Token Ekonomi, Pendekatan untuk Si Kecil yang Enggan Belajar

Bandung - Meningkatnya penggunaan teknologi dalam kegiatan pembelajaran sekolah membuat si kecil lebih asyik bermain gawai ketimbang belajar. Lalu, bagaimana ya cara kita agar bisa menyikapinya dengan bijak?

Dosen Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia Yusi Riksa Yustinana menyebutkan, penggunaan media daring memang dapat menyebabkan kecanduan, tanpa terkecuali pada anak. Oleh karenanya, sebagai orang tua kita harus waspada dan benar-benar memperhatikan penggunaan gawai si kecil di rumah.

Sejumlah potensi penurunan daya tarik belajar yang muncul saat pembelajaran jarak jauh, seperti menurunnya keinginan siswa mengerjakan tugas dan membaca buku, belakangan diduga karena tingginya aktivitas siswa di dunia maya. Hal ini tentu menjadi keluhan dan kekhawatiran bagi tiap orang tua di rumah.

Menjawab hal tersebut, Yusi menyebutkan pendekatan intervensi psikologis token ekonomi diperlukan sebagai upaya mengatasi hal ini. Menurut Yusi, dalam menerapkan pendekatan ini, orang tua perlu menempatkan sesuatu yang diinginkan sang anak sebagai hadiah. Artinya, sebelum mendapatkan hadiah tersebut sang anak tentu perlu berbuat sesuatu terlebih dahulu.

"Misalnya anak ingin nonton TV, enggak mau buat PR. Nah, kita bisa kasih penekanan, boleh nonton TV, tapi diselingi mengerjakan PR. Saat tayangannya sedang jeda iklan, waktu jeda iklan dipakai untuk mengerjakan PR. Dengan begitu, nonton TV-nya tetap anak dapatkan, PR sang anak juga selesai dibuat," bebernya.

Baca Ini Juga Yuk: Sadari Ini Agar Tak Mudah Kesal saat Dampingi Anak Belajar

Hal serupa juga bisa dilakukan dalam rangka mempertahankan minat baca sang anak. Yusi memberi contoh kasus anak yang lebih tertarik menonton YouTube atau tayangan internet ketimbang membaca. Nah, untuk menyikapi hal tersebut, sebagai orang tua kita idealnya bisa menerapkan pendekatan intervensi psikologis token ekonomi, dengan memperbolehkan sang anak untuk menonton tayangan YouTube, namun dengan syarat harus membaca buku tertentu.

Ia juga menekankan, walau dalam suasana pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh, idealnya orang tua tetap perlu membuat rambu-rambu dalam pembelajaran jarak jauh tersebut. Pengawasan penggunaan media pun harus jadi perhatian utama saat kita mengawasi aktivitas si kecil di rumah.

Selain itu, dalam suasana belajar dari rumah, sebisa mungkin seluruh anggota keluarga mesti menularkan kegembiraan kepada sang anak. Menurut Yusi, kata kunci yang perlu diingat adalah apabila orang tua merasa gembira, maka sang anak pun akan merasakan kegembiraan yang sama. Tentu kamu enggak mau kan si kecil merasa sedih atau cemas? Nah, oleh karenanya, tularkan kegembiraan kepadanya, ya.

TemanBaik, pandemi mengajarkan kita untuk senantiasa beradaptasi dengan beberapa pola kebiasaan yang baru. Hal ini berlaku di berbagai elemen kehidupan. Maka dari itu, jangan sampai ketinggalan apalagi malas beradaptasi, ya. Tetap semangat!

Foto: Ilustrasi Unsplash/NeONBRAND

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler