Ini Saran Psikolog Biar Kamu Enggak Stres Saat #DiRumahAja

Bandung - TemanBaik, enggak bisa dipungkiri pandemi virus corona atau COVID-19 yang terjadi saat ini membuat masyarakat dilanda kekhawatiran. Bahkan, sebagian di antaranya merasakan stres akibat adanya pembatasan aktivitas sosial, termasuk bekerja dan sekolah.

Menurut Erwin Fazrin, M.Psi., psikolog klinis di Klinik Kebidanan Harkel Bandung, hal wajar jika saat ini banyak masyarakat dilanda kekhawatiran. Sebab, virus corona memang berbahaya dan bisa menular pada siapapun.

Mereka yang saat ini menjalankan gerakan #DiRumahAja pun tak lepas dari stres. Sebab, mereka harus mengubah kebiasaannya selama ini. Jika biasanya aktivitas yang dilakukan lebih banyak dilakukan di luar rumah, kini justru melakukannya di rumah.

Sehingga, saat di rumah, seseorang harus menjalankan peran berbeda. Seorang pria misalnya, mereka harus menjalankan sebagai pekerja, suami, ayah atau anak, hingga sederet peran lainnya. Begitu juga dengan seorang perempuan yang memiliki banyak peran di saat kondisi seperti sekarang.

Tapi, ada beragam trik untuk melakukan manajemen stres yang bisa TemanBaik lakukan.

1. Berpikir Tenang

Ini jadi langkah pertama yang harus kamu lakukan. Di tengah bombardir pemberitaan tentang virus corona, alihkan pikiranmu untuk tidak berpikir 'what if' alias bagaimana jika. Misalnya, bagaimana jika saya terpapar corona, bagaimana keluarga saya, bagaimana masa depan saya.

Hal ini akan membuat kamu berada dalam kepanikan. Pikiran kamu juga akan berpikir secara 'liar' dan berujung semakin dilanda ketakutan. Jadi, usahakan jauhi berpikir seperti itu ya TemanBaik. "Yang harus ditanyakan pada diri sendiri adalah apa yang kita bisa lakukan saat ini? Misalnya, apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan diri sendiri dan keluarga," kata Erwin

Sebagai gambaran, yang bisa kamu lakukan saat ini adalah mengikuti gerakan #DiRumahAja, menjalankan pola hidup bersih dan sehat, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menyediakan hand sanitizer, menyemprotkan disinfektan di area rumah, serta berbagai langkah antisipatif lainnya.

2. Membagi Peran

Bagi kamu yang sedang mengikuti gerakan #DIRumahAja, kamu mungkin akan dilanda stres. Sebab, kamu tak terbiasa melakukannya. Tapi, kini harus melakukannya demi keselamatan serta kesehatan diri sendiri, keluarga, dan orang lain di luar sana.

Di rumah, kamu tentu merasakan hal berbeda untuk saat ini. Bagi laki-laki, ia harus menjalankan pekerjaannya, menjadi seorang ayah atau anak, bahkan menjadi suami dan sederet peran lainnya. Semuanya harus kamu jalankan di tempat dan waktu yang sama. Begitu juga dengan perempuan yang pasti memiliki berbagai peran.

Hal ini akan membuat kamu berpotensi mengalami stres. Sebab, hal ini memang tak mudah dijalani jika kamu selama ini lebih banyak beraktivitas di luar rumah. Karena itu, seisi rumah harus bisa membagi peran berdasarkan kesepakatan.

Sebagai contoh, seorang laki-laki menjalankan tugasnya untuk bekerja pada pukul 07.00-09.00 WIB. Selanjutnya, pukul 09.00-11.00 WIB, peran sebagai ayah dijalankan untuk mendampingi anak sekolah di rumah sesuai kebijakan saat ini. Pukul 12.00 WIB, semua keluarga bisa berkumpul untuk makan bersama. Setelah itu, berbagai peran dijalankan, bisa untuk kembali bekerja, menjalankan peran suami, atau peran lainnya. Begitu juga dengan perempuan.

Kuncinya, negosiasikan atau komunikasikan dengan baik pembagian peran ini. Sehingga, satu sama lain di dalam keluarga bisa mengerti dan saling mengisi. Misalnya ketika suami menjalankan pekerjaan, istri bisa mendampingi anak atau menjalankan tugasnya. "Betul, semua harus dilibatkan dalam pembagian peran. Sehingga nanti bisa saling bantu dan mengisi peran," jelas Erwin.

3. Alokasikan Me Time

Ini adalah hal yang jarang dibahas di tengah gerakan #DiRumahAja. Me time alias mengalokasikan waktu untuk menyenangkan diri sendiri adalah hal penting di tengah kondisi sekarang untuk mencegah stres.

Enggak perlu berpikir repot-repot atau pergi jauh dan butuh waktu lama kok. Lakukan saja kesenangan sederhana yang bisa dilakukan, misalnya mendengarkan musik, sekadar berselancar di dunia maya, ngopi, atau berbagai kegiatan sederhana lainnya yang bikin kamu tenang dan nyaman.

Jika di rumah kamu tinggal dengan beberapa orang, komunikasikan deh soal waktu me time ini. Sehingga, satu sama lain memiliki waktu untuk terhindar dari stres. Misalnya, jatah me time ayah pada malam hari sedangkan ibu pada siang hari. Atur-atur deh seenak dan sefleksibel mungkin.

"Me time itu kan sebenarnya adalah waktu yang memberikan kepuasan bagi kita. Kalaupun menurut kita waktu me time itu setengah jam cukup, ya itu cukup berarti. Balik lagi ke personal. Ini memang tantangannya bagi semua keluarga, jadi harus dikomunikasikan mau enggak mau," tutur Erwin.

4. Hindari Panic Buying

Di antara TemanBaik ada yang panic buying? Sebaiknya jangan ya. Hindari membeli berbagai barang kebutuhan secara berlebihan. Sebab, hal ini akan berdampak pada diri sendiri dan orang lain.

Bagi mereka yang memiliki keuangan terbatas, membeli sesuatu secara berlebihan tentu akan berpengaruh besar. Misalnya ketika sekarang memiliki uang, semuanya dibelanjakan untuk membeli berbagai kebutuhan dalam jumlah banyak. Itu karena dihantui rasa khawatir kelak barang-barang itu akan sulit didapat.

Hal ini bisa tanpa disadari menguras isi dompet dan ATM kamu. Ujung-ujungnya, barang akan menumpuk di rumah. Ketika uang sudah habis dan kebutuhan lain di depan mata sudah menanti, kamu akan stres karena uang sudah habis dibelanjakan. Jadi, usahakan belanja seperlunya saja ya. Apalagi sekarang banyak barang yang mendadak jadi mahal kan?

Di sisi lain, panic buying juga akan berdampak para orang lain. Mereka bisa saja tidak kebagian barang yang dibutuhkan karena diborong oleh kamu. Berpikir sosial menjadi langkah bijak. Membeli sesuatu dengan wajar agar orang lain juga bisa kebagian membelinya jadi solusi tepat.

5. Tangkal Hoaks dengan Bijak

TemanBaik sudah ada yang mendapatkan beragam berita, foto, bahkan video hoaks seputar virus corona? Saat ini, masyarakat seolah diuji untuk bisa menangkal hoaks. Begitu menerima informasi dalam bentuk apapun, jangan ditelan mentah-mentah ya. Sebab, hal itu bisa saja membuat kamu terjebak dalam kecemasan yang semakin besar.

Erwin pun menyarankan masyarakat untuk melakukan kroscek jika mendapatkan informasi. Carilah informasi dari sumber resmi atau media massa yang valid. Sebab, informasi saat ini berkembang dengan cepat dan mudah menyebar. Salah satunya melalui grup aplikasi percakapan.

Memang sih mungkin yang menyebarkan informasi berniat baik untuk ikut memberi informasi pada orang lain. Tapi, jika informasi yang disebarkan hoaks, yang terjadi justru kepanikan publik akan bertambah.

"Sekarang masa-masa di mana kroscek itu penting karena kita enggak bisa menghentikan arus informasi, misalnya masuk ke grup WhatsApp tanpa kita inginkan. Yang harus dilakukan adalah kroscek benar atau enggak informasinya (sebelum menelan informasinya)," jelas Erwin.

Foto: dokumentasi pribadi

    Belum Ada Komentar
    Baca Lainnya
    Berita Baik Terpopuler