Melakukan Sterilisasi untuk Jaga Kesejahteraan Hewan Peliharaan

Bandung - TemanBaik, siapa yang memiliki hewan peliharaan? Kucing dan anjing mungkin menjadi hewan peliharaan yang paling banyak dipilih. Bagi sebagian orang, memiliki hewan peliharaan rasanya seperti memiliki teman di rumah.

Namun, memelihara bukan sekadar membiarkan mereka untuk tinggal di rumah kita dan memberi makan loh, TemanBaik. Memelihara hewan juga berbicara tentang tanggung jawab kita untuk menjaga kesejahteraannya. Seperti memberi vitamin, makanan yang berkualitas, hingga rutin mengontrol kesehatan mereka ke dokter hewan. 

Salah satu cara lain untuk menjaga kesejahteraan hewan peliharaan adalah melakukan sterilisasi. Steril adalah tindakan medis berupa bedah untuk mengangkat organ reproduksi hewan. Pada hewan betina yang akan diangkat adalah bagian ovarium, lubang falopi, dan rahim. Sedangkan pada hewan jantan yang akan diangkat adalah bagian testis. Lantas, mengapa hewan peliharaan perlu di steril?

Nah, untuk membahas seputar sterilisasi pada hewan peliharaan, kemarin (20/10/2020) Paw Indonesia membuat siaran langsung di Instagram @pawindonesia yang berjudul "Steril Pada Pet: Perlu atau Tidak?" yang menghadirkan drh. Thalitha Khairunisa sebagai pembicaranya. 


Foto: Tangkapan layar siaran langsung "Steril Pada Pet: Perlu atau Tidak?" pada Instagram @pawindonesia/ Irsya Kireina

Drh. Thalitha menjelaskan, ada beberapa hal yang menyebabkan hewan peliharaan yang kita miliki perlu di steril. Hal pertama adalah kita sebagai pemilik hewan belum siap untuk menambah jumlah hewan peliharaan di rumah. 

Selanjutnya sterilisasi pada hewan peliharaan juga membantu mencegah dari kehamilan yang tidak diinginkan dan populasi hewan yang tidak terkontrol.

"Kesejahteraan mereka harus dijaga. Kalau hewan peliharaan makin banyak, pemiliknya juga punya keterbatasan dalam merawatnya. Dari segi biaya, tempat di rumah, hingga menjaga kualitas makanan," ujar drh. Thalitha. 

Baca Ini Juga Yuk: Ini Alasan Kenapa Ada Bulan Peduli Kanker Payudara

Bayangkan saja TemanBaik, jika hewan peliharaan kita di rumah terlalu banyak, apakah sebagai pemiliknya kita sanggup untuk menjaga kesejahteraan dan merawat mereka dengan berkualitas? 

Hal ketiga, sterilisasi bisa mencegah hewan mengalami masa birahi yang dapat menurunkan sistem imun. Selain itu, mensterilkan hewan peliharaan juga dapat mengurangi risiko mereka terkena penyakit seperti infeksi rahim, dan kanker. Lalu yang terakhir manfaat dari sterilisasi adalah mencegah perilaku hewan yang dapat melukai mereka.

Tapi pernahkah TemanBaik merasa ragu untuk mensteril hewan peliharaan karena merasa kasihan? Jika iya, tidak perlu seperti itu kok. Karena menurut drh. Thalitha, melakukan sterilisasi pada hewan peliharaan tidak menurunkan kualitas hidup mereka.

"Pemilik suka merasa kasihan karena kalau di steril hewan gak bisa merasakan (kawin), disamakan sama manusia. Ini berbeda. Hewan gak bisa kontrol, kalau lagi musim kawin ya mau kawin. Kalau manusia bisa kontrol kapan dia mau punya anak, misalnya ada pilihan pakai KB," tegas drh. Thalitha. 

Lantas, kapan waktu yang tepat untuk mensteril hewan peliharaan? Menurut drh. Thalitha, sebenarnya jika kita memang sudah berniat untuk tidak mengembangbiakkan hewan peliharaan, sebaiknya steril lah mereka sebelum mengalami masa birahi pertama. Hal ini dilakukan agar mereka tidak memiliki memori soal masa kawin. 

Pada hewan jantan, sterilisasi bisa dilakukan sejak usia 5 atau 6 bulan asalkan kedua testis sudah turun sempurna atau teraba di bawah kulit. Prosesnya pun lebih cepat, hanya sekitar 10 hingga 15 menit karena tidak melakukan operasi bedah perut.

Sedangkan pada hewan betina, biasanya sterilisasi bisa dilakukan sejak usia 6 atau 7 bulan. Namun memang tidak ada ciri yang terlihat dari luar karena organ reproduksi pada betina terletak di dalam tubuh. Tentu saja proses sterilisasi pada betina cenderung lebih lama karena melakukan operasi bedah perut.

"Kalau cuma rahim yang diangkat tapi ovariumnya enggak, nanti dia bisa tetap birahi walaupun gak bisa hamil. Jadi harus diangkat semua," ujar drh. Thalitha. 

Hal lain yang menjadi syarat hewan peliharaan untuk di steril adalah berat badan yang normal, sudah melakukan tiga kali vaksin wajib agar daya tahan tubuh hewan lebih kuat, dan pada betina tidak melakukan sterilisasi saat masa estrus atau birahi.

"Pada masa birahi pembuluh darah ke rahim sedang sangat aktif dan rapuh. Jika dilakukan sterilisasi saat masa birahi, risiko pendarahannya akan lebih besar," terang drh. Thalitha. 

Drh. Thalitha juga menyarankan untuk kita jangan sengaja menunggu melakukan sterilisasi pada hewan peliharaan saat usia mereka sudah lebih tua. Karena risiko melakukan tindakan operasi pada hewan yang sudah berusia tua akan lebih besar. 

Nah, setelah di steril, kebanyakan hewan peliharaan akan cenderung lebih malas bergerak dan mengakibatkan naiknya berat badan. Hal ini bukan karena sterilisasi menyebabkan hewan gemuk, tapi karena sistem metabolisme pada hewan yang sudah di steril cenderung lebih lambat. 

Melambatnya metabolisme pada hewan yang sudah di steril disebabkan hilangnya hasrat untuk mencari pasangan, dan energi besar yang biasa mereka gunakan untuk kawin tidak lagi diperlukan. 

"Jadi yang bikin gendut itu karena hewan peliharaan kurang gerak. Ajak mereka olahraga dengan bermain," ujar drh. Thalitha. 

Pada akhirnya melakukan sterilisasi pada hewan peliharaan sepenuhnya keputusan kita sebagai pemiliknya. Hal yang perlu kita ingat adalah dengan sterilisasi kita dapat menjaga kesejahteraan hewan peliharaan yang dapat disesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki. 

"Peliharaan kita tidak bisa mengontrol hasrat birahi yang terkadang membahayakan diri mereka. Jadi sebagai pemilik harus bertanggung jawab dan bisa mengukur kapasitas diri pada seluruh keputusan" pesan drh. Thalitha menjelang akhir pembicaraannya. 

Nah TemanBaik, jika kamu memiliki hewan peliharaan, tidak ada salahnya kok untuk coba mengkonsultasikan tentang sterilisasi ini kepada dokter hewan peliharaanmu. Siapa tahu ini salah satu pilihan baik untuk hewan peliharaan dan dirimu sebagai pemiliknya, bukan?

Foto: Ilustrasi Unsplash/Krista Mangulsone

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler