Kisah-kisah Pendewasaan dalam 'Lima Cerita' Karya Desi Anwar

Jakarta - Desi Anwar yang dikenal sebagai jurnalis senior, awal Maret ini kembali meluncurkan buku terbarunya yang berjudul "Lima Cerita". Buku ke-limanya ini, merupakan gabungan dari lima cerita pendek (cerpen) yang memiliki tema cerita berbeda.

Berbeda dengan buku-buku sebelumnya yang bergenre non-fiksi dan lebih bertujuan sebagai perenungan hidup, namun "Lima Cerita" memiliki genre fiksi. Buku ini merupakan edisi bahasa Indonesia dari buku milik Desi yang lain, yakni "Growing Pains" yang telah diterbitkan pada Juli 2018 lalu.

Dalam peluncuran buku yang diadakan di Aksara, Kemang, Jakarta Selatan ini, Desi mengungkapkan pendapatnya tentang cerita fiksi. "Fiksi? Karena menurut saya, hidup ini, kecuali sekarang atau present, yang lain seperti masa lampau adalah memori. Sedangkan, besok, lusa, minggu depan dinamakan imajinasi. Yang disebut realitas itu terjadi sekarang, apapun yang kita ingat dan yang kita tulis itu adalah sebuah cerita, karena tidak akan bisa persis kita mengingat sesuatu yang terjadi. Saya percaya, kita terdiri dari fiksi-fiksi yang kita buat atau ciptakan dalam imajinasi kita," ujarnya.

Wanita berumur 56 tahun ini mengaku bahwa inspirasinya dalam menulis buku ini, adalah karena adanya keinginan untuk memahami kelima karakter yang ada dalam bukunya, kenapa ini bisa terjadi, apa yang dapat dipelajari, dan bagaimana cara untuk melampauinya. Selain itu, menulis menurutnya juga merupakan sebuah bentuk self healing paling mudah yang dapat dilakukan.

Buku "Lima Cerita" yang mengisahkan lima kehidupan yang berbeda-beda ini, Desi mengeksplorasi perasaan-perasaan menyakitkan selama proses tumbuh dewasa. Mulai dari kerentanan emosi manusia, serta tantangan-tantangan dalam belajar melayari kompleksitas kehidupan sambil berusaha memahami arti di balik itu semua.

Pada buku ini, terdapat lima karakter, yakni seorang wanita yang dalam hidupnya tidak menyangka ia akan kehilangan orang yang disayang, namun kemudian ia harus berhadapan dengan kematian ayahnya yang tidak terduga. Kemudian, ada Djuna yang sedang mempelajari tali kedewasaan dari panutannya.

Lalu kisah seorang remaja yang tertekan dengan ujian di sekolah dan memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya, Adela yang menemukan bahwa kepedihan cinta jauh lebih rumit dari yang dia bayangkan, dan terakhir tokoh May yang mencoba memahami peran ibu dalam hidupnya.

"Lima Cerita" merupakan sebuah buku yang mengisahkan tentang proses pendewasaan seseorang. Ketika kita ingin memahami sesuatu ada hal-hal atau fase di mana kita kurang mampu memahami sesuatu, misalnya seperti saat masih kecil. Namun, ketika dewasa terdapat kejadian yang dilalui dan membuat perasaan menjadi gamang, misalnya tentang kehilangan dan lalu menjadikan itu sebagai tantangan hidup. Kemudian setelah melewati fase itu, baru bisa mengerti apa makna hidup.

Kelima karakter yang terdapat dalam "Lima Cerita", merupakan orang-orang yang rapuh. Setiap karakter pada buku ini, dengan caranya masing-masing, menyadari bahwa untuk dapat memahami dunia ini dan menghadapi realitas yang membingungkan, pertama-tama mereka harus merengkuh pergolakan batinnya terlebih dahulu, untuk kemudian berdamai dengan kerapuhannya serta mengizinkan semesta bekerja dengan cara yang tak terduga. "Kuncinya adalah menerima dan melepaskan," kata Desi.

Foto: Dokumentasi pribadi

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler