Sering Dengar Anestesi Tapi Enggak Paham, Ini Penjelasannya

Bandung - TemanBaik mungkin sudah sering mendengar istilah anestesi dalam dunia kedokteran. Umumnya, orang-orang lebih mengenal istilah ini dengan sebutan bius. Sedangkan orang yang ahli dalam anestesi ini disebut dokter spesialis anestesi.

"Masyarakat umum tahunya doktes anestesi itu ahli bius atau dokter bius," kata dokter spesialis anestesi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dr. Dodi Tavianto, S.p.An(K) kepada BeritaBaik.id.

Dokter anestesi biasanya sangat diperlukan dalam proses operasi. Tapi, saat ini dokter anestesi juga sering bertugas di luar kamar operasi, mulai dari ruang rawat intensif hingga instalasi gawat darurat (IGD).

Anestesi akan membuat pasien tidak merasakan sakit saat mendapatkan proses medis, terutama operasi. Bukan sekadar membuat pasien 'pingsan' atau mati rasa, ada fungsi organ tubuh yang harus tetap terjaga. Sehingga, cukup rumit untuk menentukan obat yang harus dipakai dalam proses anestesi.

"Tantangan terbesarnya, setelah anestesi pasien enggak bangun lagi (meninggal)," ungkap Dodi.

Kenapa pasien bisa meninggal setelah anestesi dan operasi? Selain kegagalan dalam proses operasi, anestesi yang tidak tepat justru bisa membuat organ tubuh tidak berfungsi dengan baik. Dalam kasus tertentu, anestesi juga bisa menimbulkan cacat, misalnya pada otak.

Baca Ini Juga Yuk: Kepala IGD RSHS Berbagi Kisah 29 Tahun Jalani Profesi Dokter

Dosis anestesi sendiri harus dihitung dengan baik, salah satunya setelah mengukur tinggi dan berat badan. Dokter juga harus berusaha mencari obat anestesi yang tepat agar tidak mengakibatkan reaksi alergi. Jika reaksi alerginya berlebihan, organ tubuh bisa saja terganggu fungsinya. Dalam kasus yang parah, ujungnya bisa menimbulkan pasien meninggal.

"Dalam anestesi itu kita bisa pakai banyak obat. Bisa saja salah satu obat yang dimasukkan itu menimbulkan reaksi alergi," jelas Dodi.

Karena itu, dokter spesialis anestesi tidak bisa begitu saja pergi setelah membius pasien. Yang bersangkutan harus memantau kondisi pasien secara intensif. Sehingga, saat terjadi reaksi alergi atau dampak negatif lainnya, pertolongan bisa diberikan dengan segera.

Dodi mengatakan, risiko anestesi berbeda dengan tindakan operasi. Istilahnya, jika dalam operasi terjadi salah potong, maka masih bisa diperbaiki. Sedangkan pada anestesi, risiko ada tiga, yaitu berjalan lancar, cacat, atau meninggal.

Anestesi atau pembiusan sendiri secara umum terbagi dua, yaitu bius total dan bius lokal. Pada pembiusan total, pasien akan dibuat tidak sadar atau seolah-olah tertidur. Sedangkan pada bius lokal pasien hanya dibuat mati rasa pada area tubuh yang akan mendapat penanganan medis atau operasi.


Foto: Unsplash

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler