'Budikdamber', Berkebun dan Ternak Ikan di Lahan Terbatas

Jakarta - TemanBaik, pernah membayangkan berkebun dan ternak ikan dengan memanfaatkan lahan kecil? Ya, keduanya bisa dilakukan dengan cara 'budikdamber'. Seperti apa sih?

'Budikdamber' adalah singkatan budidaya ikan di dalam ember. Teknik ini merupakan pengembangan dari aquaponik, yang mana ikan dan tanaman dapat tumbuh dalam satu wadah. Karena dapat menumbuhkan tanaman dan ikan dalam satu wadah, budikdamber disebut-sebut sebagai solusi untuk masalah lahan dalam budidaya tanaman dan ikan.

Tak hanya itu, pengelolaannya pun terbilang sederhana dan tanpa menggunakan listrik. Apabila kamu mengembangkannya sebagai lahan bisnis, 'budikdamber' bisa jadi sumber penghasilan yang tak sedikit loh!

Lalu, apa saja sih yang harus kita siapkan untuk memulai 'budikdamber'? Yuk, mulai dicari perlengkapan di bawah ini:

1. Ember

2. Benih ikan lele atau nila yang kuat terhadap kualitas air

3. Benih kangkung atau sayuran dataran rendah

4. Gelas plastik ukuran 250ml

5. Arang batok kelapa

6. Kawat

7. Tang

8. Solder

Pembuatan dan Perawatan
Setelah semua peralatan siap, kamu bisa mulai menyediakan gelas untuk tempat bibit kangkung sebanyak 10 hingga 15 buah. Lubangi gelas tersebut dengan solder pada bagian samping dan bawah. Lalu, potong kawat sepanjang 12cm dan buat kait untuk pegangan gelas dalam ember.

Kemudian, isi ember dengan bobot 3/4 dari ukuran ember. Disarankan, ember yang kamu gunakan memiliki volume 80 liter, sehingga air yang masuk ke dalam ember adalah 60 liter. Lalu diamkan air tersebut selama dua hari.

Setelah itu, isi ember dengan bibit ikan lele sebanyak 60-100 ekor lalu diamkan kembali selama 1-2 hari. Kemudian rangkai gelas kangkung dalam ember.

Sementara itu untuk benih kangkung yang akan ditanam, kamu bisa menaruhnya pada arang yang telah dihaluskan, lalu tutup dengan arang lagi. Jika ukuran benihnya kecil, bisa ditaruh dalam kapas, lalu tutup dengan arang yang telah dihaluskan.

Namun, jika kamu ingin menanam kangkung yang sudah disemai terlebih dahulu, masukkan kangkung beserta akarnya dengan ukuran bibit kangkung sebesar kurang lebih 10cm. Lalu isikan arang batok kelapa sebanyak 50 hingga 80 persen dari ukuran gelas kangkung.



                                                                                 Foto: Tangkapan Layar YouTube/TVTani

Baca Ini Juga Yuk: Belajar Berkebun Bersama Jaringan Kerja Gotong Royong

Nah, bagian penting dalam pemeliharaan 'budikdamber' adalah kita harus meletakkan ember di tempat yang terpapar matahari maksimal. Selain itu, berikan pakan untuk ikan dengan menyesuaikan ukuran kenyang ikan tersebut. Idealnya pemberian pakan dilakukan sebanyak 2 hingga 3 kali dengan waktu yang menetap.

Selama perawatan, kita harus memantau terus nafsu makan ikan dan kondisi tumbuhan. Jika nafsu makan ikan menurun, air berbau busuk, ikan menggantung, segera ganti air atau lakukan sipon atau penyedotan kotoran di dasar ember dengan selang.

Tanaman kangkung biasanya akan tumbuh pada hari ketiga. Perhatikan kondisi daunnya, ya. Bila terdapat kutu, langsung buang dan lakukan pembersihan dengan cara membuang daun atau batangnya. Lakukan penyiraman berbarengan dengan pemberian pakan. Penyiraman juga bisa kamu lakukan menggunakan air di dalam ember.

Masa Panen
Walau tumbuh bersama, namun masa panen kangkung dan lele pada 'budikdamber' akan berlangsung terpisah. Waktu panen tanaman kangkung pertama adalah 14 hingga 21 hari sejak pertama ditanam. Saat panen, sisakan kembali bagian bawah atau tunas kangkung untuk pertumbuhan kembali kangkung berikutnya. Panen ke-2 dan panen-panen selanjutnya berjarak 10 hingga 14 hari sekali. Panen kangkung ini bisa bertahan 4 bulan.

Sementara itu panen lele bakal berlangsung dalam 2 bulan sejak pertama kali ditanam benih. Waktu tersebut bisa dicapai bila benih lele dan pemberian pakannya baik. Sebagai tambahan informasi, lele punya daya juang hidup 40 hingga 100 persen.

Bisa Pakai Gentong
Salah satu pegiat aquaponik yang sukses menerapkan 'budikdamber' adalah Fathulloh AS yang membuka usaha dengan nama Bos Letong. Bedanya, ia menggunakan gentong sebagai medium tanamnya. Ia juga menggunakan pasir merah sebagai pengganti medium tanah dan stereofom bekas sebagai media apung.

"Gentong ini lebih awet. Jadi, gentong dibelah dua saja. Volume gentong 200 liter dibagi dua kan sekitar dua kali 100 liter. Setelah itu masukkan air dan ditunggu dua hari," jelas Fathullah dalam tayangan di kanal YouTube Kementerian Pertanian, TVTani.

Ia juga menambahkan, dengan medium gentong, penanaman kangkung bisa dilakukan tanpa disemai dulu, alias langsung menanam kangkungnya.

"Kalau menanam kangkung itu harus agak dalam. Sekitar dua centimeter dari bibir gelas," sambungnya.

Peluang keuntungan bisnis dari budidaya ini juga tergolong lumayan loh. Fathullah yang mengelola Bos Letong menyebutkan, satu kali panen untuk sayuran dan ikan yang ditanam menghasilkan keuntungan 15 hingga 20 juta rupiah. Wah, menarik ya!

TemanBaik, selain tidak banyak memakan tempat, 'budikdamber' juga tidak memerlukan usaha berat dalam pemeliharaannya. Selain itu, dengan menjajal 'budikdamber' di rumah masing-masing, kita juga bisa memberi andil dalam menguatkan ketahanan pangan di tengah pandemi. Bagaimana, sudah tertarik untuk mencoba?

Foto: dok. covid19.go.id 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler