Yuk! Waspadai Malaria di Tengah Pandemi

Jakarta - TemanBaik, wabah virus COVID-19 di Indonesia telah menyebar di seluruh wilayah. Namun, kewaspadaan terhadap virus ini jangan sampai membuat kita justru kecolongan terhadap risiko paparan penyakit lain yang tak kalah berbahaya. Misalnya penyakit malaria.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian penyakit Tular Vektor dan Zoonosis dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, penyakit malaria memiliki beberapa gejala yang mirip dengan COVID-19 seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Oleh karena itu, layanan malaria untuk menjaga agar tidak terjadi peningkatan kasus malaria pada saat pandemi COVID-19 akan mengacu pada protokol pencegahan COVID-19. Di sisi lain, penyakit malaria akan semakin memperberat kondisi seseorang yang juga terinfeksi COVID-19.

''Penderita malaria dapat terinfeksi penyakit lainnya termasuk COVID-19,'' ujar Nadia dalam keterangan resmi di laman web Kementerian Kesehatan RI.

Lebih lanjut mengenai Malaria, penyakit ini  disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hanya disebarkan oleh nyamuk Anopheles betina. Ada banyak sekali jenis parasit Plasmodium, tapi hanya lima jenis yang menyebabkan malaria pada manusia. Parasit masuk ke dalam aliran darah manusia melalui gigitan nyamuk. Gigitan ini lebih sering terjadi pada malam hari.

Meski punya gejala mirip dengan COVID-19, namun ada beberapa gejala spesifik yang menandakan seseorang menderita malaria. Bila gejala demam, menggigil dan sakit kepala sudah masuk kategori gejala COVID-19, maka tambahan gejalan seperti berkeringat banyak, lemas, pegal linu, anemia atau kurang darah, mual atau muntah, nyeri perut, diare hingga buang air besar berdarah menjadi indikator seseorang terkena malaria. Kedua penyakit ini bisa diidap berbarengan oleh seseorang.

Baca Ini Juga Yuk: "Tidak Bosan", Strategi Jaga Imun Tubuh di Masa Pandemi

Terapkan Standar yang Sama

Selama masa pandemi COVID-19, setiap petugas yang melakukan layanan malaria diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai standar protokol pencegahan COVID-19. Hal ini merupakan upaya perlindungan terhadap petugas layanan malaria dari penularan COVID-19. Sementara itu masyarakat diimbau untuk tetap mengutamakan jaga jarak fisik, memakai masker, cuci tangan pakai sabun, dan menghindari kerumunan lebih dari 5 orang serta jangan lupa menggunakan kelambu untuk menghindari gigitan nyamuk.

Dalam masa-masa pandemi ini pula, pemeriksaan diagnostik malaria dilakukan dengan Tes Cepat (RDT) dan pasien dapat segera diberikan pengobatan bila hasil pemeriksaan RDT positif. Pembuatan sediaan darah tetap dilakukan untuk konfirmasi hasil RDT dan evaluasi pengobatan Malaria.

''Ingat Klorokuin yang digunakan saat pandemi COVID-19 bukan obat Malaria lagi sehingga bila sakit Malaria minum Obat Anti Malaria sesuai aturan. Untuk itu perencanaan kebutuhan logistik terutama RDT dan obat anti malaria (OAM) disiapkan mencukupi sampai 2-3 bulan ke depan di fasilitas Pelayanan Kesehatan,'' jelas Nadia.

Selain itu, pertugas Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi hingga Kabupaten dan Kota juga diwajibkan memantau dan mengantisipasi layanan malaria pada saat diberlakukan pembatasan sosial atau karantina wilayah seperti saat ini.

Berbicara soal endemisitasnya, penyebaran malaria di Indonesia saat ini didominasi kawasan Timur, antara lain Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara. Jauh sebelum munculnya wabah COVID-19, upaya pencegahan malaria dilakukan dengan cara menghindari gigitan nyamuk. Penggunaan lotion anti-nyamuk, tidur dengan kelambu serta mengenakan pakaian panjang di malam hari dapat jadi solusi sederhana untuk mencegah malaria.

"Penyebaran malaria tidak mengenal batas wilayah administrasi, maka membebaskan masyarakat dari malaria (eliminasi malaria) memerlukan komitmen global, regional dan nasional,'' ujar Nadia.

Pemerintah Republik Indonesia menargetkan 405 Kabupaten dan Kota mencapai eliminasi malaria pada 2024 mendatang. Periode 2020-2024 merupakan waktu yang penting dan menentukan dalam upaya mencapai Indonesia Bebas Malaria Tahun 2030. Upaya mencapai target tersebut didahului dengan tahapan pencapaian daerah bebas malaria tingkat Provinsi, setelah seluruh Kabupaten dan Kota mencapai daerah bebas malaria.

TemanBaik, di luar upaya Pemerintah dalam memerangi berbagai wabah penyakit, peran kita sebagai Masyarakat tentu akan sangat menentukan upaya tersebut. Maka dari itu, yuk patuhi anjuran Pemerintah dengan tetap menjaga standar kebersihan serta kesehatan, khususnya selama masa pandemi ini, dan tetap produktif walau berkegiatan #DiRumahAja.

Foto: Ilustrasi Unsplash


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler