Hati-hati! Menyebut Nama Orang Tua Termasuk Perundungan

Bandung - TemanBaik, belakangan ini di berbagai daerah mendadak marak aksi bullying alias perundungan, baik yang melibatkan sesama siswa hingga guru terhadap siswa. Tapi, kamu tahu enggak sih apa sebenarnya yang dimaksud perundungan?

"Kuncinya ada ketersinggungan, menyakitkan, baik secara fisik maupun non fisik. Jadi, apapun aktivitas yang akan menyakitkan anak, yang menimbulkan anak itu sakit hati, sakit badannya, ya itu termasuk bullying," kata Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM) Kota Bandung Irma Nuryani.

Aksi perundungan secara fisik biasanya bisa terlihat. Sebab, korban akan mengalami luka, memar, atau bahkan berdarah. Sedangkan perundungan secara non fisik bisa berupa penghinaan, ejekan, cibiran, sorakan, hingga tepuk tangan sebagai gestur ledekan.

Baca Ini Juga Yuk: Tiga Kebiasaan Sepele yang Justru Hasilkan Sampah

Tapi, perundungan fisik maupun non fisik jelas sangat berbahaya. Sebab, kondisi psikis korban akan terganggu, terpuruk, hingga membuat berbagai aktivitasnya tak berjalan seperti biasa.

"Yang fisik mungkin bisa kelihatan dengan babak belurnya anak. Tapi yang non fisik itu, tidak kelihatan, itu yang sangat berdampak luar biasa. Itu harus sama-sama kita hindari supaya anak-anak bisa berkembang sesuai dengan yang kita harapkan," jelas Irma.

Biasa di Zaman Dulu, Beda dengan Sekarang
Perundungan sendiri sebenarnya sudah ada sejak dulu. Bedanya, dulu tak ada istilah perundungan. Kalaupun anak melakukan perundungan terhadap anak lain, dulu hanya dipandang sebagai kenakan biasa khas anak-anak.

Tapi, saat ini kondisinya berbeda loh TemanBaik. Apa yang kamu alami dulu dan dianggap biasa saja, mungkin sekarang dirasakan sebagai sesuatu yang luar biasa menyakitkan.

Contohnya adalah memanggil seseorang dengan menyebut nama orang tuanya. Dulu, hal ini sudah kerap terjadi. Tapi, jika kamu mempunyai anak, beri tahu mereka jangan pernah memanggil nama anak lain dengan menyebut nama orang tuanya. Sebab, hal ini mungkin akan dirasa menyakitkan bagi anak yang dipanggil.

"Melecehkan (menyebut nama seseorang) dengan nama orang tuanya itu sudah masuk kategori bullying," ucap Irma.

Mengolok-olok pekerjaan orang tua anak lain, termasuk mengolok-olok pribadi anak lain, juga termasuk perundungan. Bahkan, menghina kekurangan fisik dan intelektual pun disebut perundungan.


                                                                       Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Apalagi jika perundungan disertai dengan aksi fisik, mulai dari memukul, menyentuh area tubuh, serta berbagai gestur lain, itu akan semakin membuat korban merasa tersakiti. Jadi, tanamkan pada anak batasan apa yang boleh dan tak boleh dilakukan kepada orang lain.

Intinya, ajarkan anak agar bisa berempati dan tak menyakiti perasaan orang lain, baik secara fisik maupun non fisik. Sehinga, sebelum melakukan sesuatu yang menyakitkan orang lain, anak akan berpikir lebih dulu bagaimana perasaannya jika mengalami hal serupa. Dengan begitu, anak akan berpikir dua kali melakukan perundungan terhadap orang lain.

"Memang luar biasa bullying itu. Yang menurut kita (dulu dianggap hal biasa) masa sih yang begitu disebut bullying," tuturnya.

"Itu karena sekarang sudah ada teori bermunculan, jadi mau enggak mau yang begitu (dulu dianggap biasa, sekarang) disebut bullying. Jadi, apapun yang dilakukan seseorang terhadap anak lain yang menimbulkan anak tersakiti, itu masuk bullying," papar Irma.

Foto: Ilustrasi Unsplash


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler