Cerita Kasma Jalani Ramadan di Amerika Saat Pandemi

Malang - Ramadan di negeri orang memang seringkali menimbulkan kerinduan akan suasana di kampung halaman. Terlebih Ramadhan kali ini tidak biasa dengan adanya wabah coronavirus disease (COVID-19).

Kerinduan tersebut juga dirasakan oleh mahasiswi yang tengah menjalani studi Master Business Administration di Clark University, Amerika Serikat, Kasmawati Ahmad.

Kasma, panggilan akrabnya, mengakui bahwa tak mudah menjalani masa Ramadan di tahun ini. Mahasiswi peraih beasiswa pemerintah Indonesia Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tersebut mengaku rindu momen Ramadan yang tidak bisa ia dapatkan saat berada di Negeri Paman Sam, di antaranya salat tarawih berjamaah dan tradisi membangunkan sahur.

"Ingat banget, kalau di Indonesia, semua masjid pasti sudah penuh dengan jamaah. Di Masjid ramai dan kadang ketemu kerabat yang sudah lama tidak ketemu. Di saat sahur, bisa kedengaran suara anak-anak sambil nyanyi atau teriak-teriak 'sahur-sahur'," kata perempuan asal Pulau Buru, Maluku itu.

"Di sini, cuma suara alarm handphone aja atau teman yang bangunin. Nggak ada suara adzan. Sedih banget sebenarnya," imbuhnya.

Kasma bercerita, semula ia sempat khawatir menjalani Ramadan di Amerika dengan lama waktu puasa selama 16 jam, sementara di Indonesia hanya 13 jam. Namun berkat teman-temannya dari berbagai negara sesama muslim, ia bisa menikmati Ramadan di tanah rantau dengan lancar.

"Alhamdulillah, saya sangat menikmati suasana ramadan di Amerika walaupun saya sempat khawatir dengan perbedaan waktu dan lingkungan di sini. Kebetulan saya tinggal dengan kawan-kawan muslim dari empat negara yang berbeda apalagi di sini muslim community-nya sangat kuat sehingga masalah perbedaan suasana bisa sedikit ringan untuk saya hadapi," ujar Kasma.


Baca Ini Juga Yuk: Perhatikan Empat Hal Ini Sebelum Membeli Parsel

Di tanah perantauan, Kasma tetap bisa melalui Ramadan dengan indah bersama empat teman kosnya yang juga muslim. Mereka berasal dari Arab Saudi, Pakistan, India dan Algeria. Setiap harinya, mereka sepakat untuk memasak makanan khas dari negara masing-masing.

Kasma pun lebih memilih memasak kolak, gorengan dan sambal karena mudah dan praktis. Sementara teman-temannya yang lain membuat sup, roti dan pasta dengan rasa yang bervariasi.

"Makanan di atas meja saat buka puasa jadi sangat bervariasi," tutur perempuan yang juga merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut.

Tak hanya itu. Untuk mengobati rasa rindu terhadap jajanan khas buka puasa di Indonesia, Kasma memilih untuk membuatnya  sendiri.

"Saya masih belajar untuk mencoba memasak beberapa jajanan yang bisa mengobati rasa rindu rumah," ucapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di Amerika, Kasma yang tinggal di Worcester, Massachusetts mengaku tidak mengalami kesulitan. Ia dapat dengan mudah menemukan supermarket yang menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari. Dekat apartemennya, ada lima supermarket Asia yang menyediakan bahan-bahan masakan merek Indonesia.

"Bahkan di sini, saya bisa gampang dapat ikan segar tiap hari Jumat di salah satu Asian Market. Jaraknya hanya 8 menit jalan kaki dari apartemen saya. Saya biasanya belanja seminggu sekali langsung ke supermarket," tuturnya.

Saat berkunjung ke supermarket, ia pun tidak khawatir sebab beberapa supermarket sudah menyediakan sarung tangan untuk tiap pengunjung. Lokasi supermarket pun sudah disterilisasi dan patuh pada aturan physical distancing.

Foto: dok. Humas UMM

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler