Refleksi Insan Perfilman Bandung Jelang Hari Film Nasional

Bandung - TemanBaik, tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional. Jika kita melihat kalender sejenak, tanggal itu hanya tinggal beberapa hari lagi dari sekarang. Berbicara soal industri film, Kota Bandung tak bisa dipisahkan dari kegiatan ini. Dari mulai latar hingga pelaku perfilman Tanah Air, tak sedikit yang beririsan dengan Bandung. Lalu, seperti apa sih refleksi insan perfilman Bandung terhadap Hari Film Nasional?

Beritabaik.id punya kesempatan untuk berbincang dengan Ketua Bandung Film Commission, Sofyana Ali Bindiar. Menurutnya, Bandung adalah salah satu tempat lahirnya beberapa sineas sampai produk film yang dikenal luas sampai skala Nasional hingga Internasional.

“Kita melihat bahwa banyak potensi yang bisa dikembangkan dari Kota Bandung ini. Khususnya untuk regenerasi para sineas ya,” ujar Ali.

Keberadaan Bandung Film Commission ini sendiri berawal saat entitas mereka masih bernama Bandung Film Council. Aktivasi komunitas industri ini berangkat dari pemikiran bahwa perlu adanya tatanan agar saat produksi film dilakukan di Bandung, sumber daya yang ada didalamnya juga ikut terangkat. Hal itu mengacu pada seringnya aktivitas perfilman berlangsung di kota ini.

Lebih jauh lagi, Ali menyebutkan kehadiran Bandung Film Commission ini bertujuan agar terciptanya ekosistem yang sehat untuk dunia perfilman di Bandung. Upaya perwujudan ekosistem perfilman yang sehat ini adalah bentuk refleksi bagi Bandung Film Commission dalam menyikapi Hari Film Nasional.

Upaya mewujudkan ekosistem perfilman itu secara nyata beberapa kali dilakukan oleh Bandung Film Commission. Salah satunya melalui acara Simkuring (Sinema Kuriling) yang digelar pada Desember 2019 silam. Pemutaran film dengan konsep layar tancep itu digelar di Jalan Sekepanjang 2 Cikutra, Bandung dan mampu membius warga untuk mengapresiasi film yang ditayangkan. Mengingat malam tersebut, setidaknya ada lima film pendek kreasi warga dan komunitas film di Bandung yang diputar.

Mengenai kegiatan tersebut, Ali menyebutkan, untuk membangun ekosistem perfilman di Bandung bisa dimulai dari menyediakan ruang dan tontonan film untuk masyarakat agar lebih mencintai film.  Lanjutnya, Ali berharap dengan berkembangnya ekosistem perfilman di Bandung, nantinya sumber daya perfilman dari Bandung tak perlu lagi meninggalkan Bandung untuk dapat berkarya. Hal tersebut mengacu pada pengamatannya bahwa banyak insan perfilman di Bandung yang harus hijrah ke beberapa kota seperti Jakarta, misalnya, untuk berkarya. Padahal, di Bandung sendiri sudah tersedia infrastruktur yang mumpuni untuk membuat karya sinema.

Untuk mendukung gagasannya dalam memajukan ekosistem perfilman di Bandung, Ali berkolaborasi dengan otoritas terkait seperti Pemerintah Kota dan beberapa persatuan hotel dan pariwisata guna mendapat banyak daftar lokasi syuting yang bisa dimanfaatkan para sineas, khususnya dari kota Bandung.

Festival Film Sebagai Tolak Ukur

Hadirnya ragam festival film di Bandung ditanggapi positif oleh Ali. Menurutnya, perlu ada tolak ukur untuk melihat bagaimana kualitas produk film dari Bandung. Namun yang menjadi pekerjaan rumahnya saat ini adalah menyortir festival film yang belakangan ini menjamur, agar hadirnya festival film tak sekadar acara seremoni belaka, namun bisa memberi nilai positif terhadap upaya perkembangan ekosistem perfilman itu sendiri.

“Supaya lebih jelas arah dan tujuannya festival film ini dibikin apa sih. Kami sih enggak berharap banyak festival film digelar kalau tujuannya enggak jelas,” tandasnya.

Ia juga menilai saat ini karya-karya sineas Bandung sudah siap bertarung di kancah internasional lewat festival-festival bertaraf internasional tersebut. Bukti nyatanya adalah saat Bandung Film Commission berkesempatan menggelar festival internasional bekerjasama dengan Kota Santos di Brazil pada tahun 2017. Keberadaan Bandung sebagai bagian dari Unesco Creative Cities Network dan keinginan Santos untuk menggandeng Bandung dalam menggelar festival film di 2 kota ini pada akhirnya menjadi refleksi antar kedua kota tersebut. Mulai dari ekosistem perfilmannya, hingga kondisi di Negara keduanya tersebut.

Sebagai pamungkas, Ali menyebutkan momen Hari Film Nasional tak hanya dimaknai sebagai seremonial saja, namun juga menjadi cambuk agar kualitas dan kuantitas perfilman di Tanah Air harus meningkat. Kualitas yang ditekankan Ali tak hanya meyoroti sajian visual dan audio yang bagus atau megah saja, melainkan bagaimana film dari Indonesia itu dapat merepresentasikan Indonesia itu sendiri.

“Yang jelas bisa menyuarakan apa sih yang terjadi di Indonesia ke dalam ‘adonan’ materi audio-visual yang nyaman ditonton,” pungkasnya.

Saat ini, berbagai kegiatan di Bandung Film Commission seperti workshop, pemutaran film sampai syuting dihentikan sementara guna mendukung gerakan #DiRumahAja. Adapun beberapa kegiatan yang bersifat worksop, beberapa dialihkan ke media daring.

TemanBaik, kalau refleksimu sendiri sebagai penikmat film di Hari Film Nasional 2020 apa?


Foto: Dok. Bandung Film Commission












Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler