Ini Alasan Kenapa Ada Bulan Peduli Kanker Payudara

TemanBaik, selama Oktober ini kamu bisa menemukan banyak pihak yang membahas seputar kanker payudara. Mau tahu alasannya?

"Bulan Oktober itu secara internasional diproklamirkan sebagai bulan peduli Kanker Payudara," kata dokter spesialis bedah onkologi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung Dr. dr. R. Yohana, Sp.B(K)., Onk.

Di dunia kesehatan, menurutnya ada berbagai peringatan yang digelar. Ada yang sebatas digelar sehari saja. Namun, ada yang diperingati sebulan penuh.

"Setiap bulan itu penyakit punya bulan dedikasi. Di Oktober ini (Bulan Peduli Kanker Payudara) untuk kita jor-joran melakukan edukasi," tuturnya.

Peringatan ini biasanya digelar selama sebulan penuh selama sebulan. Berbagai pihak terkait biasanya menggelar ragam kegiatan berkaitan dengan kanker payudara.

Salah satu yang kerap dilakukan adalah sosialisasi seputar kanker payudara, terutama pencegahannya. Tujuannya agar semakin banyak orang yang mengetahui apa itu kanker payudara, mencegah, hingga menanggulanginya.

Baca Ini Juga Yuk: Deteksi Dini Kanker Payudara Bisa Dilakukan Sendiri Loh!

Namun, karena saat ini berada di masa pandemi COVID-19, banyak kegiatan yang tak bisa digelar. Sehingga, lebih banyak yang mengalihkan kegiatan seputar kanker payudara ini secara daring, misalnya melakukan webinar.

"(Yang diharapkan dari Bulan Peduli Kanker Payudara ini) sebenarnya lebih kepada kampanye deteksi dini kelainan pada payudara," ungkap Yohana.

Di Indonesia, kanker payudara tergolong salah satu penyakit yang banyak diidap, terutama oleh kaum perempuan. Namun, ada juga laki-laki yang bisa mengidap kanker payudara meski jumlahnya sedikit.

"Di Indonesia kanker payudara termasuk yang sangat tinggi, bahkan mengalahkan kanker rahim," jelasnya.

Dengan banyaknya informasi seputar kanker payudara, publik diharapkan semakin peduli dan melakukan deteksi dini. Sehingga, penanganan yang dilakukan bisa lebih cepat. Ini untuk meminimalisir pasien datang ke rumah sakit setelah kondisinya parah.

"Penelitian kami di RSHS, ternyata 60 persen pasien (kanker payudara di RSHS) kita berada pada stadium lanjut (stadium III dan IV)," ucap Yohana.

Padahal, ketika berhasil dideteksi lebih dini, terutama pada fase stadium I atau II, penanganan yang dilakukan bisa lebih baik. Sedangkan jika sudah terlambat, maka semakin sulit melakukan pengobatan. Bahkan, tak jarang payudara pasien harus diangkat demi meminimalisir dampak lebih buruk dari kanker payudara.

Foto: Ilustrasi Pexels/Ave Calvar Martinez

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler