Tren Baru 'Nyampah' Saat Pandemi, Begini Cara Meminimalisirnya

Bandung - TemanBaik, tahu enggak jika salah satu dampak negatif dari pandemi COVID-19 ini adalah adanya tren baru dalam urusan sampah? Sampah kemasan makanan bertambah signifikan.

Di Kota Bandung misalnya, secara umum, sampah yang dihasilkan tetap 'konsisten'. Setiap harinya, rata-rata 1.300-1.500 ton sampah dihasilkan warga Bandung.

"Hal yang menarik, menurut pengamatan kami, secara timbulan sampah memang tidak berubah drastis. Tapi, sampah kemasan menjadi meningkat," kata Kabid Kebersihan DLHK Kota Bandung Sofian Hernandi.

Sampah kemasan yang dimaksud berupa cup plastik, botol plastik, wadah plastik, wadah berbahan kertas, hingga plastik dan kantong kresek. Itu karena terjadi perubahan tren dalam memesan makanan.

Di masa pandemi, cukup banyak orang yang membeli makanan secara daring dengan memanfaatkan aplikasi ojek daring. Selain itu, banyak tempat penjualan makanan yang tidak melayani makan di tempat. Sehingga, otomatis pesanan yang ada dikemas dan dibawa ke rumah atau tempat kerja.

Coba deh bayangkan jika kamu membeli ayam geprek misalnya. Ayam biasanya akan ditempatkan di dalam kemasan berbahan kertas atau plastik, nasinya dibungkus kertas nasi, sambalnya dimasukkan ke dalam plastik, lalapannya juga dikemas dengan plastik.

Baca Ini Juga Yuk: Mengenal Toxic Positivity, Apa Bedanya dengan Berpikir Positif?

Masih tak cukup. Terkadang, sendok dan garpu berbahan plastik dibungkus lagi dengan plastik. Ada lagi, seluruh paket pesanan juga akan kembali menggunakan kantong kresek. Tak hanya ayam geprek, makanan lain juga kondisinya hampir sama kan ketika take away alias dibawa pulang?

Itu artinya, dalam sekali pesanan, sebenarnya cukup banyak sampah yang dihasilkan. TemanBaik ada yang baru sadar hal ini? Bayangkan ini juga dilakukan oleh orang lain. Akibatnya, sampah dari kemasan makanan saja bisa berjumlah signifikan.

Bijak Jadi Konsumen dan Penjual
Diakui Sofian, tren dalam menghasilkan sampah saat ini memang berbeda. Hal itu tidak lepas dari kondisi dimana orang ingin mencari 'aman'. Sehingga, banyak yang mengurangi aktivitas di luar rumah. Membeli makanan secara daring pun jadi solusinya demi meminimalisir risiko terpapar COVID-19.

"Perilaku orang dalam hal konsumsi dan menghasilkan sampah memang agak berbeda sekarang (di masa pandemi)," ungkap Sofian.

Namun, ia berharap tumbuh kesadaran dari masyarakat, baik konsumen maupun pelaku usaha makanan. Sebisa mungkin, minimalisir penggunaan barang atau kemasan yang berpotensi menimbulkan sampah. Apalagi jika yang digunakan berbahan plastik. Tentu ini akan sulit diurai tanah dan ujung-ujungnya mencemari lingkungan.

"Kita mengimbau kepada penyedia jasa (makanan yang menjual) secara online untuk mengusahakan agar minim kemasan," ucap Sofian.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan penjual adalah menggunakan kemasan ramah lingkungan dan meminimalisir menggunakan segala sesuatu yang berbahan dasar plastik. Misalnya wadah tempat makanan berbahan dasar kertas yang bisa didaur ulang.

Cara lainnya adalah tidak menyediakan sendok atau garpu berbahan plastik. Jika konsumen ingin disertai sendok atau garpu dalam pesanannya, maka konsumen diharuskan membayar. Langkah ini diharapkan bisa 'mengerem' konsumen agar tak menggunakan sendok atau garpu plastik.

Jika konsumen membeli secara langsung ke tempat penjual makanan, diharapkan membawa sendiri wadah makannya ya. Di saat yang sama, penjual makanan bisa memberi potongan harga bagi konsumen yang membawa wadah sendiri. Begitu juga untuk minuman.

Konsumen juga diharapkan meminimalisir sampah dari makanan yang dipesan. Jika berbagai makanan yang dipesan bisa disatukan, usahakan hindari meminta dikemas dengan plastik satu per satu. Misalnya tempe dan tahu, ini enggak usah dibungkus plastik.

Usahakan juga jangan meminta sendok, ya. Bahkan, jauh lebih baik jika ke mana-mana kamu membawa alat makan sendiri. Terlebih, sekarang banyak kan yang menjual paket sendok-garpu-sumpit dengan kemasan menarik dan harganya terjangkau.

Apalagi jika kamu ada di rumah, beri tahu penjual tak usah menyertakan alat makan. Di rumahmu pasti ada sendok kan? Enggak bakal dipakai juga kan sendok atau alat makan lainnya dari penjual?

TemanBaik, bijak yuk untuk meminimalisir produksi sampah!

Foto: Ilustrasi Pexels/Mali Mae

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler