Dinamika Perjalanan Pulang dalam Film 'Mudik'

Bandung - Perjalanan pulang ke rumah tidak selalu berjalan mulus. Ada saja hal baru yang didapat dari sebuah kepulangan. Hal tersebut yang kemudian disajikan dalam film 'Mudik'.

Film ini diluncurkan sebulan lalu, pada akhir Agustus 2020 lewat layanan streaming Mola TV. Beritabaik.id punya kesempatan untuk berbincang langsung dengan sutradara film mudik, Adriyanto Dewo. Menurutnya, film 'Mudik' ini merupakan interpretasi terhadap tradisi yang sudah berlangsung lama di Indonesia. Dari perjalanan pulang ke rumah ini, ia merasa ada sekelumit cerita yang menarik untuk diangkat.

Membahas ceritanya, 'Mudik' mengisahkan sepasang suami-istri yaitu Firman (Ibnu Jamil) dan Aida (Putri Ayudya) yang hendak meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta yang merupakan kampung halaman Firman. Di tengah perjalanan, terjadi sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa seorang pria, yang mana pria tersebut adalah suami dari Santi (diperankan oleh Asmara Abigail).

Perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta yang idealnya bisa ditempuh dalam kurun waktu delapan hingga sepuluh jam lewat jalur darat pun harus melalui proses yang bertele-tele. Sebab, proses pemakaman korban kecelakaan banyak menimbulkan drama dan konflik. Menurut Adri selaku sutradara, konflik yang dibangun itu sejatinya memperkuat karakter utama Aida. Di film ini, Aida digambarkan sebagai orang yang suka memendam masalah sendiri.

Alur perjalanan Firman dan Aida dari Jakarta ke Yogyakarta nampak menggunakan jalur darat wilayah utara. Di sini, penonton yang pada mudik lebaran edisi 2020 tak dapat kesempatan untuk mudik karena alasan pandemi dapat bernostalgia dengan hal-hal yang identik dengan perjalanan mudik seperti adegan saat keduanya mampir ke rest area, makan di warung makan, hingga satu sama lain bergantian menyetir mobil.

"Dalam proses kreatif pembuatan film ini, saya coba mengangkat kisah di balik perjalanan mudik yang sebetulnya tradisi mudik ini udah ada sejak lama, ya. Nah, di balik perjalanan itu ada sekelumit kisah yang kayak dua sisi mata uang. Ada yang baik, ada yang buruk," terangnya.


                                                                                  Foto: Istimewa/dok. Adriyanto Dewo 

Baca Ini Juga Yuk: 'Serigala Terakhir' Akan Segera Hadir dalam Format Serial

Ia menambahkan, sejatinya mudik juga bisa dikaitkan dengan persoalan ekonomi. Dalam film ini, memang terselip unsur kesenjangan ekonomi antara masyarakat di pedesaan dan di kota besar. Bagian yang paling menohok dapat kita saksikan saat proses penyelesaian perkara kecelakaan yang dialami Aida dan Firman, yang kemudian merenggut nyawa Santi. Meski diakui Adri hal tersebut tidak bisa disamaratakan, namun ia tak menampik adanya ketakseimbangan lapangan pekerjaan di desa dan di kota besar. Sehingga sebagian orang dari desa harus merantau ke kota besar.

Konflik lain yang tersaji dalam film ini tentu jadi konflik yang cukup populer. Ya, asmara. Namun peliknya, konflik asmara ini disajikan oleh Firman dan Aida yang notabene sudah berumah tangga. Sedangkan ada pula Santi dan kehadiran Agus (diperankan oleh Yoga Pratama) pasca kematian suaminya. Dua konflik asmara di atas tentu punya tantangan sendiri untuk diselesaikan.

"Kisah percintaan adalah sesuatu yang dekat dengan penonton. Sehingga bumbu ini dilibatkan juga dalam film. Namun, tentu jadi hal berbeda karena konflik asmara yang tersaji adalah konflik asmara untuk orang-orang yang berumah tangga," ujar Adri.

Berbeda dengan karya Adri sebelumnya, yakni 'Tabula Rasa', film 'Mudik' punya proses perjalanan yang panjang dalam penulisan skripnya. Ia memulai proyek penulisan naskah pada tahun 2015 dan baru rampung pada 2018. Cabang konflik dari konflik inti yaitu kecelakaan yang dialami Aida dan Firman di tengah perjalanan disajikan begitu halus. Penonton akan banyak dikejutkan dengan temuan konflik baru di tiap alur ceritanya.

Meski tak secara eksplisit disebutkan oleh Adri, namun bila dicermati secara seksama, film ‘Mudik’ seolah menyajikan berbagai macam isu dalam jahitan ceritanya. Isu sosial, isu kemanusiaan, isu ekonomi, isu komunikasi keluarga dan ketahanan keluarga. Seluruhnya tersaji dan nampak nyata apabila kita menonton film ini.

Sebagai informasi tambahan, sebelum tayang di Indonesia, film 'Mudik' telah lebih sukses duluan di kancah internasional. Film hasil kerjasama Relate Films dan Lifelike Pictures ini mewakili Indonesia dalam 4th International Film Festival & Awards Macau (IFFAM) pada Desember 2019, dan CinemAsia Film Festival pada Maret 2020 silam. Rencananya, film ini akan tayang pada bulan April 2020 di bioskop. Namun, terpaan pandemi yang mengakibatkan kegiatan sinema di bioskop harus terhenti menyebabkan film ini akhirnya tayang melalui platform digital. Kendati begitu, kita masih bisa menikmati tayangan dan alur cerita menarik ini dengan tetap bertahan #DiRumahAja.

"Film ini akan mudah dimengerti apabila disaksikan oleh orang Indonesia. Karena toh tradisi mudik kan hanya ada di Indonesia, ya. Ada sesuatu yang bisa dibilang menggantung, dan di sini saya sebagai pembuat film lebih menyerahkan kepada penonton. Biarkan mereka punya persepsi dan interpretasi mengenai film ini," pungkasnya.

TemanBaik, adakah di antara kamu yang sudah menonton film ini? Bagian film manakah yang jadi favoritmu?

Foto: dok. Lifelike Picture


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler