Ini 3 Hal Penting untuk Membina Hubungan yang Sehat

Depok - Sepanjang hidup kita sebagai manusia tentu menjalin hubungan dengan manusia lainnya. Setiap hubungan, baik ataupun buruk, akan berdampak pada kehidupan dan perkembangan seseorang. 

Sayangnya, kita seringkali tidak menyadari apakah hubungan yang kita jalin termasuk dalam hubungan yang sehat atau tidak. Padahal, sehatnya hubungan penting untuk dijaga karena akan berpengaruh baik untuk kesehatan mental. 

Di masa pandemi seperti ini, tak sedikit orang yang diuji soal hubungannya. Kondisi pandemi yang memaksa untuk tak bisa bebas kemanapun, membuat mereka merasa merasa terjebak bersama orang-orang dengan kualitas hubungan yang kurang baik. 

BEM IKM FKUI 2020 membuat gerakan bernama 'QualityTine' yang berisikan ajakan untuk membangun kesehatan mental selama masa karantina. Salah satu kegiatan yang mereka buat adalah webinar, dan kemarin (26/8) webinar yang dibuat oleh 'QualityTine' mengangkat tema membina hubungan yang sehat. 

Dalam webinar yang diberi judul "Maintaining Healthy Relationships: Friendships, Family Relationships, and Romantic Relationships" ini mengundang dr. Gina Anindyajati, Sp.KJ seorang dokter spesialis kedokteran jiwa yang salah satunya melakukan praktik di rumah sakit Universitas Indonesia sebagai pembicaranya. 

Membina hubungan yang sehat penting kita lakukan terutama dalam kondisi pandemi saat ini. Setidaknya kita bisa memperbaiki kualitas diri dan orang disekitar kita untuk hubungan yang lebih baik sehingga tidak menimbulkan rasa cinta yang palsu atau terpaksa mencintai. 


Foto: Tangkapan layar "Maintaining Healthy Relationships: Friendships, Family Relationships, and Romantic Relationships"


Baca Ini Juga Yuk: Pentingnya Merencanakan Keuangan untuk Impian Masa Depan

Hubungan merupakan asosiasi yang berkelanjutan dan adanya komitmen antara dua orang atau lebih. Jadi hubungan tidak hanya bicara soal pacaran atau suami dan istri, tapi ada hubungan keluarga, pertemanan, hingga kolega. 

"Ketika punya hubungan yang berkelanjutan dan berkomitmen, akan saling mempengaruhi pikiran, perilaku, dan perasaan satu sama lain. Kalau sudah tidak mempengaruhi, misal merasa 'terserah deh dia mau ngapain' itu harus hati-hati karena bisa jadi hubungannya sudah berakhir," ujar Gina. 

Dalam menjalani hubungan, menurut George Levinger ada lima tahapan yang bisa kita lalui. Apa saja? Yuk, kita simak!

Tahap pertama adalah acquaintance atau disaat kita merasa tertarik. Sebelum menjalani hubungan entah dengan pasangan atau teman, sepertinya hal yang biasa jika diawali dengan rasa tertarik kan, TemanBaik. Tertarik untuk berkenalan, yang kemudian lebih dekat hingga menjadi teman bahkan pasangan.

Namun mungkin kita berpikir dalam hubungan keluarga tahapan ini tidak berlaku. Tapi menurut Gina, dalam hubungan keluarga, kita pun melewati tahap ketertarikan. Karena tak sedikit kasus orang tua yang tidak dapat mengembangkan ketertarikan pada anaknya, dan sebaliknya. 

Ketika kita tertarik dengan orang lain, maka kita akan melakukan berbagai cara agar orang tersebut juga tertarik pada kita. Jadi diharapkan timbul rasa tertarik satu sama lain.

Tahap kedua adalah build-up atau mulai membuka diri. Tahap ini dilakukan agar kita bisa lebih mengenal satu sama lain. Misalnya dalam hubungan keluarga, seringkali kita sudah merasa tahu keluarga kita seperti apa. Tapi jangan-jangan itu hanya simpulan berdasar apa yang kita lihat dan mereka lakukan.

"Coba lebih membuka diri untuk saling mengenal. Sehingga tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan, tidak hanya berdasar dari apa yang dilakukan," ujar Gina. 


Foto: Tangkapan layar "Maintaining Healthy Relationships: Friendships, Family Relationships, and Romantic Relationships"

Baca Ini Juga Yuk: Begini Cara Generasi Muda Bantu Kurangi Risiko Perubahan Iklim

Tahap ketiga adalah continuation atau komitmen jangka panjang. Dalam tahapan ini, semua yang terlibat dalam suatu hubungan harus memiliki kesepakatan bersama untuk menjalani komitmen yang sudah dimiliki. 

Tahap keempat adalah deterioration atau mulai munculnya permasalahan karena beberapa faktor. Salah satunya adalah kita yang hanya berperilaku seadanya, dan tidak ada lagi usaha untuk menjadi yang terbaik. 

Munculnya permasalahan ini juga dapat memicu perasaan terjebak dan merasa tidak memiliki alternatif lain sehingga orang yang menjalaninya merasa tidak memiliki pilihan apapun untuk keluar dari hubungan tidak nyaman tersebut. 

"Misal mau keluar gak punya temen atau pacar, mau diam di rumah juga hubungan sama keluarga tidak enak," tambah Gina.

Nah, jika kita terlalu lama ada dalam tahap keempat ini tanpa punya solusi terbaik, entah untuk mempertahankan atau meninggalkan, maka itu dapat membuat kita berada dalam hubungan yang tidak sehat atau toksik relationship

Tahapan terakhir adalah ending atau saat kita sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Seperti pada tahap pertama, mungkin kita merasa dalam hubungan keluarga tidak akan melewati tahap ending atau mengakhiri. Namun menurut Gina, tidak sedikit loh orang yang merasa tidak mau lagi menjadi bagian dari keluarganya, dan merasa akan punya hidup lebih baik jika tidak ada lagi dalam keluarga tersebut.

"Jadi putus tuh bukan cuma ada dalam hubungan pacaran atau suami-istri. Dalam hubungan keluarga pun bisa ada di tahap ini," ujar Gina. 

Membina Hubungan yang Sehat
Hubungan yang sehat merupakan hubungan yang didalamnya ada keseimbangan kuasa dan rasa hormat antara satu pihak dan pihak lain. 

Sedangkan hubungan yang tidak sehat ada ketika perilaku satu pihak merusak pihak lain baik secara emosional maupun fisik. Biasanya hubungan ini ditandai dengan adanya kekerasan, komunikasi yang tidak baik, hingga intimidasi. 

Disampaikan oleh Gina, ada tiga hal yang perlu kita kembangkan untuk membangun hubungan yang lebih sehat.

Pertama adalah kepercayaan. Menurut Gina ini hal penting yang harus ada dalam suatu hubungan dan dimiliki oleh setiap orang yang ada didalamnya. 

Untuk membangun kepercayaan, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Misalnya dengan menjadi orang yang dapat diandalkan, bisa menghargai perasaan orang lain, menjadi orang yang jujur, dan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. 

Kedua adalah membuat batasan. Kita harus selalu sadar jika dalam suatu hubungan ada aku, yaitu diri sendiri, dan kamu, yaitu orang lain yang memiliki hubungan dengan kita. 

Bicara soal batasan, kita harus mampu terlebih dahulu membuat batasan diri kita sendiri. Batasan adalah soal tolak ukur. "Apa yang saya pikirkan, lakukan, dan rasakan itu adalah saya. Bukan kamu," tambah Gina.

Walaupun memang dalam hubungan kita akan saling mempengaruhi satu sama lain, tapi kita harus tetap sadar jika dalam satu hubungan ada dua bahkan lebih individu yang berbeda. Jika kita tidak tegas akan batasan kita, maka akan mudah terpengaruh sehingga membaur.

"Jangan aku jadi kamu, dan kamu jadi aku. Apa yang kamu lakukan memang mempengaruhi saya, tapi saya sadar kalau itu perilaku kamu dan saya akan menentukan respon saya. Orang yang bisa menentukan batasannya adalah orang yang sadar mana pikirannya dan mana pikiran orang lain," tegas Gina. 

Setelah tahu bagaimana batasan kita, maka perlu memberi tahu batasan tersebut pada orang lain yang memiliki hubungan dengan kita. Selain itu, kita pun berhak untuk mengingatkan jika suatu saat ada perilaku orang lain yang melewati batasan yang telah kita buat. Tentu kita akan merasa tidak nyaman jika batasan kita terusik kan, TemanBaik?

Hal ketiga yang perlu dikembangkan adalah komunikasi yang baik. Gina menjelaskan jika komunikasi yang baik dalam hubungan adalah komunikasi asertif.

Komunikasi asertif merupakan komunikasi dengan cara penyampaian perasaan, pikiran, dan pendapat dengan jujur serta terbuka tanpa melanggar hak orang lain. Komunikasi ini juga didasarkan pada keseimbangan. 

Fungsi dari mengimplementasikan komunikasi asertif adalah dapat menciptakan kesepakatan yang saling menguntungkan, membina hubungan yang jujur, bahkan bisa mendorong rasa saling menghargai. 

Gina mengingatkan, ketika kita berkomunikasi jangan sampai ada pihak pasif yang merasa tidak dihargai. Baiknya kita menyampaikan keinginan sekaligus menanyakan pendapat lawan bicara untuk menentukan keputusan. 

"Sama-sama bicara, sama-sama mengeluarkan pikiran, lalu sama-sama mencari solusi. Tidak intimidatif," tambah Gina.

Untuk membangun komunikasi asertif kita bisa memberi tahu orang lain tentang apa yang kita pikirkan dan rasakan tanpa menghakimi. Sampaikan juga dampak dari perilaku mereka terhadap kita, dan jangan lupa untuk sampaikan apa yang kita harapkan dari mereka ya, TemanBaik. 

Jadi penting untuk kita menyadari apakah hubungan yang kita jalin saat ini, baik dengan orang tua, teman, atau pasangan, sudah termasuk hubungan yang sehat atau tidak sehat. 

Hubungan yang sehat bisa kita bangun dengan mempelajari setiap tahap yang bisa terjadi dalam hubungan dan berusaha mengembangkan faktor-faktor pendukung sehatnya hubungan. 

Semoga keadaan pandemi saat ini bisa membuat kita terhindar dari perasaan terjebak dalam suatu hubungan. Melainkan dapat membuat kita terus meningkatkan kualitas hubungan dengan sekitar ya, TemanBaik.

Foto: Ilustrasi Unsplash/Kelly Sikerrma


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler