Ajarkan 3 Kebisaaan Ini Pada Anak Termasuk Pendidikan Seks Loh!

Bandung - Isu pendidikan seks pada anak saat ini makin sering digaungkan. Bukan tanpa sebab, karena seks pada usia dini ini menjadi masalah yang serius. Sebagai orang tua, kita bisa loh menanamkan kebiasaan-kebiasaan sederhana yang menjadi fondasi penting bagi mereka menilai seks di kemudian hari.

Menurut  peneliti psikologi gender dari Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia Hani Yuliandrasari ada beberapa kebiasaan sederhana yang harus dilakukan supaya anak-anak tak memandang tabu seks sehingga di kemudian hari.

Apa saja yang bisa kita lakukan?

1. Hindari Kata Ganti untuk Alat Kelamin
Selama ini masyarakat kita terlalu memandang tabu urusan seks. Sehingga alat kemaluan pun dipakai kata pengganti yang dinilai lebih 'halus'. Misalnya seperti menyebut burung untuk pengganti penis. Jika ada yang menyebut nama kemaluan gender secara gamblang malah dinilai tidak sopan. Bahkan tak jarang ada orang tua yang memarahi anak saat menyebutkan penis atau vagina padahal dalam konteks anak penasaran atau ingin tahu.

"Sebutkan saja nama kelamin yang sebenarnya. Muka kita juga biasa saja ketika mengatakannya, kalau anak melihat orang tuanya malu menyebutkannya, akan tertanam bahwa sesuatu yang berhubungan dengan kelaminnya itu sesuatu yang memalukan. Sehingga jika terjadi apa-apa dengan kemaluannya, misalnya dilecehkan, dia pun malu untuk menceritakannya," ujar Hani.

2. Bicarakan Seks Sebagai Obrolan Santai
Maraknya seks usia dini salah satunya dipicu karena anak usia remaja yang penasaran dengan aktivitas seks. Mereka mencederung mencari tahu kemudian mencoba-coba karena penasaran. Padahal akibat seks dilakukan di usia dini banyak buruknya.

Untuk mencegahnya, sebaiknya anak-anak dibiasakan membicarakan segala tentang seks bersama keluarga. Jangan lagi merasa jika obrolan tentang seks adalah sesuatu yang tabu dan tidak pantas dibicarakan.

"Ini berbahaya karena banyak korban kekerasan seksual yang besar dalam keluarga yang tabu berbicara tentang seks," ujar Hani.

Justru kita harus menjadikan obrolan seks sebagai obrolan ringan dan santai. Sehingga anak bisa dengan terbuka menanyakankan apa saja tentang seks yang ingin diketahuinya dengan cara yang enak. Sesederhana bagaimana ibunya bisa hamil dan melahirkannya ke dunia. Jelaskan saja sesuai usia dan porsinya. 

3. Ajarkan Privasi
Penting untuk mengajarkan privasi pada anak. Enggak hanya privasi kepemilikan barang namun juga privasi tubuhnya. Ajarkan anak, bagian tubuh mana yang bisa dilihat dan dipegang oleh orang lain. Sebutkan secara detail siapa dan boleh pegang apa. Misalnya orang tua atau dokter boleh melihat bagian penis atau vaginanya saat memeriksa saat ada yang sakit, diluar itu dilarang melihat apalagi memegangnya. Begitu juga dengan anggota tubuh lainnya yang penting

Ajarkan juga cara untuk menolak jika ada temannya atau orang lain yang melakukan pemaksaan saat memegang bagian tubuhnya. mulai dari penolakan halus hingga pembelaan diri dengan mendorong atau berteriak jika sudah sampai pada tahap yang membahayakan.


Foto ilustrasi Unsplash.com
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler