Yuk, Jadikan Pandemi Sebagai Momentum Berhenti Merokok!

Bandung - Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D., dalam keterangan resmi di laman web UGM menyebutkan, merokok dapat meningkatkan risiko penularan virus korona baru yang akan memperberat komplikasi penyakit akibat virus ini. Pasalnya, kegiatan merokok melibatkan kontak jari yang mungkin terkontaminasi dengan mulut secara intens. Hal tersebut memberikan peluang bagi virus dari jari tangan kita untuk berpindah ke mulut dan masuk ke dalam tubuh.

Perokok tidak hanya lebih rentan terhadap virus korona, lebih jauh dari itu, apabila perokok terinfeksi virus korona maka akan memperberat kondisi tubuhnya kelak. Oleh karenanya, momentum pandemi yang juga bertepatan dengan Hari Tembakau Sedunia ini disebutkan Yayi sebagai momentum tepat untuk kita berhenti merokok.

“Mari jadikan pandemi Covid-19 jadi momentum untuk berhenti merokok,” ajak Yayi.

Langkah untuk Berhenti

Berhenti merokok bukanlah suatu perkara mudah. Sebab, selain telah menjadi kebiasaan, rokok yang dikonsumsi pun bersifat adiktif. Namun demikian, bukan berarti perokok tidak dapat berhenti merokok. Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan kebiasaan merokok. Yuk kita simak!

1. Niat

Niat adalah salah satu kunci utama, tidak hanya untuk berhenti merokok saja, tapi juga untuk banyak hal lainnya. Jika sudah niat, selebihnya kita bisa mulai untuk mengamalkannya saja. “Yang utama adalah ada niat untuk berhenti merokok kalau bisa benar-benar berhenti,” ujar Yayi.

Ia menambahkan, jika hasrat merokok benar-benar kuat, upayakan kembali mengingat niat awal berhenti merokok. Banyak efek negatif merokok, tidak hanya bagi kesehatan diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan orang-orang sekitar. Sementara dengan berhenti merokok, kita akan memperoleh beragam manfaat bagi kesehatan tubuh dan lingkungan.

2. Kurangi dan Alihkan

Apabila kita tidak bisa total berhenti merokok, kita juga bisa memulai langkah berhenti dengan mulai mengurangi jumlah konsumsi rokok per batang tiap harinya. Selanjutnya, coba kita memetakan waktu yang biasanya digunakan untuk merokok dan mengalihkannya untuk kegiatan lain.

Waktu yang biasanya digunakan untuk merokok ini coba kita alihkan untuk melakukan hobi yang positif seperti otomotif, bercocok tanam, olahraga, dan kegiatan lainnya. “Biasanya kalau perokok terus tidak merokok mulutnya akan terasa masam, rasa ini bisa dialihkan dengan banyak minum air putih, makan buah, atau  mengunyah permen rendah gula,” kata Yayi.

3. Batasi Diri dan Konsultasi

Kegiatan merokok identik dengan berkumpul atau nongkrong antar seorang perokok dengan perokok lainnya. Rokok kerap jadi teman berdiskusi bagi ‘kelompok perokok’ yang nongkrong dalam situasi normal.

Namun, hadirnya wabah korona secara tak langsung membuat masyarakat di kita harus melakukan pembatasan fisik dan pembatasan sosial dengan beraktivitas dari rumah masing-masing. Hal itu secara tidak langsung turut berkontribusi mengurangi aktivitas merokok karena aktivitas untuk bertemu dan berkumpul dengan sesama perokok berkurang.

Lebih lanjut lagi, bila kamu serius ingin berhenti merokok, kamu dapat meminta bantuan konsultasi dengan tenaga kesehatan di puskesmas maupun rumah sakit untuk membantu menghentikan kebiasan merokokmu itu.

“Dukungan keluarga sangat berperan penting dalam menghentikan kebiasan merokok ini,” katanya.

Tantangan

Hari ini, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam menekan jumlah perokok aktif di tanah air. Bahkan, jumlah perokok muda semakin banyak dari waktu ke waktu. 

Pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan aturan terkait penjualan rokok. Ada larangan penjualan rokok kepada anak-anak di bawah usia 18 tahun. Namun, aturan tersebut nampaknya tidak berlaku di lapangan. Mengacu pada data Riskesdas 2013, sekitar 80 persen perokok dengan jumlah total kurang lebih 16 juta, memulai merokok di usia di bawah 19 tahun.  

Banyaknya perokok muda, dikatakan Yayi, salah satunya dikarenakan kemudahan akses mendapatkan rokok. Ditambah lagi, harga rokok yang relatif murah. Akibatnya, siapa pun, termasuk anak di bawah umur bisa membeli rokok dengan sangat mudah.  

"Rokok dijual di mana-mana, bahkan di warung-warung dekat rumah pun ada ada sehingga anak-anak mudah mendapatkannya,” kata Yayi.

TemanBaik, bila kamu mulai merasa pandemi ini sebagai momen untuk berhenti merokok, jangan ragu lagi ya! Sebab, banyak manfaat yang bisa kamu dapat dari berhenti merokok. Namun, apabila kamu tidak bisa melakukannya sekaligus, trik mengurangi untuk berhenti total bisa kamu coba dan biasakan mulai dari sekarang. Belum terlambat kok, tetap semangat ya!


Foto: freepik.com 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler