Bijak Gunakan Ponsel Pintar Agar Tidak Kecanduan

Bandung - Jika bicara soal ponsel atau lebih akrab disebut handphone sebenarnya bukan hal baru bagi kita. Mulai dari ponsel yang hanya bisa digunakan untuk berkirim pesan dan telepon hingga seiring berkembangnya zaman, semakin canggih dan banyak pula fitur dari  ponsel ini. 

Kecanggihan ponsel tersebut melahirkan istilah ponsel pintar (smartphone), yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan ponsel yang dapat melakukan banyak fungsi seperti komputer. Biasanya memiliki antarmuka layar sentuh, akses internet, dan sistem operasi yang dapat menjalankan aplikasi terunduh. 

Sesuai dengan definisi dari KBBI saja sudah terbayang bagaimana canggih dan bergunanya ponsel pintar yang kita miliki ya, TemanBaik. Rasanya semua hal bisa kita dapatkan hanya dari satu barang elektronik itu saja. Bermain games, nonton film, berselancar di media sosial, hingga menyetel alarm untuk bangun tidur.

Namun terkadang, disadari ataupun tidak, kecanggihan dan kelengkapan yang ada pada ponsel pintar seringkali membuat kita lupa waktu saat menggunakannya. Bahkan karena terlalu asyik bermain ponsel, pekerjaan kita sampai terbengkalai. Wah, adakah TemanBaik yang sampai seperti itu?

"Ponsel adalah adiksi terbesar di luar obat-obatan di abad sekarang. Fenomena yang sering kita lihat bahkan kita lakukan saat ini, yaitu menggunakan ponsel dalam setiap kegiatan," ujar Erni Julianti Simanjuntak, S.Psi., M.Sc., seorang dosen psikologi di Universitas Pelita Bangsa sekaligus pembicara dalam webinar ''Smartphone Addiction & Nomophobia pada", Senin (31/8/2020). 

Dari penelitian yang sudah dilakukan, menurut Erni 39% masyarakat Indonesia mencari dan beraktivitas dengan ponselnya saat ia bangun tidur. Bahkan 38% mahasiswa atau pelajar tidak akan memulai aktivitas sebelum menghabiskan waktu dengan ponselnya terlebih dahulu. 

Baca Ini Juga Yuk: Amankah Susu Bagi Pengidap Diabetes & Lansia? Ini Penjelasannya

Fenomena ini bisa mengarahkan kita kepada smartphone addiction atau kecanduan penggunaan ponsel. Hal ini adalah ketika penggunaan ponsel pintar berlebihan dan ada keinginan yang tidak terkendali untuk terus melakukannya. Sehingga dapat menimbulkan perasaan panik dan tidak nyaman saat kita sedang tidak bisa menggunakan ponsel. 

Ada enam aspek yang menjadi ciri dari diri yang terjangkitkecanduan penggunaan ponsel. Pertama disebut dengan salience (memiliki arti penting) atau ketika kita menganggap aktivitas penggunaan ponsel adalah prioritas dalam hidup. 

Kedua ada mood modification yang mana dalam hal ini kita merasa ponsel bisa memperbaiki mood. Misal ketika merasa sedih atau stres, lalu bermain ponsel, maka kita akan merasa lebih tenang dan relaks.

"Ada pengalaman dan perasaan subjektif dari individu sebagai akibat dari penggunaan ponsel. Karena ketertarikan dengan perasaan senang itu seseorang jadi tidak mau lepas dari ponselnya," terang Erni. 

Aspek ketiga adalah tolerance atau saat kita terus mentoleransi diri ketika menggunakan ponsel secara berlebihan. Semakin sering menggunakan ponsel, maka akan ada fase dimana kita terus menambah kuantitas waktu saat menggunakannya. 

Dalam aspek tolerance ini, penambahan waktu penggunaan ponsel dilakukan dengan harapan kita bisa merasakan sesuatu yang kita rasakan sebelumnya. Misalnya kita merasa senang saat menggunakan ponsel satu jam, maka di satu jam berikutnya kita berharap bisa terus merasa senang. 

Keempat adalah withdrawal symptoms atau adanya perasaan tidak nyaman saat ponsel berada jauh dan sedang tidak bisa kita gunakan. 

"Kalau ponsel kita ketinggalan lalu ada perasaan gak enak atau panik. Bahkan ada diantara kita yang memutuskan pulang kembali ke rumah untuk ambil ponsel yang tertinggal," ujar Erni. 

Aspek kelima adalah conflict. Konflik atau masalah seringkali timbul ketika kita menggunakan ponsel tanpa batas. 

Erni membagi kembali konflik ini menjadi tiga bagian, yaitu konflik yang terjadi pada lingkungan personal seperti keluarga, teman, dan pasangan. Biasanya konflik terjadi karena kita merasa tidak didengar atau diabaikan saat berbicara karena lawan bicara yang asyik dengan ponselnya.

Selain itu ada konflik dengan pekerjaan atau pendidikan. Misalnya pekerjaan atau tugas kita terus tertunda bahkan tidak selesai karena lupa waktu saat bermain ponsel. Bahkan tak jarang, kita melampiaskan masalah pekerjaan dengan bermain ponsel padahal itu belum tentu membuat masalah terselesaikan. 

Terakhir, konflik juga dapat terjadi terhadap diri sendiri. Hal ini terjadi saat diri kita sadar jika sudah berlebihan menggunakan ponsel tetapi merasa sulit untuk mengakhirinya. 

"Kita jadi kehilangan kontrol diri. Timbul perasaan kesal dengan diri sendiri karena tidak bisa menghentikan penggunaan ponsel yang berlebihan. Nah ini menimbulkan konflik dengan diri sendiri," ujar Erni. 

Aspek terakhir adalah relapse atau ketika kita kembali menggunakan ponsel secara berlebihan setelah berhasil berhenti beberapa waktu. Aspek ini bisa terjadi karena kita sudah terlanjur dekat dan ketergantungan dengan adanya ponsel. 

Bagaimana TemanBaik, setelah tahu aspek apa saja yang berpotensi menandakan diri kita sudah kecanduan ponsel, apakah kamu termasuk didalamnya? Semoga tidak ya!

Nomophobia
Namun ternyata, kecanduan ponsel ini mempunyai dampak yang lebih jauh lagi. Dampak tersebut adalah ponsel bisa membuat kita terjangkit 'nomophobia' atau rasa takut ketika tidak dekat dengan ponsel yang kita miliki. 

"Bahkan bukan hanya takut ketika tidak bisa bersama ponselnya, tapi juga takut ketika tidak bisa menggunakan ponselnya. Seperti karena tidak ada jaringan, dan kehabisan baterai. Ini membuat penderitanya cemas," terang Erni. 

Diakui Erni, nomophobia memang belum secara resmi dinyatakan sebagai gangguan mental pada Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM) ke-5. Namun, banyak peneliti yang meminta nomophobia menjadi fokus di DSM yang akan dirancang selanjutnya.

Namun pada DSM ke-4 lalu, nomophobia diindentifikasi dan memenuhi kriteria sebagai jenis phobia spesifik, atau ketakutan dengan situasi spesifik yaitu ketika seseorang ada pada situasi tidak bisa menggunakan ponselnya. 

Ada empat aspek yang dapat menjadi ciri kita sudah terjangkit nomophobia. Pertama adalah ketika kita tidak bisa berkomunikasi secara instan. Adanya ponsel membuat kita ingin terus berkomunikasi dan mendapat tanggapan yang cepat. "Jadi ketika gak bisa menghubungi orang lain, ada perasaan cemas," tambah Erni. 

Kedua adalah hilangnya koneksi atau perasaan cemas yang timbul ketika ponsel kehilangan akses koneksinya. Hal ini termasuk ketika kita tidak bisa mengakses identitas sosial di media sosial. Misalnya rasa cemas karena tidak bisa melihat komentar, likes, atau balasan di akun media sosial yang kita miliki. 

Aspek ketiga adalah cemas saat tidak bisa mengakses informasi dengan cepat. Perasaan cemas ini muncul ketika kita tidak lagi terbantu oleh ponsel saat mengakses informasi sehingga tidak tahu hal terbaru apa yang sedang terjadi. 

Aspek terakhir adalah ketika kita tidak mau kehilangan kenyamanan. Kita bisa akui bersama ya TemanBaik, jika adanya ponsel membuat segalanya terasa mudah. Banyak fitur yang memberikan kenyamanan dan kemudahan kita untuk beraktivitas. Kenyamanan inilah yang dapat membuat kita bergantung pada ponsel secara berlebihan.

Lantas mengapa ya kita bisa menjadi nomophobia? Disampaikan oleh Erni, sebenarnya ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi pada diri kita sebagai pengguna ponsel.

Faktor pertama tentu saja era digital yang tidak bisa kita hindari, dan kecanduan ponsel ini menjadi salah satu dampak negatif dari era digital. Selain itu tentu layanan yang ditawarkan ponsel yang membuat hidup kita menjadi lebih mudah dari berbagai aspek. 

Saat ini, keberadaan ponsel yang sudah bisa menggantikan posisi komunikasi tatap muka. Tentu adanya fitur telepon menggunakan video bisa membuat kita melihat wajah lawan bicara walau berjauhan bukan? 

Faktor lainnya adalah karena kita sudah merasa ponsel sebagai bagian dari diri bahkan bisa digunakan untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri.

Bahkan ketergantungan dengan ponsel ini bisa disebabkan oleh sisi psikologis kita. Misalnya rasa kepercayaan diri yang rendah sehingga membuat kita lebih nyaman menggunakan ponsel daripada harus berinteraksi langsung dengan orang lain. 

Wah bahaya sekali ya TemanBaik jika kita sampai merasa takut ketika harus jauh dari ponsel untuk sementara waktu? Kita memang tidak akan sulit jika tidak ada ponsel. Sulit untuk berkomunikasi dengan orang yang jauh dari kita, sulit mengakses informasi, hingga banyak kenyamanan yang akan hilang dari diri saat ponsel tidak ada.

Tapi dengan kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan oleh ponsel bukan berarti bisa menjadi alasan untuk kita lupa waktu saat menggunakannya ya, TemanBaik.

Jangan sampai ponsel merenggut kedekatan kita dengan orang sekitar atau menghilangkan kesempatan untuk mengembangkan diri dan mengeksplorasi kegiatan di dunia nyata. Yuk gunakan ponsel pintar dengan pintar pula, TemanBaik!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Paul Hanoka

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler