalnya kita bertemu berkali-kali, terus setelah itu kami mengutarakan maksud ingin membuat film mengenai mbah Tjipto. Kemudian, setelah mbah Tjipto mengiyakan, kami kasih waktu dulu. Terus, kami datang lagi memberi kesempatan kalo dia ingin berubah pikiran. Ternyata di pertemuan selanjutnya, mbah Tjip masih mau difilmkan. Setelah itu hubungan kami menjadi sangat dekat," tuturnya.

Berhubung selama pembuatan film ikut nge-kost di samping kamar mbah Tjipto, Catur mengaku bahwa ia sampai hafal betul dengan kegiatan sehari-sehari yang dijalani mbah Tjipto, mulai dari mbah Tjipto bangun, mandi, beli makan, dan lain-lain. “Mbah Tjpto ini sekarang umurnya udah 85 tahun, jadi butuh kesabaran yang cukup ekstra karena pendengaran dan ingatannya sudah mulai turun. Jadi, kalau saya ketemu di minggu ini, terus ketemu di minggu depan, kadang yang diomongin adalah hal yang udah diomongin di minggu lalu. Tapi menurut saya, karena adanya satu kesamaan kultur budaya jawa yang sangat membantu, saya jadi bisa cepat masuk dan menyesuaikan diri dengan mbah Tjipto,” akunya.

Setelah sesi Q&A berakhir, Catur sempat membeberkan momen unik tak terduga yang paling diingat olehnya dari proses pembuatan film 'Cipto Rupo' ini kepada BeritaBaik. "Tipe dokumenter saya ini kan observasional ya, jadi saya sebagai observator. Nah, yang paling saya inget ya, waktu mau sahur, waktu itu saya nunggu di depan pintunya mbah Tjip di luar. Tiba-tiba, mbah Tjip keluar dari kamar bawa kertas, terus habis itu dia ngasih kertas ke saya. Dia bilang, mas, ini saya titip nomer anak saya, kalau saya kenapa-napa, tolong hubungi anak saya. Itu kan enggak terduga banget ya," bebernya.

"Terus, saya habis sahur itu kan sempat pergi keluar dulu. Eh, pas balik itu udah ada bendera putih di gang, kan saya jadi kaget, deg-degan. Waduh, ini kok ada bendera putih? Jangan-jangan mbah Tjip meninggal. Waktu itu saya udah enggak karuan perasaannya. Terus, pas sampai di kosan, ternyata yang meninggal itu tetangganya mbah Tjip, dan mbah Tjip malah yang nulisin nisannya. Hehe, leganya. Itu sih yang paling keinget banget," kenang Catur.


Foto: Hanni Prameswari

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler