Menyingkap Kesadaran Magis Lewat Esai Sinema 'Ghost Like Us'

Bandung - Ada pameran seni keren dari Komunitas Salihara Art Center nih, TemanBaik. Bertajuk 'Universal Iteration', pameran yang digelar Mei hingga November 2021 itu saat ini menampilkan esai sinematik 'Ghost Like Us' karya Riar Rizaldi.

Karya ini bisa diakses dan diapresiasi terbuka di situs https://galeri.salihara.org. Dalam karyanya, Riar menyajikan esai sinematik pendek tentang perubahan politik-ekonomi dan teknologi yang mengubah bagaimana sinema horor Indonesia sejak 1970-an. Melalui esai sinema itu pula, ia coba menyingkap kesadaran magis pada masyarakat Indonesia.

Sebagai upaya mengkaji implikasi kultural dan politik dalam pendekatan pedesaan terhadap sinema horor di Indonesia, 'Ghost Like Us' menawarkan pendekatan essayistic yang mengkaji dinamika pedesaan-perkotaan dalam sinema horor dari rezim Orde Baru hingga munculnya jenis film horor terdekonstruksi yang ditemukan di gaya kino-pravda seperti Misteri Bondowoso.

Berdasarkan kajian itu, film esai ini mengajukan pertanyaan terkenal dengan ungkapan Thomas Elsaesser, yang berbunyi: 'kapan dan di mana sinema? menurut relasi antara hauntology (lakuran dari haunting dan ontology), otoritas-otonomi, dan aparatus sinematik.

Baca Ini Juga Yuk: 'Jagat Arwah' jadi Film Horor Pertama Visinema Pictures

Oh ya, karya ini juga masuk sebagai kelanjutan perhelatan Universal Iteration oleh Komunitas Salihara Art Center. Terkait hal ini, Bob Edrian selaku kurator pameran menyebut 'Ghost Like Us' sebagai representasi spektrum karya seni media yang tidak hanya mengangkat ragam isu dan narasi, tetapi juga memantik pembicaraan terkait teknologi dan kesadaran internet itu sendiri.

“Pemanfaatan teknologi internet hari ini (ditambah dengan kemungkinan akselerasi situasi pandemi COVID-19) membawa aktivitas manusia ke dalam pelebaran ruang dan jejaring yang semakin kompleks. Universal Iteration menawarkan pengalaman mengapresiasi karya-karya seni media melalui layar atau gawai yang terkoneksi internet,” ujar Bob.

Dalam Ghost Like Us, nuansa mistik dalam penggambaran hantu (yang disebut mengganggu) merupakan sebuah alternatif penaklukan kuasa dan pusat. Bagaimana film-film horor Indonesia yang diproduksi dalam setiap dekade tidak hanya merepresentasikan perkembangan artistik dan teknologi media gambar bergerak, tetapi juga menandai pergeseran pemikiran dan situasi sosial-politik.

Selain itu, esai sinematis ini menampilkan refleksi puitis horor, ideologi, evolusi sinema, dan pemikiran sinematik dalam memahami lanskap teknologi media saat ini di Indonesia dan Asia. Sebagai informasi, 'Ghost Like Us' adalah bagian dari Monographs, sebuah rangkaian esai terbaru tentang sinema Asia yang dikumpulkan oleh Asian Film Archive (AFA).

Baca Ini Juga Yuk: 'Jejak Inspirasi', Dokumenter 47 Tahun Perjalanan Teater Keliling

Secara keseluruhan, karya-karya Riar Rizaldi berfokus pada hubungan antara kapital dan teknologi, ekstraktivisme, materialitas, dan fiksi teoritis. Ia kerap mengeksplorasi hubungan manusia dan teknologi, media dan elektronik konsumer, serta sirkulasi citra dan intervensi jaringan. Lewat karya-karyanya, Riar mempertanyakan gagasan akan temporalitas, politik citra, fiksi-teori, virtualitas, dan konsekuensi dari perkembangan teknologi.

Sedikit membahas Universal Iteration, sejak dimulai Mei 2021, ajang ini telah menampilkan karya-karya seni yang sepenuhnya diproduksi dan ditujukan untuk diapresiasi para peminat seni secara daring. Pameran virtual ini mengajak kita menikmati pengalaman baru dalam mengapresiasi seni rupa berbasis digital.

Pameran ini juga telah menampilkan karya-karya Blanco Benz Atelier, Natasha Tontey, dan Farhanaz Rupaidha. Dengan presentasi karya per tiga minggu, Universal Iteration masih akan berlanjut hingga November 2021 mendatang.


Foto: Istimewa/Dokumentasi Komunitas Salihara Arts Center


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler