Begini 'Kenormalan Baru' di Mata Psikolog

Bandung - TemanBaik, belakangan ini sering mendengar kata new normal atau kenormalan baru? Ya, istilah ini memang belakangan cukup populer.

Secara umum, kenormalan baru ini adalah sebuah perubahan gaya hidup. Publik diajak untuk tetap melakukan protokol kesehatan atau berbagai langkah pencegahan penularan COVID-19 atau virus corona, mulai dari penggunaan masker, rajin mencuci tangan, serta ragam pencegahan lainnya.

Nah, kali ini, kita bahas soal kenormalan baru ini dari kacamata psikolog. Simak ulasannya yuk!

Menurut psikolog kliniis dari Klinik Kebidanan Harkel Bandung Erwin Fazrin, kenormalan baru ini hampir sama dengan kondisi pasca bencana. Semua orang diajak untuk melakukan adaptasi dengan gaya hidup yang baru.

"Kenormalan baru ini saya melihatnya sebagai suatu fase pascabencana atau pascatrauma. Di sinilah adaptasi baru terhadap kondisi yang baru," kata Erwin kepada BeritaBaik.id.
Adaptasi ini jadi cara untuk tetap bertahan di tengah pandemi atau selama situasi belum berubah. Apa yang sudah dilakukan selama dua hingga tiga bulan terakhir ini sebaiknya jadi kebiasaan atau gaya hidup baru.

Gaya hidup baru tersebut jadi hal yang sangat penting dilakukan. Publik disarankan tetap menjalankan protokol kesehatan tersebut selama belum ada obat atau vaksin COVID-19.

"Itu sebenarnya bagian dari survival insting. Kalau kata orang Sunda, wayahna, ikutin aja dulu," tuturnya.

Lalu, apa saja sih yang harus disiapkan untuk menghadapi atau menjalankan kenormalan baru ini? Paling penting adalah kesadaran diri bahwa apa yang dilakukan itu demi kesehatan diri sendiri dan orang lain.

"Selama vaksin belum ditemukan, (gaya hidup baru) itu jadi salah satu benteng terakhir perlindungan kita selain berdoa," jelas Erwin.

Apa yang sudah dilakukan selama ini usahakan tetap dilakukan dengan konsisten ya. Jangan lupa juga untuk saling mengingatkan orang-orang sekitar agar tetap menjalankan protokol kesehatan di tengah kenormalan baru ini.

Foto: Ilustrasi Unsplah/Sarah Kilian
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler