Mengenal Komunikasi Empatik di Era Kenormalan Baru

Bandung - TemanBaik, komunikasi adalah hal penting dalam berbagai momen kehidupan. Termasuk dalam era kenormalan baru yang saat ini dihadapi oleh kita.

Menurut Guru Besar Universitas Padjadjaran Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D., dampak negatif dari terpaan pandemi dan masa-masa karantina wilayah dapat menyerang berbagai aspek. Di samping kesehatan fisik, kesehatan mental pun jadi aspek yang rentan terhadap serangan. Nah, kesehatan mental ini bisa terjadi akibat buruknya pola komunikasi kita selama berhadapan dengan masa pandemi.

Ia kemudian menyebut bahwa komunikasi empatik bisa menjadi solusi untuk menghindari kita dari ancaman kesehatan mental. Komunikasi empatik sendiri adalah komunikasi yang menunjukkan adanya saling pengertian antara komunikator dengan komunikan. Komunikasi ini menciptakan interaksi yang membuat satu pihak memahami sudut pandang pihak lainnya. Komunikasi empatik bisa dipahami dari kata 'empati'.

Sebagai studi kasus, ia menyebut keberhasilan mengurangi tingkat kecemasan terkait virus korona di Tiongkok adalah dengan bermukimnya seseorang di pedesaan dan tinggal bersama orang tua.

"Ada ketenangan dan ketentraman saat tinggal bersama orang tua dan suasana pedesaan," ujarnya dalam seminar daring 'Komunikasi Kesehatan di Era New Normal' yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Pasundan.

Namun, suasana seperti itu bisa dibangun di manapun dengan menerapkan komunikasi empatik. Ia kemudian membagikan tips bagaimana cara agar kita membangun komunikasi empatik. Apa saja poin-poinnya? Yuk kita simak!

1. Komunikasi dengan Anggota Keluarga
Selama masa karantina wilayah, pertemuan tatap muka dengan anggota keluarga di rumah bakal mengalami peningkatan durasi. Hal tersebut tentu memicu kebosanan dan kejenuhan. Namun, kita bisa mengatasinya dengan menjaga komunikasi serta melakukan kegiatan bersama-sama.

"Berkomunikasi dengan keluarga sehangat dan seintim mungkin. Lakukan banyak aktivitas bersama," ujar Deddy.

Ada banyak kegiatan bersama keluarga yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan komunikasi empatik, seperti membersihkan rumah bersama atau berolahraga di sekitar rumah.

Baca Ini Juga Yuk: Begini Trik Menyiasati Kebosanan Anak Saat #DiRumahAja

2. Bijak Gunakan Media Sosial
Media sosial adalah hal yang amat dekat dengan kita, sebelum bahkan sesudah pandemi korona menerpa. Oleh sebab itu, bijak dalam menggunakan media sosial adalah salah satu cara membangun komunikasi empatik. Kita harus memilah informasi atau konten yang hendak dikonsumsi.

Tak hanya itu, kita juga perlu mengatur durasi, frekuensi, serta kebutuhan kita dalam menggunakan media sosial. Pasalnya, jika tak bijak menggunakan media sosial, dampak buruk terhadap kesehatan akibat konsumsi media sosial akan menghantui kita.

"Gunakanlah media sosial secara bijaksana, baik dari durasinya frekuensinya, ataupun segi kontennya," jelasnya.

3. Kritis
Tak hanya bijak, dalam menggunakan media sosial, kita juga dituntut untuk bersikap kritis. Pasalnya, kita bisa terseret arus atau flow di media sosial bila tak menumbuhkan sifat kritis ini.

"Jadilah pengguna media sosial yang kritis berdasarkan asas manfaat dan kebaikan," pesannya.

Kenormalan Baru, Moralitas Baru
Lebih lanjut lagi, Deddy menyebutkan bahwa kenormalan baru yang dijalani oleh masyarakat Indonesia pada saat ini juga merangkap sebagai moralitas baru. Pasalnya, banyak hal dalam kenormalan baru yang nantinya akan menjadi standar baru. Ia mencontohkan kebiasaan sederhana seperti cuci tangan yang dulunya merupakan hal yang kerap terlupakan oleh masyarakat, lambat laun akan menjadi standar baru yang akan menjadi sebuah kebiasaan yang dilakukan tanpa sadar.

"Berkaca pada keberhasilan negara-negara lain yang punya waktu relatif lebih cepat dalam menangani virus ini, kita bisa melihat bagaimana displin mereka menerapkan berbagai kebiasaan jauh sebelum kita baru memulainya (setelah terpapar pandemi korona," ungkapnya. 

Namun, Deddy menyebut kesadaran lebih lanjut terkait hal-hal yang memicu penyebaran virus korona seperti menjaga jarak fisik dan menghindari kerumunan masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Ia menyoroti kebiasaan berkerumun orang Indonesia tak lepas dari budaya kolektif yang sudah terbangun sejak lama.

"Kebiasaan ngumpul-ngumpul itu sudah jadi budaya kolektif di Indonesia. Dalam menerapkan kenormalan baru, tentu ini jadi pekerjaan rumah untuk kita semua," jelasnya.

TemanBaik, yuk kita beradaptasi dalam menerapkan kenormalan baru pasca terpaan pandemi virus korona. Selain menerapkan komunikasi empatik, penerapan berbagai protokol kesehatan seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak fisik serta mengurangi aktivitas di luar rumah perlu kita tingkatkan lagi agar Indonesia benar-benar terbebas dari virus korona. Sehat selalu ya!

Foto: Ilustrasu Unsplash/Priscilla Du Preez 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler