Ini Bahaya Gigi Berlubang dan Cara Mengatasinya Selama Pandemi

Jember - TemanBaik pernah mengalami gigi berlubang? Masalah kesehatan gigi satu ini memang lazim dialami oleh siapa saja tanpa pandang usia maupun gender. Beberapa sumber bahkan menyebut bahwa sekitar 90 sampai 95 persen orang di seluruh dunia pernah mengalami masalah gigi berlubang.

Namun sayangnya, tidak sedikit orang yang masih menganggap gigi berlubang sebagai hal yang biasa saja sebelum akhirnya keluhan semakin menjadi-jadi dan risiko yang ditimbulkan semakin besar. Padahal, gigi berlubang punya banyak risiko, loh.

"Risiko akibat gigi berlubang cukup banyak, ya. Hal paling sederhananya adalah menurunnya kepercayaan diri, gigi mudah ngilu saat terkena dingin, panas, maupun manis, makanan yang masuk ke lubang akan menimbulkan rasa sakit, penumpukan makanan pada lubang akan menyebabkan bau, hingga sisa akar berpotensi menjadi jalur masuk bakteri ke pembuluh darah yang akan sampai ke jantung dan menginfeksi daerah jantung," jelas drg. Miftah.

drg. Miftah pun menjelaskan bahwa faktor utama penyebab gigi berlubang adalah gigi itu sendiri, makanan atau diet, waktu, dan bakteri.

"Gigi berlubang terjadi sebagai kombinasi dari empat hal tersebut. Kalau salah satunya tidak terpenuhi, tentu tidak akan terjadi," imbuhnya.

Baca Ini Juga Yuk: Berapa Lama Daging Kurban Bisa Disimpan? Ini Penjelasannya

Bakteri dalam mulut yang kontak dengan makanan atau minuman manis akan menghasilkan asam. Asam tersebut akan merusak lapisan pertama gigi, yakni enamel. Namun, sekali kontak saja tentu tidak akan merusak, karena itu membutuhkan waktu. Artinya, semakin sering frekuensi kontak tersebut terjadi, maka asam akan semakin banyak terbentuk hingga terus menggerus enamel sedikit demi sedikit.

Jika kondisi tersebut dibiarkan terus menerus tanpa adanya perbaikan oral hygiene dan penambalan gigi, maka bakteri dapat menembus ke lapisan gigi berikutnya, yakni dentin. Tahap ini akan menimbulkan gigi ngilu ketika terjadi rangsangan. Pun, kalau kondisi ini dibiarkan begitu saja, maka selanjutnya bagian pulpa akan terkena dampaknya. Oleh karena pulpa terdiri atas pembuluh dan saraf, maka sakit yang dirasakan pun tidak lagi hanya ngilu, tetapi juga sampai nyeri dan bengkak.

Adapun yang perlu digarisbawahi, kondisi gigi seseorang juga turut berpengaruh. Orang dengan lapisan enamel tebal mungkin tidak akan lebih rentan dibandingkan orang dengan lapisan enamel lebih tipis. Selain itu, orang dengan posisi gigi yang tumpang-tindih lebih berisiko mengalami gigi berlubang sebab tumpang-tindihnya gigi membuat pembersihan jadi lebih sulit dilakukan. Akhirnya, banyak sisa makanan menempel di gigi dan bereaksi dengan bakteri menghasilkan asam.

Gigi berlubang sangat mungkin untuk dicabut. Namun, tindakan tersebut adalah pilihan terakhir jika memang lubang yang terbentuk sudah sangat besar dan tidak ada lagi tempat untuk tambalan. Adapun pantauan ada atau tidaknya tempat untuk bahan tambalan perlu didukung adanya foto rontgen. 

Guna menghindari gigi berlubang, drg. Miftah menjelaskan beberapa tindakan preventifnya.

"Sikat gigi dua kali sehari setelah sarapan dan sebelum tidur. Selain itu, setiap selesai mengonsumsi makanan atau minuman manis, biasakan untuk berkumur air. Gunakan juga dental floss untuk membersihkan sisa makanan yang menyangkut di gigi. Terakhir, cek enam bulan sekali ke dokter gigi," ujarnya.

Lalu di masa pandemi seperti ini, apakah setiap keluhan gigi berlubang tetap harus dilakukan dengan pemeriksaan dokter gigi?

"Selama pandemi ini, perawatan gigi yang dapat dilakukan adalah untuk gigi berlubang yang sampai menimbulkan keluhan sakit nyeri, bengkak, lepasnya kawat gigi, pendarahan gusi yang tidak berhenti, serta gigi tiruan yang lepas atau rusak. Jika kondisinya dirasa tidak mengganggu dan tidak sakit, tidak perlu ke dokter dahulu untuk sementara. Namun, pastikan bahwa oral hygiene tetap dilakukan," tambahnya.

Selain itu, jika TemanBaik terpaksa memang harus harus ke dokter gigi, kamu haris memastikan apakah klinik atau tempat praktik tersebut telah menerapkan protokol COVID-19 atau tidak. Pastikan juga apakah tenaga medis terkait menggunakan APD standar atau tidak. Hal yang pasti, jangan lupa untuk selalu memastikan kebersihan serta kesehatan gigi dan mulut kamu ya!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Yusuf Belek

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler