Bingung Atur Keuangan di Kala Pandemi Covid? Yuk Pakai Skema Ini

Bandung - TemanBaik, pandemi global COVID-19 mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan. Salah satunya adalah aspek ekonomi. Bagaimana sih agar kondisi keuangan tetap terkendali di masa pandemi ini?

Beritabaik.id punya kesempatan untuk berbincang dengan Dira Illanoor yang merupakan Digital Marketing Strategist di Halofina. Menurut Dira, pandemi global COVID-19 mulai menerpa aspek ekonomi secara mikro. Oleh karenanya, kita harus mulai berbenah dari sekarang dengan cara mengelola ekonomi agar arus keuangan tetap dalam tren positif. Dalam mengelola keuangan di tengah pandemi, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Yuk kita simak!

Melakukan Pos Pengeluaran

Sebelum musim pandemi, pos pengeluaran sejatinya memang harus dimiliki oleh tiap orang. Dengan punya pos pengeluaran, uang yang didapat dari gaji bulanan tak akan meleset eksekusi pengeluarannya. Karena pandemi ini bertepatan dengan momentum Bulan Ramadan, Dira menyebutkan beberapa pos pengeluaran harus lebih dirinci lagi.

Sebut saja pengeluaran untuk berzakat dan membeli kebutuhan selama Ramadan yang kemudian ditambahkan pada kebutuhan dasar yang memang sudah ada di luar kebutuhan Ramadan. Belum lagi pengeluaran yang bersifat kewajiban seperti cicilan, misalnya.

Dira membagikan skema ideal untuk pos pengeluaran bulanan untuk individu maupun keluarga. Ia mencontohkan skema 40-30-30. Artinya, 40 persen dari penghasilanmu digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, 30 persen untuk biaya kewajiban, dan 30 persen untuk investasi. “Jadi kewajiban berupa utang, cicilan dan lain sebagainya jangan sampai melewati 30 persen dari penghasilan kita,” jelas Dira.

Menerapkan Skema Tambahkan - Kurangi - Hilangkan - Adakan

Nah, di musim pandemi seperti ini, skema ini penting loh. Perubahan pos pengeluaran yang merupakan dampak dari kebijakan social distancing tentu harus diatur dengan benar. Nah, bagaimana sih kita bisa menerapkan skema ini?

Katakanlah 10 persen dari penghasilanmu digunakan untuk biaya transportasi. Lalu jadikan angka 10 persen tersebut menjadi 100 persen. Kebijakan pembatasan sosial dan bekerja dari rumah tentu membuat pengeluaran transportmu tak 100 persen lagi. Katakanlah, kamu hanya menggunakan 20 hingga 30 persen uang transportmu dalam sebulan. Nah, sisa uang transport yang tak terpakai ini kamu bisa hilangkan, lalu tambahkan pada pos-pos yang dianggap perlu penambahan.

Tak hanya penambahan, sisa uang yang posnya dihilangkan tersebut bisa kamu alokasikan untuk melakukan pengeluaran yang sifatnya pengadaan. Misalnya, sebelum era pandemi, membeli pencuci tangan bukanlah kebutuhan untuk kita. Nah, karena hari ini sudah jadi kebutuhan yang wajib kita adakan, maka alokasi dana nya bisa menggunakan dana yang pos-nya dihilangkan tadi.

Pada praktiknya, skema ini akan disesuaikan pada kebutuhan TemanBaik sehari-hari.

Gunakan Dana Darurat

Dana darurat adalah investasi yang kanal penyimpanannya terpisah dan bisa kamu gunakan dalam situasi mendesak. Nah, di musim pandemi seperti ini, kamu bisa gunakan dana daruratmu untuk menyambung hidup.

Lebih jauh mengenai dana darurat, Dira menyebutkan idealnya dana darurat yang dimiliki seseorang berjumlah 3 hingga 12 bulan penghasilannya dalam sebulan.

Katakanlah, dalam sebulan kamu mempunyai penghasilan Rp.5.000.000, maka dana darurat yang harus kita miliki berkisar Rp.15.000.000 hingga Rp.60.000.000. Jumlah ini bergantung pada status kita, apakah kita masih hidup sendiri atau sudah berkeluarga. Dana darurat yang memenuhi satu tahun penghasilan kita akan membuat kita tenang sejenak, sembari mencari penghasilan baru di masa mendatang.

Bagi dan Prioritaskan Kebutuhan

Dalam masa pandemi, membagi kebutuhan ke dalam beberapa kategori lalu memprioritaskannya jadi salah satu hal yang bisa menyelamatkan keuangan kita. Dira menjabarkan ada 4 kategori kebutuhan yaitu kebutuhan mendesak, kurang mendesak, penting dan tak penting.

Dimulai dari yang paling mendesak, ialah kebutuhan dasar sehari-hari seperti makan dan minum harus kamu jadikan prioritas nomor satu, selain itu ada juga kebutuhan kurang mendesak seperti investasi. Kamu bisa mengalihkan kebutuhan kurang mendesak ini untuk beberapa pos seperti dana darurat, misalnya. Terakhir, kebutuhan yang tak penting seperti berlibur sebaiknya kamu hilangkan sejak awal dulu, ya.

TemanBaik, mengatur ekonomi di tengah situasi pandemi yang belum jelas ini memang jadi tantangan tersendiri bagi siapapun. Tapi percaya saja bahwasannya pandemi ini akan segera berakhir. Nah, yang erlu kita lakukan ialah bertahan sejenak sampai semua membaik. Dari sekian tips mengelola keuangan di tengah pandemi, adakah salah satu yang sudah pernah kamu terapkan?

Foto: unsplash

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler