Pentingnya Bersikap Bijak untuk Cegah Stunting

Bandung - TemanBaik, terutama kamu yang memiliki anak usia sekolah, sebaiknya kamu berpikir ulang ya dalam memberikan bekal makanan dengan asal-asalan. Sebab, jika kamu asal-asalan, si kecil akan berpotensi mengalami stunting.

Secara umum, stunting adalah kondisi seseorang mengalami kekurangan gizi. Salah satu akibatnya, anak memiliki proporsi tubuh yang berbeda dari anak seusianya, misalnya lebih pendek. Anak juga bisa terlihat lebih kurus. Bahkan, anak stunting akan mengalami penurunan tingkat kecerdasan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Rita Verita mengatakan stunting bisa dicegah kok. Tapi, perlu sikap bijak dari orang tua, terutama ibu sejak saat mengandung si kecil.

"Untuk mencegah stunting harus dilakukan sejak 1.000 hari pertama saat anak masih dalam kandungan sampai anak usia 2 tahun," kata Rita.

Sejak bayi masih dalam kandungan, ibu disarankan mengonsumsi berbagai makanan sehat dan tentunya bergizi. Sebab, asupan makanan itu akan jadi sumber makanan si kecil di dalam rahim.

"Karena itu, asupan gizi seimbang itu (untuk janin) sudah dibutuhkan sejak si ibu hamil," ungkap Rita.

Setelah si kecil lahir ke dunia, perjuangan ibu mencegah anaknya mengalami stunting tetap berlanjut. Asupan makanan bergizi harus dilakukan secara kontinyu dan konsisten, salah satunya pemberian ASI ekslusif. Begitu anak memasuki fase bisa memakan makanan selain ASI, makanan yang diberikan juga jangan sembarangan ya. Perhatikan betul nilai gizi dan kebutuhannya untuk si kecil.

Baca Ini Juga Yuk: Usia Ideal Membentuk Sifat Baik pada Anak

Kontrol dari orang tua sangat penting, terutama setelah anak melewati usia 1 tahun. Sebab, di usia itu, si kecil sudah bisa mengonsumsi berbagai jenis makanan. Makanan apa sih yang bagus untuk si kecil? Zaman sudah canggih kan TemanBaik? Kamu bisa membacanya di berbagai situs resmi dan terpercaya.

Usia 0-2 tahun sendiri adalah masa rawan di mana anak berpotensi mengalami stunting jika tak mendapat asupan gizi yang baik. Tapi, setelah anak melewati usia 2 tahun, asupan gizinya harus tetap diatur sedemikian rupa. Sebab, hal itu akan memengaruhi tumbuh kembang anak.

Porsi Makanan Bergizi Seimbang
Kamu mungkin bertanya-tanya seperti apa sih gizi yang seimbang itu. Sederhana kok jawabannya, kamu cukup membagi isi piring menjadi tiga bagian.

"1/3-nya nasi atau makanan pengganti nasi (misalnya kentang), 1/3-nya sayur, 1/3-nya lagi dibagi dua, masing-masing 1/6 buah-buahan dan 1/6 lauk-pauk," ucap Rita.

Masalahnya, tidak semua orang tua mau menghadirkan makanan sehat bergizi seimbang tersebut. Alasan utamanya biasanya karena kesibukan. Solusinya, orang tua melakukan cara instan dengan memberi makanan seadanya, misalnya nasi dengan sosis goreng, nasi dengan nugget, atau bahkan nasi dengan mie goreng instan.

Makanan seperti itu jelas bukan makanan bergizi untuk anak. Kuncinya, orang tua harus mau memaksakan diri menyajikan makanan bergizi. Jangan sampai alasan kesibukan membuat si kecil pada akhirnya mengalami stunting. Jika sudah terlanjur terjadi, orang tua akan menyesal, si anak pun jelas merasakan dampaknya secara langsung.

"Jika gizi kurang baik, itu juga akan berpengaruh pada saat dia remaja nanti," ungkap Rita.

Kenapa sih beralasan sibuk, apalagi jika ibu bekerja di luar rumah? Anak itu kan bagian dari tanggung jawab. Mereka butuh peran orang tua dalam pertumbuhannya. Jika alasannya waktu yang terbatas, siapkanlah masakan yang mudah untuk dibuat. Rita mencontohkan sayur yang dioseng misalnya. Pembuatannya enggak butuh waktu berjam-jam kok.

"Cuma oseng kangkung misalnya, itu sebentar kok, cuma beberapa menit, dan porsinya juga enggak usah banyak-banyak," jelas Rita.

Kuncinya tentu balik lagi kepada orang tua. Pikirkan pertumbuhan si kecil dan masa depannya. Jika kamu mau dan menyadari tanggung jawab, sesibuk apapun kamu pasti bisa melakukannya. Jadi, bijaklah sebagai orang tua untuk memberikan gizi terbaik bagi anak.

Foto: Ilustrasi Unsplash

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler