Yuk! Kelola Rasa Tak Aman dalam Diri

Bandung - Rasa tidak aman atau disebut insecure merupakan hal yang wajar. Namun, rasa ini bisa dikelola atau dikendalikan agar tak sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Untuk diketahui bersama, lawan dari rasa insecure itu sendiri adalah perasaan aman secara emosional. Psikolog Anastasia Satriyo menyebut, cara mengubah insecure ini dimulai dengan mengenal rasa itu sendiri. Apabila dulu kita mengenal cara pengelolaan emosi hanya ada dua yaitu ditahan dan dilampiaskan, maka saat ini kita perlu tahu kalau emosi itu bisa dikelola di tengah-tengah.

Nah, untuk memudahkan, kita bisa menggunakan skala 1 sampai 10. Jadi, kita bisa menghitung seberapa inscure sih kita?

Skala yang dimaksud adalah angka 1 yang paling ringan, dan 10 merupakan angka yang paling besar. Anastasia menambahkan, hal menarik dari sebuah emosi adalah emosi itu sendiri akan berkurang setelah kita mengenalinya. Maka dari itu, perlu untuk kita memvalidasi atau memastikan emosi kita.

"Analoginya seperti kita menyetir. Terlalu ngebut kan enggak enak, terlalu hati-hati juga enggak enak," katanya.

Pada dasarnya, enggak apa-apa kok kalau TemanBaik sedang merasa insecure, marah, sedih, dan lain sebagainya. Namun, kita perlu mengenal seberapa besar skala perasaan yang kita rasakan saat ini. Ada beberapa rasa yang dalam skala tertentu masih wajar hinggap di diri kamu. Misalnya, kamu sedang merasa insecure namun rasa itu berada di skala 2 atau 3 dari 10, maka angka tersebut dianggap oleh Anastasia sebagai angka yang wajar.

Baca Ini Juga Yuk: Pentingnya Mengenal Diri Sendiri Agar Terbebas dari Jerat Narkoba

Nah, kalau insecuremu sudah berada di skala 9 hingga 10, barulah itu bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang tidak sehat. Apabila kamu sudah mencapai titik tersebut, kamu perlu untuk segera memulihkan kondisi psikologismu. Jika hal itu tidak bisa dilakukan sendiri, kamu disarankan untuk mencari bantuan profesional. Jangan sampai kamu merasa menderita sendirian ya, TemanBaik. Karena saat ini bantuan sudah banyak tersedia.

Hal yang juga enggak kalah penting adalah kamu perlu menerima perasaan insecure atau emosi apapun yang hinggap dalam dirimu. Menurut Anastasia, apabila emosi dalam dirimu ditahan, maka suatu hari nanti, hanya perlu trigger atau pancingan kecil saja, emosi tersebut akan meledak Oleh karenanya, kita perlu mengelola perasaan dan emosi dalam tubuh kita dengan skala harian.

"Boleh kok ngerasa insecure, sedih, marah, tapi cukup setengah jam atau satu jam per hari saja, misalnya," kata Anastasia. Ia juga menganalogikan skala harian dalam mengelola emosi sama halnya dengan kegiatan perawatan tubuh yang biasa kita lakukan per hari seperti mandi, misalnya. Coba bayangkan, aktivitas mandi bukan sesuatu yang bisa dikolektif untuk satu minggu atau per sekian hari bukan?

Selain itu, penting juga untuk kita berhenti menyalahkan orang lain. Menurut Anastasia, ini merupakan victimize mindset atau pola pikir sebagai korban. Dengan pola pikir yang memposisikan diri selalu sebagai korban, dampaknya adalah kita tidak punya kekuatan untuk mengubah diri menjadi lebih baik.

"Luka-luka emosi psikologis kita bukan kesalahan kita, namun proses pemulihan diri kita merupakan tanggung jawab kita," pungkasnya.

TemanBaik, perlu diingat, perasaan apapun yang hinggap dalam diri kita hanya perlu diterima saja. Namun tetap harus diatur, dikontrol, agar tidak sampai mengganggu aktivitas kita sehari-hari. Setelah mengenal dan menerima emosi tersebut, baru kita bisa melepaskannya dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik lagi. Tetap semangat, ya!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Nate Neelson

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler