Yuk! Lebih Bijak & Berempati Saat Gunakan Jasa Ojol

Bandung - TemanBaik, keberadaan ojek daring alias ojek online (ojol) memberi manfaat tersendiri bagi masyarakat. Selain mengantar penumpang, mereka bisa membantu pengantaran makanan hingga pengiriman barang.

Namun, terkadang konsumen menggunakan jasa mereka dengan kurang bijak. Contohnya sopir ojol membawa barang berukuran besar milik atau pesanan konsumen di sepeda motornya. Bahkan, ada juga yang membawa besi atau kayu yang cukup panjang.

Ini tentu tindakan kurang bijak. Sebab, dalam ada aturan lalu lintas yang harus ditaati. Contohnya di Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2004 tentang barang bawaan, disebutkan tinggi barang bawaan tidak boleh melebihi 900 milimeter atau kurang dari satu meter dari tempat duduk pengemudi.

Dalam peraturan itu juga disebutkan muatan (termasuk barang bawaan) tidak melebihi setang kemudi. Barang muatan pun harus ditempatkan di belakang. Sedangkan untuk panjang barang muatan memang tidak disebutkan secara khusus, namun kerap kali ada pengguna sepeda motor membawa muatan dengan panjang melebihi sepeda motornya.

Peraturan itu jelas dibuat untuk keamanan dan kenyamanan bersama. Di satu sisi, pengguna sepeda motor akan aman dan nyaman. Di sisi lain, masyarakat di sekitar juga dijaga keamanan dan kenyamanannya.

Baca Ini Juga Yuk: Atalia Praratya & Sejarah Baru Pramuka Jabar

Sedangkan jika barang muatan melebihi kapasitas yang ditentukan, pengemudinya berada dalam bahaya, termasuk membahayakan orang lain. Di saat yang sama, pengemudinya juga terancam kena tilang oleh polisi.

Namun, terkadang aturan ini tak dipedulikan atau tak disadari konsumen ojol. Sehingga, kerap terjadi ada yang mengirim barang menggunakan jasa ojol dengan melanggar aturan. Yang menjadi dilema, sopir ojol mayoritas tak bisa menolak pesanan atau permintaan yang masuk. Sebab, jika menolaknya, mereka biasanya akan terkena pengurangan poin atau disanksi perusahaannya.

Contoh lain sikap tak bijak konsumen adalah menggunakan mobil dengan kapasitas berlebih. Ini juga kerap terjadi. Apalagi, saat pandemi COVID-19, pemerintah mengatur agar penggunaan mobil hanya 50 persen dari kapasitas dan penumpangnya harus berjarak.

"Di masa pandemi ini kita tahu persis untuk mobil (dengan dua baris kursi) hanya diisi dua orang. Tapi ada konsumen yang ngotot mengisinya empat orang. Ini kok (konsumennya) enggak ngerti atau enggak paham aturan?," kata dosen Hukum Perlindungan Konsumen dan Kebijakan Publik Pascasarjana Universitas Pasundan Firman Nurmantara kepada BeritaBaik.id.

Karena itu, ia mengajak publik untuk bersikap bijak menggunakan jasa ojol. Meski konsumen memiliki hak, namun ada aturan yang harus ditaati. Jangan sampai konsumen 'memaksa' sopir ojol melakukan pelanggaran. Sebab, yang jadi korban utama adalah sopir ojol.

Misalnya ketika membawa barang melebihi kapasitas yang ditetapkan, sopir ojol berpotensi mengalami kecelakaan, bahkan membuat pengendara lain atau orang sekitar juga turut celaka. Di saat yang sama, mereka juga besar kemungkinan ditilang. Jika kena tilang, tentu mereka harus membayar denda atau menerima hukuman lainnya sesuai aturan yang berlaku.

Sementara konsumen yang mengirim barang bisa leha-leha di rumah tanpa merasakan dampak negatif dari perilakunya. Coba deh bayangkan ada di posisi sopir ojol dan kamu membawa barang bawaan sambil melanggar aturan.

"Soal hak dan kewajiban konsumen ini, kalau mobil hanya untuk dua orang, konsumen harus nurut. Kemudian barang bawaan juga jangan asal. Karena banyak pengaduan dari driver ojol seperti itu," jelas Firman.

Apalagi, ada juga kasus lain yang kerap dialami sopir ojol. Mereka kerap menerima pesanan makanan fiktif dan konsumen menjanjikan membayar tunai saat pesanan tiba. Ini otomatis membuat sopir ojol membayar pesanan lebih dulu dengan uang pribadinya.

Namun, setelah pesanan diantarkan, konsumen tak membayar karena mengaku tak memesanannya. Bahkan, ada konsumen yang justru tak ada di tempat pengantaran. Sehingga, sopir ojol pun menuai kerugian karena harus membeli pesanan yang masuk.

"Hal seperti ini kejahatan. Ini biasanya ada konsumen yang usil atau jahat. Kasihan driver-nya kalau seperti ini," tutur Firman.

Foto: Ilustrasi Unsplash/Fikri Rasyid

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler