Menjaga Kebahagiaan di Rumah dengan Anak Down Syndrome

Bandung - TemanBaik, dalam hidup kita diciptakan tuhan dengan keistimewaannya masing-masing. Termasuk teman kita yang terlahir istimewa dengan memiliki kebutuhan khusus yang salah satunya adalah down syndrome.

Bukan hal yang mudah untuk setiap orang tua ketika ditakdirkan memiliki anak dengan down syndrome. Keistimewaan yang dimiliki anak juga perlu didukung dengan keistimewaan orang tua dalam menjaga dan membesarkannya. 

Apalagi dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, tidak bisa dipungkiri jika kita semua memiliki rasa khawatir akan tertular virus yang kini sudah menyebar hampir di seluruh penjuru dunia. Kekhawatiran ini juga tentu dirasakan oleh para orang tua yang memiliki anak down syndrome

Namun tentu saja para orang tua dengan anak down syndrome tidak boleh larut dalam rasa khawatir. Mereka pun perlu bangkit dan melawan rasa khawatir itu menjadi rasa bahagia dan nyaman meski harus berdiam diri di rumah. 

Untuk itu, Komunitas POTADS atau 'Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome' daerah Jawa Barat membuat sebuah webinar dengan tema 'Tetap Bahagia dan Waspada Bersama Anak Down Syndrome di Masa Pandemi'. Webinar ini diisi oleh Teti Nurhayati sebagai pelopor berdirinya Komunitas POTADS di Indonesia sekaligus orang tua yang memiliki anak down syndrom.

Sedikit memberi informasi tentang Komunitas POTADS kepada TemanBaik, komunitas ini disahkan menjadi sebuah yayasan pada tahun 2003. Dengan motto 'Aku Ada Aku Bisa', POTADS ingin memberikan semangat untuk orang tua dan anak down syndrome untuk berjuang agar tetap bisa dan mampu mencapai yang terbaik dari dirinya. 

POTADS berdiri dengan tujuan untuk memberdayakan orang tua dengan anak down syndrome agar bisa terus semangat membantu tumbuh kembang buah hatinya dengan maksimal. Karena tentu saja anak dengan down syndrome pun memiliki hak yang sama seperti anak-anak pada umumnya. 


Foto: Tangkapan Layar Webinar ''Tetap Bahagia dan Waspada Bersama Anak Down Syndrome di Masa Pandemi' / Irsya Kireina

Baca Ini Juga Yuk: Ini Waktu Tepat Bagi Ibu Hamil Mengonsumsi Buah dan Sayur

Dalam webinar yang diselenggarakan oleh PIK (Pusat Informasi dan Kegiatan) POTADS Jawa Barat ini membahas tentang bagaimana semestinya orang tua bisa tetap waspada tapi juga bahagia selama masa pandemi. 

"Orang tua harus bahagia karena efeknya nanti anak juga akan terbawa bahagia. Jangan harap dapat membahagiakan anak jika kita belum bahagia," tegas Teti saat membuka webinar pada Sabtu (15/8).

Kebahagiaan akan bisa diukur dari emosi yang dirasakan. Karena itu menurut Teti, setiap orang perlu menelusuri sendiri apa dan bagaimana emosi yang dirasakannya. 

Orang tua dengan anak down syndrome sudah tentu perlu untuk lebih sensitif terhadap kondisi anak, apalagi dalam masa pandemi seperti ini. Sebisa mungkin menjauhkan dan menjaga anak dari kemungkinan terpapar virus Covid-19.

Teti menjelaskan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun telah memberikan perhatian khusus untuk anak down syndrome saat pandemi Covid-19. Apalagi di Indonesia, kasus positif Covid-19 juga menjangkit anak-anak. Beberapa himbauan yang diberikan IDI untuk anak down syndrome adalah menghindari segala hal yang dapat memungkinkan terpapar virus, anak down syndrom dengan masalah kesehatan lain diharap segera isolasi saat mengalami gejala Covid-19 seperti batuk, dan mempunyai akses yang jelas soal tempat anak berobat saat sakit. 

Komunikasi antara orang tua dengan anak juga diperlukan, karena sudah pasti mereka pun perlu mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan yang ada. 

"Komunikasikan ke anak kalau korona ini berbahaya. Walaupun susah, tapi kita harus semaksimal mungkin mencoba kasih tahu. Pada akhirnya dia akan paham," terang Teti. 

Walau begitu, menurut Teti hal yang paling aman dapat dilakukan oleh orang tua dengan anak down syndrome adalah dengan diam dan beraktivitas di rumah.  Hal ini juga perlu dibarengi dengan saling menjaga antar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. 

Bicara soal penerimaan, setiap orang termasuk orang tua dengan anak down syndrome sangat perlu untuk menerima situasi pandemi saat ini. Salah satu bukti penerimaan tersebut adalah merasa bahagia dengan aman di rumah. 

Dalam sesi perbincangannya Teti menjelaskan jika penerimaan situasi pandemi ini juga melewati lima tahapan. Tahap pertama adalah penolakan, seseorang akan menolak keadaannya saat ini. Lalu ia akan merasa marah karena kebiasaan normalnya akan terganggu, kemudian ia akan ada dalam tahap penawaran dengan diri sendiri untuk bisa mulai menerima kondisi saat ini. Di tahap keempat seseorang akan merasa depresi. Kemudian barulah ia sampai di tahap akhir yaitu penerimaan. Namun belum tentu saat sudah menerima akan terus stabil, melainkan bisa kembali turun ke tahapan sebelumnya. 

Sebelum membahas lebih jauh soal kebahagiaan, di tengah webinar tersebut Teti memberikan kuisioner yang harus diisi seluruh peserta terutama orang tua dengan anak down syndrome yang bergabung.

Kuisioner tersebut mengandung 20 pertanyaan dengan lima kategori pengukur yaitu jarang sekali, jarang, kadang-kadang, sering, dan sering sekali. Setiap soal memiliki skor yang akan dijumlahkan, yang mana hasil akhirnya akan menentukan ukuran kebahagiaan yang dirasakan. 

Pengukuran tingkat kebahagiaan orang tua ini dilakukan Teti agar setiap orang tua bisa mengetahui ukuran kebahagiaannya dengan harapan ia bisa lebih baik mengontrol emosinya menjadi lebih positif.

"Kebahagiaan itu milik semua orang. Tidak karena kita punya anak down syndrome jadi tidak bahagia. Asal kita tahu dimana celah mencari kebahagiaan. Kebahagiaan memang tidak bisa dibeli, tapi bisa diusahakan," ujar Teti.

Dalam situasi seperti ini, orang tua perlu menciptakan suasana yang positif untuk dirinya dan juga anak. Menciptakan suasana positif bisa diawali dengan menciptakan emosi yang positif pula. 

Menurut Teti, emosi positif bisa tercipta saat seseorang bisa melepaskan emosi negatif dalam dirinya. "Menghasilkan emosi positif bisa dimulai dari melakukan kegiatan atau hobi yang kita sukai," tambah Teti. 

Dalam webinar ini, Teti juga menjelaskan fungsi adanya emosi dalam diri kita. Di antaranya adalah memberi warna pada hidup, memberi energi besar, mudah berkreasi, emosi bisa menular, dan dapat mempererat hubungan antar manusia.

Bicara soal emosi yang bisa menular, hal ini sejalan dengan apa yang sudah disinggung Teti di awal webinarnya ya, TemanBaik. Yaitu jika orang tua bahagia, maka anak pun anak bahagia. 

Namun bukan berarti emosi negatif yang kita rasakan tidak berarti loh, TemanBaik. Sebagai manusia kita tentu memiliki emosi negatif seperti rasa sedih, marah, bahkan kecewa. Emosi negatif ini bisa berguna jika kita mau mengevaluasinya. Salah satunya dengan mencari tahu mengapa perasaan negatif ini muncul.

"Ada tiga fase kebahagiaan. Kebahagiaan ketika kita puas di masa lalu. Puas menyelesaikan, menerima, dan melewati masa lalu kita. Lalu kebahagiaan masa sekarang membuat kita senang untuk menjalani hidup, dan kebahagiaan masa depan yang membuat kita optimis dengan harapan," ujar Teti.

Di akhir pemaparannya tak lupa Teti pun meyakinkan seluruh orang tua dengan anak down syndrom jika kita semua bisa sama-sama dengan optimis melewati pandemi ini. 

Namun tentu saja sebenarnya menjaga diri untuk tetap bahagia dan waspada dalam situasi pandemi ini perlu dilakukan oleh kita semua. Jadi, tetap semangat dan jaga kesehatan ya, TemanBaik. Usahakan diam di rumah sebisa mungkin dan patahi protokol kesehatan saat harus keluar rumah!

Foto: Ilustrasi Unsplash/jenifer Arraujo

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler