Sulitnya Mengenali Gejala DBD pada Bayi, Utamakan Antisipasi Ya!

Bandung - TemanBaik, jangan terlalu fokus pada isu seputar virus corona atau COVID-19 ya? Waspada sih boleh, tapi jangan hanya fokus untuk melakukan pencegahan terjangkit virus corona ya. Ada ancaman lain yang juga tak kalah berbahaya, yaitu demam berdarah dengue (DBD).

Mau tahu bukti bagaimana DBD ini berbahaya saat ini? Di Jawa Barat saja sejak awal Januari hingga pertengahan Maret 2020, sudah ada lebih dari 4.600 kasus DBD dan belasan orang di antaranya meninggal dunia.

Sudah tahu belum gejala awal jika kamu terjangkit DBD? Secara umum, gejalanya adalah tinggi di atas 40 derajat selsius, nyeri sendi dan otot lebih terasa, sakit di bawah belakang bola mata, nyeri perut, dan terkadang ada bintik-bintik merah.

Tapi, meski tanda di atas gejala ini umum, gejala di atas tergolong cukup sulit dideteksi pada bayi atau anak. Kenapa ya? Sebab, bayi atau anak-anak masih belum bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya.

"Bayi atau balita itu belum bisa mengatakan apa sakitnya tuh di mana atau apa yang mereka rasakan seperti apa," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Berli Hamdani kepada BeritaBaik.id.


Baca Ini Juga Yuk: Cara Tepat Simpan Sayuran di Kulkas Agar Tak Cepat Layu

Secara umum, gejala DBD yang paling mudah bisa diketahui adalah dari suhu tubuh yang akan panas atau demam. Tapi, pada bayi atau anak-anak justru gejalanya bisa saja berbeda. Di fase awal, bayi akan demam, tapi tidak dengan suhu yang tinggi di atas 40 derajat selsius.

"Kadang demamnya seperti adem-ayem saja, tapi tiba-tiba malamnya naik tinggi (suhu tubuhnya) dan kejang," ungkapnya.

Hal itu dikarenakan fungsi organ-organ tubuh pada bayi dan anak-anak belum sempurna. Sehingga, reaksi yang diperlihatkan kadang berbeda dengan orang dewasa. Hal itu ditambah mereka belum bisa mengungkapkan dengan jelas apa yang dirasakannya.

"Itu salah satu yang menyulitkan kita melakukan pemeriksaan, ini sebelah mana yang sakitnya. Karena cirinya itu kan demam yang tinggi sekali, ada nyeri di keala, bahkan nyeri di belakang bola mata. Kalau bayi dan balita mana bisa cerita itu," jelas Berli.

Penanganan Dini
Hal yang jadi masalah, banyak jenis penyakit yang gejala awalnya berupa demam. Tapi, kamu mungkin akan sulit membedakannya mana demam gejala DBD atau bukan. Jika terjadi pada bayi atau anak, langkah terbaik saat demam adalah segera mengompresnya.

Pemberian obat penurun panas juga diperbolehkan. Tapi, usahakan obat yang diberikan sesuai anjuran penggunaan ya. Tapi, ada hal lain yang tak kalah penting harus dilakukan.

"Catatannya, jangan dihentikan memberikan minum. Karena cairan yang masuk ke tubuh itu seringkali menolog. Minumnya tidak ada jarak, kalau masih minum, kasih aja. Kalau suka (minuman) yang manis, kasih yang manis. Kalau suka jus, kasih jus," ujar Berli.

Ia pun mengingatkan pentingnya melakukan langkah pencegahan agar tidak terjangkit DBD. Gerakan 3M, memelihara ikan cupang atau ikan kecil lainnya di tempat penampungan air, menaburkan serbuk abate, bersih-bersih seluruh area rumah, serta berbagai langkah lain untuk mencegah agar nyamuk tak masuk dan berkembang biak di lingkungan rumah.

Karena sedang marak pembahasan seputar virus corona, berbagai langkah di atas jangan sampai lupa kamu lakukan ya. Sebab, DBD jelas merupakan ancaman nyata, apalagi pada bayi dan anak-anak, yang paling fatal, DBD pada mereka bisa mengancam nyawa.

"Kalau demam berdarah yang terjadi pada anak dan bayi tentunya jauh lebih berbahaya daripada kepada orang dewasa. Karena kalau pada bayi dan anak jelas dia secara fungsi tubuh, belum memiliki fungsi tubuh yang sempurna. Jadi, begitu masuk kuman (virus DBD), maka tubuhnya seringkali mengalami semacam kekacauan sistem," jelas Berli.

Foto: Ilustrasi Freepik.com/jcom

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler