Sesama Ibu Sebaiknya Saling Dukung, Jangan Mom-Shaming!

Bandung - Setiap orang memiliki pola asuh yang berbeda-beda perihal mengurus anak. Hal ini memungkinkan orang tua lainnya untuk melemparkan komentar pedas. Perilaku ini dinamakan mom-shaming.

Mom-shaming sama halnya dengan bullying yang kerap dilakukan seseorang untuk merendahkan orang lain karena perbedaan pola asuh yang diterapkan kepada anak. Perilaku ini biasanya terjadi berupa sindiran atau komentar berbau negatif yang dilakukan secara lisan maupun online, seperti cyberbullying.

Di lingkungan keluarga pun tak jarang mendapati perilaku mom-shaming, seperti halnya perdebatan dengan orang tua atau mertua mengenai pola asuh sang cucu. Tak jarang nasihatnya malah membuat risih, lalu terjadi perdebatan akan hal tersebut. Jangan terlalu menganggap pusing, kamu enggak sendirian, kok, menghadapi fenomena mom-shaming ini.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh C.S. Mott Children’s Hospital University of Michigan, Amerika Serikat terhadap 475 Ibu dengan balita, 37 persen ibu mengakui ibu atau ayah kandung mereka menjadi pelaku mom-shaming. Hal-hal yang menjadi sasaran pelaku mom-shaming sebagian besar mengenai disiplin anak, nutrisi makanan, menyusui versus susu formula, hingga perawatan anak.

Para Ibu juga sebaiknya pintar-pintar mengelola emosi dan pikiran, karena mom-shaming dapat merusak kondisi psikologis. Apalagi jika yang menjadi sasaran adalah ibu muda yang baru saja memiliki anak.

Jadi, alangkah lebih baik untuk tidak mudah berpikiran negatif akan komentar buruk orang lain. Hal itu bisa membuat kamu menjadi tertekan dan merasa bersalah bila terlalu memikirkannya.

Perbanyaklah wawasan mengenai parenting. Ibu yang pintar akan menghasilkan anak yang berkualitas dan mampu bersaing di lingkungan sekitar. Memang sih, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tapi, kita bisa terus belajar untuk memberdayakan diri agar menjadi orang tua yang lebih baik lagi.


Sumber foto: Unsplash.com


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler