'Irama Sunyi', Ruang Kontemplasi Nunung Rieta

Yogyakarta - Belum lama ini, penyair Nunung Rieta baru menerbitkan buku puisi terkininya yang berjudul 'Irama Sunyi'. Wanita kelahiran Yogyakarta, 3 Maret 1976 itu kemudian merayakannya dengan menggelar sebuah acara pentas dan peluncuran buku 'Irama Sunyi' pada Kamis (16/1) malam di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto No.2, Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta.

Acara pentas dan peluncuran buku 'Irama Sunyi' dimulai sejak jam 8 malam dan diisi dengan berbagai apresiasi puisi, contohnya pembacaan puisi, musikalisasi puisi, serta pantomime. Para penampil yang ikut memeriahkan acara tersebut, di antaranya Landung Simatupang, Gendhis Gandhes, Tossa Santosa, Maria Widy Aryani, Satrio W, Totok Buchori, Sugenyi, Ende Riza, Sri Yuliati Mukhammad, Krishna Mihardja, serta Nanik Indarti. Acara ditutup dengan diskusi yang diisi oleh Sunardian Wirodono dan Ahmad Zamzuri yang berakhir hingga jam setengah 11 malam.

Sebelum buku 'Irama Sunyi' dibuat, puisi-puisi gubahan wanita tamatan SMKI Jurusan Teater ini memang telah banyak dimuat dalam berbagai antologi puisi, yaitu Antologi Puisi 'Senja Bersastra di Malioboro' (2017), Antologi Puisi 'Pendakian' Dewan Kesenian Tegal (2018), Antologi Puisi Paguyuban Teater Bantul (2018), Antologi Puisi 'Negeri Sontoloyo' (2019), dan Antologi Puisi Banjarbaru Rainy Day Litfest (2019).

Baca Ini Juga Yuk: Ajak Kenali Diri Sendiri, Sophie Navita Hadirkan Buku Kedua

Buku puisi 'Irama Sunyi' karya Nunung Rieta merangkum 56 buah puisi dan 16 cerita mini yang ditulisnya dalam kurun waktu 2017 – 2019. Puisi-puisinya lebih banyak mengungkap dunia luar dan alam yang mengemuka di sekelilingnya, termasuk serangkaian perenungan yang menarik untuk disimak.

'Irama Sunyi' berkisah tentang seorang bocah yang berbicara kepada Tuhan, serta Tuhan dalam sebuah ruang yang diciptakannya, sehingga ia bisa berbicara tentang apa saja. Pembaca akan menemukan puisi-puisi lirih yang merespon berbagai hal di dalam dan luar dirinya. Beberapa di antaranya bertutur tentang seluk-beluk kota Yogyakarta, seperti kenangan tentang jalan Gondomanan di mana dirinya teringat bau sangit kue serabi Simbah.

Menyimak puisi-puisi di dalam buku 'Irama Sunyi', pembaca seperti menemukan lantunan irama yang membangkitkan imaji serta penghayatan rasa atas apa saja. Nunung Rieta bak mengajak pembacanya untuk berkontemplasi dalam ruang-ruang perenungan terdalamnya.

Nunung Rieta juga berkolaborasi dengan teman-teman perupa yang menyumbangkan ilustrasinya di dalam buku ini, seperti Bambang Herras, Bonaventura Gunawan, Totok Buchori, Budi Ubrux, Melodia, Nevy Kiai Kanjeng, Sito Pati. Sugiyo Dwiarso, Susilo Budi Purwanto, Ocong Soeroso, dan Bege.

“Saya bikin buku ini mengalir aja sih. Tadinya enggak punya rencana untuk bikin buku sendiri. Tapi, ternyata setelah saya kumpulkan, kok banyak juga ya. Jadi, saya pikir sayang aja kalo enggak dijadikan buku. Siapa tahu nanti bisa terapresiasi dengan baik dan menjadi semacam monumen buat kehidupan saya sendiri,” tutur Nunung Rieta kepada BeritaBaik dalam sebuah wawancara singkat.

Kemudian, Nunung Rieta mengungkapkan bahwa banyak sekali peristiwa yang membuatnya terinspirasi untuk menulis karya-karya di dalam buku 'Irama Sunyi'. Salah satunya latar belakang di balik pembuatan puisi 'Perempuan Sunyi' yang ditulisnya pada 20 April tahun 2019. “Itu saya buat ketika saya diajak seorang teman untuk berproses di sebuah tempat lokalisasi di daerah Yogyakarta. Saya waktu itu sedang membuat semacam workshop teater, saya diminta melakukan pendampingan di sana. Setelah wawancara dengan beberapa mbak-mbak yang tinggal di sana, ternyata banyak sekali kisah-kisah pilu, sedih, dan miris yang saya dengar dari mereka. Lalu, tertulislah puisi itu,” bebernya.

Selain itu, ada juga karya dalam buku ini yang terinspirasi dari pengalaman ketika Nunung Rieta sedang mengadakan pentas keliling dengan teater Wanita Ngunandhika ke Medan dan Aceh. “Di Medan, waktu itu saya pikir seharian kok mendung terus ya? Ternyata, itu efek dari kebakaran hutan. Jadi, apapun yang saya rasakan, saya lihat, saya dengar, ketika di rumah bisa jadi perenungan saya, kalau tiba-tiba ingin saya tulis, ya tulis aja, gitu,” katanya.

Sebelum perbincangan kami berakhir, Nunung Rieta berpesan kepada pembaca. “Kita harus yakin dengan adanya Tuhan, karena tidak ada sesuatu yang bisa terjadi kalau tidak dengan kuasa Tuhan. Ada satu bagian dalam buku puisi ini yang saya ingin mengungkapkan bahwa Tuhan itu menciptakan tubuh manusia sudah sangat sempurna. Bahkan, apapun yang kita kira luput dari perhatian itu sangat bermanfaat bagi kita, contohnya bulu-bulu halus di hidung kita. Udara yang bermanfaat bagi kita bisa tersaring oleh bulu-bulu halus di hidung menjadi kotoran hidung. Kotoran hidung atau upil itu saya metaforkan sebagai sebuah permasalahan. Kita jangan sampai kalah oleh masalah, melainkan masalah itu yang harus kita singkirkan dari kehidupan kita,” pungkasnya.

Foto: dok. Hanni Prameswari


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler