Begini Tips Menjadi Pewawancara yang Keren ala Iyas Lawrence

Jakarta - TemanBaik, belakangan kita makin familiar dengan yang namanya podcast atau siniar. Konten audio yang biasanya berdurasi 15 menit hingga 1 jam ini sedang digemari oleh banyak orang. Belakangan mulai bermunculan podcast yang dibuat oleh berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari yang berisi obrolan tongkrongan, hingga bahasan serius seperti politik dan kesehatan.

Salah satu jenis podcast yang digemari adalah podcast dengan bentuk wawancara. Podcast yang bisa dibilang menduduki peringkat teratas dalam genre ini adalah Makna Talks. Sebuah podcast yang menghadirkan berbagai macam individu seperti artis, seniman, atlet, hingga politisi. Dipandu oleh Iyas Lawrence, Makna Talks berhasil menembus lebih dari 100 episode.

Pada Rabu (14/10), Kaskus mengadakan sebuah acara yang berjudul "Kelas Podcast Lagi!" dan menghadirkan Iyas Lawrence sebagai salah satu pemateri. Salah satu materi yang disampaikan Iyas adalah bagaimana menjadi seorang pewawancara yang baik dalam sebuah podcast.


                                                                          Foto: dok. www.instagram.com/Iyas Lawrence

Mungkin di antara kamu ada yang sedang mencoba membuat sebuah podcast bergenre wawancara? Berikut ini ada beberapa tips dan trik yang diberikan oleh Iyas Lawrence dari Makna Talks. Yuk simak!

Berawal dari Rasa Penasaran
Iyas bercerita bahwa rasa penasaran adalah perasaan yang baik dalam memulai sebuah podcast. Rasa penasaran bagaimana caranya membuat podcast, lalu lanjut ke rasa penasaran bagaimana sih rasanya mewawancarai orang itu? Rasa penasaran terhadap individu inilah yang membuat TemanBaik nanti lebih mendalami individu lain tersebut dan semakin penasaran dengan topiknya.

"Itu cara mulai kalian menemukan narasumber, rasa penasaran," ucap Iyas.

Tanyakan Hal yang Pasti-Pasti Aja
Ketika mewawancarai seseorang, biasanya muncul rasa ingin tampil beda dan ingin pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah ditanyakan sebelumnya. Sedangkan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sudah pasti, sebetulnya belum pernah ditanyakan oleh tiap pewawancara.

Jadi, pertanyaan yang langsung ke poin akan membuat individu yang kita wawancarai terhentak, namun malah jadi pertanyaan yang paling beda dari wawancara lainnya.

"Pertanyaan yang to the point dan obvious seperti itu, itulah yang bisa membuat mereka seperti 'aduh gua enggak pernah ditanya ini lagi, tapi ini paling masuk akal'," jelas Iyas.


                                                                    Foto:  Tangkapan Layar "Kelas Podcast Lagi!"

Baca Ini Juga Yuk: Punya Pasangan Pemarah? Begini Penjelasan & Saran dari Psikiatri

Rasa Sabar dalam Wawancara
Ketika wawancara berlangsung, sebaiknya kita jangan memaksakan kehendak dan keinginan pribadi. Contoh seperti menggiring pertanyaan yang sifatnya memprovokasi untuk mengucapkan hal-hal yang kita inginkan. Jadi mendengar terlebih dahulu dan biarkan wawancara tersebut menemukan alurnya sendiri.

Jadilah "Mereka"
Ini adalah faktor yang kerap dilupakan oleh pewawancara. Biasanya, pewawancara membuat daftar pertanyaan yang biasanya diinginkan oleh para pendengar. Padahal, alangkah baiknya coba bayangkan TemanBaik yang menjadi narasumber, sebenarnya ingin ditanya apa. Jadi terbangun koneksi antara pewawancara dan terwawancara.

"Cobain jadi posisi 'mereka' apa yang mau kalian tanyakan ke diri kalian kalau kalian lagi diwawancara, itu mungkin salah satu faktornya. Banyak yang ngelupain faktor ini, kenapa? Karena yang kita lakukan menjadi pendengar, bukan narasumber," ungkap Iyas.

Jadilah Orang yang Menginformasi
Ketika wawancara dengan narasumber, kita harus membawa fakta dalam setiap pertanyaan. Jangan sampai hadir bentuk asumsi. Apalagi di masa sekarang, satu cuitan di Twitter saja bisa jadi sebuah asumsi atau gosip yang dibesar-besarkan.

Tugas pewawancara dalam podcast ini adalah memberikan informasi. Gunakan kata tanya kenapa daripada siapa, karena kata tanya kenapa dapat membuka topik-topik baru yang dapat membuat wawancara lebih menarik.

Lakukan Riset
Bagi Iyas, riset adalah hal yang membuat Makna Talks dapat sebesar sekarang. Riset yang dilakukan wajib mendalam dan menghasilkan fakta. Tapi tak semua informasi yang didapat boleh ditanyakan. Batasi pertanyaan tidak melewati garis-garis batas di ranah pribadi narasumber.

"Hindari informasi yang bisa mengganggu dia (narasumber), seperti nama keluarga, tempat sekolah anak-anaknya, dia terakhir ke mana aja, dia putus sama siapa, itu adalah garis yang kalian enggak mau sentuhin ketika kalian wawancara narasumber," terang Iyas.

Lebih Spesifik
Poin ini memiliki artian cari hal yang mendetail dan spesifik tentang narasumber. Tapi tetap gunakan batasan ranah pribadi saat riset tadi, agar tidak menyinggung dan membuat narasumber jadi tidak nyaman. Hal detail dan spesifik tentu akan disukai oleh narasumber karena memperlihatkan keseriusan dalam podcast wawancara tersebut.

Pemilihan Kata itu Penting
Susunan kata yang baik ketika bertanya adalah hal penting. Jangan gunakan kata yang ruwet dan membuat pusing ketika bertanya. Jangan membuat narasumber pusing dengan pertanyaan yang terlalu rumit, buat mudah dan simpel, namun tetap menarik.

"Kalian harus memahami bahwa lo enggak harus menggunakan banyak kata-kata, untuk membuktikan kalau kalian tahu, ini bukan sebuah ajang pembuktian untuk siapa lebih pintar, ini bukan sebuah ajang di mana 'eh gua pandai loh untuk wawancara'," tutur Iyas.

Tips di atas dapat digunakan kalau ada TemanBaik yang sedang mengerjakan sebuah podcast bergenre wawancara, atau sudah punya niatan untuk membuat hal tersebut. Rasanya tips yang diberikan Iyas cukup manjur. Hal ini dibuktikan dengan Makna Talks yang dimotori oleh Iyas dan timnya dapat bertengger di urutan atas podcast di Spotify. Jadi, selamat mencoba TemanBaik dan jadilah podcaster yang keren!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Cowomen

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler