Langkah Mangle Mengejar Zaman Demi Lestarikan Bahasa Sunda

Bandung - Mangle dikenal sebagai salah satu majalah dengan format Bahasa Sunda. Selain perannya sebagai media, eksistensi majalah kelahiran 1957 ini kerap dikaitkan dengan upaya pelestarian bahasa ibu lewat media.

Namun dalam 62 tahun perjalanannya, Mangle menghadapi berbagai tantangan dan fase pasang surut. Di era ini, masuknya teknologi dan media daring menjadi tantangan bagi perusahaan media cetak untuk berinovasi atau mungkin beralih format. Apalagi untuk Mangle, yang dalam konteks ini selain menyebarkan informasi, namun juga melestarikan bahasa ibu.

                                                                                   Foto: dok. Facebook.com/Tatangono

Hal tersebut diakui salah satu eks Pimpinan Redaksi Mangle 2015-2017, Tatang Sumarsono. Kepada BeritaBaik, Tatang menyebutkan kondisi masyarakat hari ini dan dulu di masa keemasan media cetak sangat berbeda. Ia tak melihat sisi format cetak atau digital-nya, tetapi sampai atau tidaknya konten yang dibuat sebuah media ke pembacanya.

"Saya sangat dekat dengan Mangle. 1974 saya mulai nulis sebagai penulis lepas, lalu masuk jadi penulis tetap tahun 1984 sampai 1994," ujarnya di Jl. Ladrang No. 2, Selasa (18/2/2020).

Setelah keluar dari Mangle medio 1994, pengajar di Universitas Pasundan ini kemudian kembali ke Mangle pada 2015 untuk menjadi Pemimpin Redaksi. Ia juga menceritakan bagaimana perbedaan kondisi industri media era cetak dan digital. Mengingat peran Mangle yang tak sekadar media informasi, melainkan juga menyebarkan bahasa ibu ke berbagai kalangan, hal ini secara tak langsung menimbulkan pengaruh terhadap geliat tersebut.

Perihal bahasa ibu itu sendiri, Tatang menyoroti hadirnya Mangle sebagai upaya pelestarian Bahasa Sunda sebagai bahasa ibu masyarakat Jawa Barat dalam bentuk media. Menurutnya, bahasa ibu merupakan identitas bangsa yang harus dipertahankan.

"Budaya nasional itu dibentuk dari puncak-puncak budaya daerah. Jadi saya pikir budaya nasional itu akan kuat jika budaya-budaya daerah seperti Bahasa Ibu ini kuat," sambungnya.

Di sisi lain, ia merasa senang, karena Bahasa Sunda sebagai bahasa ibu untuk masyarakat Jawa Barat masih eksis sampai hari ini. Ia juga berpendapat, eksistensi bahasa ibu bisa dipupuk sejak di rumah, mulai menanamkannya dengan cara berkomunikasi dengan bahasa ibu di rumah.

Mengenai peran Majalah Mangle dalam menjaga bahasa ibu, Tatang menyoroti itu sebagai hal yang secara tak langsung namun pasti terjadi. Menurutnya, kendati prinsip dasar media cetak adalah menyebarkan informasi kepada masyarakat, akan tetapi dengan format bahasa yang digunakan Mangle, mau tidak mau akan ada perbedaan tersendiri.

Dalam konteks hari Bahasa Ibu Internasional, Tatang juga menekankan aplikasi pelestarian bahasa ibu jangan sampai berhenti sebatas pada selebrasi belaka. Akan luar biasa jika upaya pelestarian itu dilakukan berkesinambungan. Dilakukan secara natural dan mengalir.

Hadirnya teknologi dalam penyebaran informasi juga jadi salah satu pekerjaan rumah Mangle yang dianggap Tatang perlu segera dimaksimalkan. Hal itu dimaksudkan guna mempermudah akses kepada pembaca agar bisa mendapat asupan bacaan dalam format Bahasa Sunda.

"Peralihan media pasti harus kita kejar. Sebab kita tidak bisa melawan zaman, ya. Jadi itu akan jadi pekerjaan rumah ke depan," pungkasnya.

Sebagai informasi tambahan, tanggal 21 Februari 2020 diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Apakah TemanBaik masih menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa sehari-hari?

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler