Ini Pentingnya Punya Konsep Bahagia Sebelum Menikah

Bandung - TemanBaik, menikah dengan pasangan yang dicintai tentu jadi impian banyak orang. Namun, sebelum memutuskan menikah, ada hal yang harus kamu matangkan. Apa ya?

Psikiatri Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Veranita Pandia mengatakan sebelum menjalin hubungan pernikahan, perlu ada konsep kebahagiaan yang disepakati. Tujuannya agar kamu bisa membangun rumah tangga yang tangguh.

Misalnya, sepakati dengan pasangan apakah ketika menikah nanti harus memiliki anak. Sebab, hal ini bisa jadi pemicu kamu dilanda kekecewaan yang berujung stres, bahkan menimbulkan depresi. Itu karena ketika kamu sudah membayangkan konsep pernikahan yang bahagia adalah memiliki anak, kamu akan "terkurung" bahwa kehadiran anak adalah kebahagiaan dalam pernikahan.

Masalahnya, kamu belum tentu dikaruniai anak dalam waktu dekat. Bahkan, ada pasangan yang sampai akhir hayatnya justru tak dikaruniai anak. Ketika anak tak kunjung hadir sesuai harapan, kamu berpotensi merasakan adanya tekanan terhadap dirimu sendiri. Bukan tak mungkin kamu juga merasa tak bahagia dalam menjalani pernikahan karena anak tak kunjung hadir.

"Ada teori dari salah seorang pakar, penyebab depresi adalah ketika kita tidak mencapai target atau harapan yang kita buat sendiri. Kalau harapan terlalu tinggi dari kemampuan kita (yang akhirnya tidak terwujud), itu yang membuat kita depresi," kata Veranita.

Baca Ini Juga Yuk: Wajibkah Payudara Diangkat Saat Idap Kanker? Ini Penjelasannya

Bukan hanya soal anak, ada banyak hal lain yang perlu kamu matangkan. Hal yang paling utama adalah menyepakati konsep kebahagiaan dalam pernikahan. Seperti apa sih konsep bahagia yang kamu inginkan?

Misalnya, kamu akan merasa bahagia jika memiliki rumah sendiri, merasa bahagia karena setiap bulan liburan bersama pasangan, hingga merasa bahagia memiliki harta melimpah. Hal-hal ini bisa jadi pemacu untuk menghadirkan konsep kebahagiaan yang diinginkan bersama pasangan.

Namun, usahakan hindari memiliki harapan terlalu tinggi ya. Sebab, bisa jadi harapan-harapan tinggi itu tak terwujud sesuai keinginan. Akhirnya, kamu akan merasa tidak bahagia saat kenyataan tak sesuai harapan. Ujung-ujungnya, kamu bisa mengalami stres hingga depresi. Apalagi ketika mimpimu yang belum terwujud itu 'dikomporin' orang lain.

Hal yang tak kalah penting lagi adalah berusaha konsisten pada konsep kebahagiaan pernikahan bersama pasangan. Dengan begitu, pengaruh lingkungan dan orang lain tidak akan mengubah pendirian atau konsep kebahagiaanmu.

Menyederhanakan konsep pernikahan lebih disarankan. Misalnya, kamu dan pasangan menyepakati bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga adalah saling membahagiakan pasangan dan berjuang bersama dalam berbagai hal. Sebab, konsep bahagia dalam pernikahan tak melulu soal kehadiran anak, tak melulu soal memiliki rumah, hingga tak melulu soal harta melimpah.

"Kita harus tahu dulu konsep pernikahan dari awal. Misalnya, kalau pernikahan harus punya anak, tentu akan terganggu (ketika belum punya anak). Pernikahan itu adalah bagaimana caranya membangun keluarga antara suami dan istri, masalah (kehadiran) anak itu sekunder, yang penting keluarga harmonis, bahagia, saling lengkapi satu sama lain. Apapun 'serangan' dari luar, pasti kita enggak akan terganggu (jika sudah memiliki konsep kebahagiaan pernikahan sejak awal)," jelas Veranita.

Soal konsep kebahagiaan dalam pernikahan ini, tak perlu mencontoh atau meniru orang lain ya. Sebab, kebahagaain adalah hal subjektif. Bahagia menurut orang lain, belum tentu bahagia buat kamu, begitu juga sebaliknya. Hal yang terpenting, calon suami dan istri sepakat soal konsep kebahagiaan dalam pernikahan dan tak merasa terbebani.

"Kesempurnaan pernikahan tuh seperti apa buat kita? Kebahagiaan orang kan beda, ada yang bahagia punya gelar tinggi, harta banyak, beda-beda kan setiap orang," tandas Veranita.

Foto: Ilustrasi Pexels/Wendel Moretti


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler