Ada Kemiripan pada DBD & COVID-19, Yuk! Ketahui 5 Hal Penting Ini

Jakarta - TemanBaik, saat ini kasus virus korona atau COVID-19 terus bertambah. Di saat yang sama, kasus demam berdarah dengue (DBD) juga meningkat drastis. Tahun ini, jumlahnya hingga kini bahkan sudah mencapai 65 ribu kasus dan sekitar 400 jiwa meninggal dunia.

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, jika dirata-ratakan dalam sehari saat ini terjadi 100-500 kasus DBD.

"Saat ini, yang tertinggi itu Jawa Barat, Lampung, Nusa Tengara Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta, termasuk Sulawesi Selatan," kata Siti di Graha BNPB, Jakarta, Senin (22/6/2020).

Di balik tingginya kasus DBD dan COVID-19, ada hal yang perlu TemanBaik ketahui. Sebab, ada beberapa kesamaan gejala antara mereka yang terjangkit DBD dan COVID-19. Simak ulasannya, yuk!

1. Disebabkan Virus
DBD dan COVID-19 intinya adalah penyakit yang sama-sama disebabkan oleh virus. Namun, penularannya berbeda. DBD disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti dan COVID-19 ditularkan melalui droplet atau percikan air liur.

2. Gejala
Sebagaimana penyakit yang diakibatkan virus, DBD dan COVID-19 menimbulkan gejala utama berupa suhu tubuh tinggi alias demam di atas 38 derajat selsius. Namun, ada gejala penyerta lain yang jadi penyerta sekaligus pembeda.

Demam pada DBD biasanya mendadak tinggi dan bisa mendadak turun. Ciri khas lainnya, adalah muka memerah, nyeri kepala, nyeri pada bagian belakang mata, serta pendarahan seperti gusi berdarah dan mimisan. Ciri berikutnya adalah adanya bintik merah setelah dua hingga lima hari terjangkit.

DBD juga biasanya disertai muntah-muntah. Sehingga, asupan makanan atau minuman akan kembali keluar lagi. Jika dibiarkan hingga tiga hari, mereka yang terjangkit DBD akan memasuki fase kritis.

Namun, tak semua tanda ini muncul bersamaan. Pada beberapa kasus, gejala-gejala di atas hanya muncul beberapa saja. Bahkan, ada gejala DBD yang tidak disertai bintik merah pada kulit.

Sedangkan pada COVID-19, gejala utamanya adalah demam. Sedangkan gejala khas lainnya adalah terjadi sesak. Sebab, virus ini menyerang area pernapasan sebagai sasaran utamanya. Sesak ini biasanya tidak terdapat pada mereka yang terjangkit DBD.

3. Rentang Usia
Berbeda dengan COVID-19 yang lebih menyasar orang tua, DBD bisa menyerang siapa saja. Dari bayi hingga orang tua dapat terjangkit DBD.

"Kalau DBD bisa menyerang semua kelompok umur. Cuma saat ini kita banyak trennya (DBD) ke arah remaja," ujar ahli infeksi dan pediatri tropik RS Cipto Manungkusumo dr. Mulya Rahma Karyanti di tempat yang sama.

Kenapa sih DBD saat ini banyak diidap remaja? Salah satunya penyebabnya karena remaja cenderung cuek. Ketika minum kemudian muntah, yang terjadi justru mereka tak lagi minum. Akibatnya, mereka mengalami dehidrasi yang memperparah kondisinya.

"Apalagi yang ngekos seharian, enggak ada yang mengingatkan (untuk memaksakan diri banyak minum). Ini yang kita takutkan pada remaja dan dewasa sekarang," jelas Mulya.

4. Sama-sama Belum Ada Obat
DBD dan COVID-19 sendiri sejauh ini belum ada obat atau vaksin yang secara khusus untuk mencegahnya. Pengobatannya pun lebih menggunakan obat-obatan yang secara umum memiliki fungsi untuk penyembuhan atau perbaikan tubuh.

5. Pencegahan Paling Utama
Karena belum ada obat dan vaksin, yang paling penting adalah melakukan pencegahan. Untuk pencegahan DBD, kamu disarankan menjalankan program 3M Plus, yaitu menutup tempat penampungan air, menguras tempat penampungan air, menyingkirkan barang bekas atau mendaurulangnya.

Sedangkan plus-nya mulai dari penggunan lotion antinyamuk, menggunakan tirai antinyamuk di rumah, tidak menggantung atau menumpuk pakaian, hingga pengaturan ventilasi rumah yang baik.

Sementara untuk menghindari penularan COVID-19, yang paling utama adalah menjalankan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Protokol kesehatan pencegahan COVID-19 juga jadi hal yang sangat penting, mulai dari penggunaan masker, menjaga jarak, hingga mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

TemanBaik, yuk sama-sama jaga kesehatan dan hindari penyakit, tetap sehat selalu ya!

Foto: dok. www.britannica.com
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler