Yuk! Kenali Tiga Perbedaan Jenis Obat Herbal

Bandung - TemanBaik, selama beberapa tahun terakhir ini penggunaan obat herbal cukup digemari. Itu karena obat herbal memiliki ragam khasiat dan diyakini lebih aman bagi tubuh.

Namun, tahu enggak jika apa yang kerap disebut publik sebagai obat herbal itu ternyata diklasifikasikan ke dalam tiga jenis? Apa saja?

"Obat herbal itu ada tiga. Ada jamu, obat herbal terstandar, dan ada fitofarmaka," kata Wakil Ketua Bidang Apoteker Advance dan Spesialis Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Prof. Dr. Kerry Lestari Dandan, Apt., M.Si.

Bagi yang belum tahu, mungkin ketiga jenis herbal ini dianggap sama saja satu sama lain. Namun, ketiganya tentu berbeda. Agar lebih jelas perbedaan di antara ketiganya, simak ulasannya, yuk!

1. Jamu
Jamu sendiri kerap disebut sebagai obat herbal oleh sebagian masyarakat. Sebab, bahan baku pembuatannya berasal dari bahan alami, terutama tumbuhan.

"Jamu itu tanpa klaim khasiat, tapi secara turun-temurun mempunyai efek yang dirasakan," kata Kerry.

Karena tidak mengklaim khasiat untuk penyembuhan, biasanya pada kemasan jamu memiliki tulisan tersendiri. "Biasanya pada jamu itu tulisannya 'membantu meningkatkan daya tahan tubuh', kurang lebih begitu," ungkapnya.

Kenapa hanya menuliskan seperti itu? Itu karena uji klinis dan preklinisnya belum terbangun dengan baik. Sehingga, tidak ada klaim yang bisa dilakukan terhadap jamu.

Baca Ini Juga Yuk: Pentingnya Makan Tiga Kali Sehari dengan Waktu Teratur

2. Obat Herbal Terstandar
Jika pada jamu belum ada uji klinis dan preklinis, pada obat herbal terstandar biasanya sudah dilakukan uji preklinis. Uji preklinis ini meliputi uji khasiat dan uji keamanan terhadap hewan. Hasilnya pun dikategorikan berkhasiat dan aman.

Karena itu, biasanya pada kemasan obat herbal terstandar ini terdapat klaim. Namun, klaim yang ada 'kurang tegas' karena obat ini digunakan untuk membantu penyembuhan, bukan untuk proses penyembuhan seutuhnya.

"Jika sudah ada uji preklinik, yaitu uji khasiat dan uji keamanan pada hewan, itu namanya obat herbal terstandar. Nanti di situ (pada kemasan) mulai ada klaim khasiatnya, tapi kalimnya misalnya 'membantu mengendalikan gula darah', bukan dianggap sebagai antidiabetes," jelas Kerry.

3. Fitofarmaka
Fitofarmaka ini bisa disebut sebagai bagian 'tertinggi' obat herbal. Sebab, obat ini benar-benar dikategorikan sebagai obat yang bisa diklaim untuk proses penyembuhan suatu penyakit.

Pada fitofarmaka, pengujian juga lengkap dilakukan, mulai dari uji preklinis terhadap hewan hingga uji klinis terhadap manusia. Hasilnya pun dikategorikan aman dan berkhasiat. Sebab, ada berbagai rangkaian pengujian dan pembuktian yang dilakukan.

Setelah tahu ketiga perbedaan obat herbal di atas, mana yang kamu pilih? Tentu ini disesuaikan dengan kebutuhan kamu ya. Pertimbangkan dan minta saran pada ahlinya agar tak salah mengonsumsi jamu, obat herbal terstandar, atau fitofarmaka.

Foto: Ilustrasi Pexels/Pixabay

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler