Begini Cara Membangun Komunikasi Lintas Generasi yang Baik

Jakarta - TemanBaik, sadar enggak sih kalau rutinitas kita di tempat kerja melibatkan tiga generasi? Perbedaan latar belakang ini bisa mempengaruhi suasana komunikasi dalam pekerjaan sehari-hari loh.

Berkaca pada fenomena di atas, Becky Tumewu bersama Erwin Parengkuan baru saja merilis sebuah buku bertajuk 'Generation Gap(less): Seni Menjalin Relasi Antar Generasi'. Dalam konferensi pers daring yang digelar melalui aplikasi zoom, keduanya berbagi tips sederhana tentang cara membangun suasana komunikasi yang nyaman di dunia kerja, sekalipun isi kantor kita dihuni oleh tiga generasi dengan latar belakang yang beragam. Ketiga generasi tersebut dalam buku 'Generation Gap(less)' ditulis sebagai Baby Boomers, Generation X dan Generasi Millenial.

"Sadar enggak sih, adanya tiga generasi sekaligus dalam dunia kerja itu sebenarnya keren banget. Tinggal pola manajemen komunikasinya nih yang harus kita perbaiki lagi," ujar Erwin Parengkuan.

Nah. Lalu bagaimana sih cara menciptakan suasana komunikasi yang nyaman antar-generasi. Simak ulasannya yuk!


Pertama adalah memposisikan diri. Ketiga generasi yang telah disebutkan tadi menurut Becky dan Erwin harus memposisikan diri. Bagaimana caranya? Nah, baby boomers yang tergolong generasi tua idealnya menjadi orang tua yang baik. Sedangkan Generation X yang disebut sebagai generasi perantara, harus bisa menjembatani perbedaan kontras Baby Boomers dan Generasi Millenial. Sedangkan si bungsu yang merupakan Generasi Millenial, idealnya harus bisa memposisikan diri dan menumbuhkan bentuk penghormatan (respect) dengan dua generasi lainnya.


Kedua, tak perlu bawa perasaan. Lebih lanjut, Becky menyebut tips berikutnya adalah tak perlu membawa perasaan. Hal ini ditujukan untuk generasi Baby Boomers. Ia menangkap adanya generasi Baby Boomers yang kerap tak suka dengan gaya komunikasi Generasi Millenial yang dianggap terlalu santai, bahkan dianggap tidak menghargai orang tua.

"Mereka (millenial) itu bukan enggak sopan. Tapi memang zamannya sudah berubah, cetakannya pun sudah berbeda," terang Becky.



Baca Ini Juga Yuk: Ingin Mengubah Pola Hidup Menjadi Vegan? Begini Langkah Awalnya

Selain generasi Baby Boomers yang idealnya tak perlu terbawa perasaan, umpan balik (feedback) yang harus dilakukan Generasi Millenial untuk mendukung hal ini adalah dengan cara memperbaiki cara komunikasi. Pada praktiknya, Erwin menyebut ucapan salam dari Generasi Millenial kepada generasi Baby Boomers punya dampak besar untuk menghangatkan suasana komunikasi.

"Say greeting, 'Selamat pagi, Pak!' itu enggak sampai 5 detik kok dan punya dampak besar sekali," ujarnya.

Ketiga, memberikan ruang dan konsultatif. Pola komunikasi senior yang kerap satu arah dan biasanya tidak memberi ruang untuk junior dianggap jadi salah satu pemicu tidak nyamannya situasi komunikasi. Idealnya, para senior tidak perlu mendikte sang junior secara rinci. Pola komunikasi mendikte ini lama-lama bisa membuat junior yang merupakan Generasi Millenial akan merasa jengah.

Apabila sudah diberi ruang, maka junior juga harus memberi feedback dengan menumbuhkan sifat konsultatif. Maksudnya, junior jangan diam saja. Konsultasikan mengenai masalah yang kamu temui di lapangan.

"Jangan mentang-mentang dikasih ruang, junior juga jadi terlalu merasa bebas," kata Becky.

Cara sederhana untuk membangun pola konsultatif ini menurut Becky adalah dengan junior memposisikan seniornya sebagai bagian dari anggota keluarga di rumah. Millenial bisa meniru pola komunikasi dengan anggota keluarga yang lebih tua di rumah terhadap seniornya.

"Kayak kamu kalo curhat ke om, ke bapak, atau abang aja gimana sih," tambahnya.

Keempat, beri arahan, bukan perintah. Senior dalam rutinitas bekerja idealnya memberi arahan, bukan perintah. Ringkasnya, Erwin menyebut senior mesti bicara, bukan menunjuk tanpa mengarahkan dalam memberi komando atau tugas di lapangan.

Sementara itu sang junior pun mesti memberi feedback dengan cara bicara terstruktur. Contoh kasusnya adalah saat sedang merasa kebingungan, junior harus berbicara dan berkonsultasi secara mendalam dengan seniornya.

"Jangan sampai kamu bilang enggak tahu sebatas enggak tahu aja. Jelasin enggak tahunya itu di bagian mana," terang Erwin.

Kelima adalah timbal balik. Senior idealnya memberi timbal balik atas kinerja juniornya. Becky maupun Erwin setuju, pemberian timbal balik atau feedback ini sangat diperlukan oleh junior atau Generasi Millenial sebagai bahan koreksi untuk perbaikan kinerja di masa yang akan datang.

"Berikan feedback bagus atau apresiasi di depan umum, dan berikan saran secara personal. Simpel banget sebetulnya," terang Erwin.

Selain itu, timbal balik yang harus dilakukan junior terhadap seniornya adalah dengan mendengarkan dengan seksama apabila senior sedang bicara. Becky dan Erwin menyoroti gaya komunikasi Generasi Millenial yang kadang terlihat seperti acuh tak acuh, walau sebenarnya mereka tak bermaksud demikian terhadap seniornya.

"Enggak bisa kamu dengerin orang tua lagi ngomong sambil main hape. Enggak bisa. Orang tua itu inginnya didengar dengan cara active listening. Dengarkan dengan baik dan pastikan generasi baby boomers itu tahu kalau kamu sedang mendengarkan mereka," saran Becky untuk Generasi Millenial.

Dari keseluruhan kiat yang sudah dijelaskan, Becky maupun Erwin setuju kalau sikap empati yang dihadirkan oleh orang-orang lintas generasi ini adalah kunci utama terciptanya suasana komunikasi yang nyaman antar generasi, khususnya di dunia pekerjaan.

Apabila rasa empati ini terbangun, maka suasana atau iklim komunikasi di kantor akan terasa nyaman. Secara tak langsung, apabila ini terwujud, maka suasana di tempat kerja pun akan jadi sangat menyenangkan.

TemanBaik, berada di generasi manakah kamu dalam dunia kerja? Nah, kalau sudah sadar posisimu, yuk bangun suasana komunikasi yang nyaman antar-generasi. Dengan suasana komunikasi yang nyaman, apapun profesimu di kantor saat ini, dijamin deh, pekerjaanmu akan terasa sangat menyenangkan. Tetap semangat, ya! 

Foto: Tangkapan Konferensi Pers Daring/dok. Kompas Gramedia 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler