Menakar Kecemasan & Depresi dari Waktu Tidur, Ini Penjelasannya

Bandung - TemanBaik, kecemasan dan depresi ternyata bisa dibedakan dari waktu tidurnya loh. Mau tahu perbedaannya? Simak ulasannya, yuk!

Psikiatri RS Melinda 2 Bandung Teddy Hidayat mengatakan orang yang tidak bisa tidur lewat dari pukul 24.00 WIB biasanya mengalami kecemasan. Orang yang mengalami kecemasan ini biasnaya memiliki kecemasan terhadap sesuatu yang kenyataannya belum tentu sesuai dengan pikirannya.

Gangguan kecemasan ini bisa terjadi akibat banyak hal. Mereka bisa dibayangi perasaan gelisah, bayangan yang menerawang tentang hal negatif, hingga rasa takut akan sesuatu. Gejala ini bisa diatasi kok.

"Orang yang mengalami kecemasan itu perlu ditemani," ujar Teddy.

Baca Ini Juga Yuk: Berbeda dengan Obat, Yuk! Kenali Lebih Jauh Tentang Suplemen

Dengan ditemani, orang yang mengalami gejala gangguan tidur dan kecemasan bisa mengungkap apa yang membuatnya cemas. Sehingga, perasaannya bisa lebih lega. Jadi, jika kamu mengalaminya, carilah teman untuk menghilangkan kecemasanmu. Minimal, kamu bisa memanfaatkan ponsel sebagai sarana untuk berkomunikasi.

Orang yang diajak berkomunikasi pun sebaiknya memberikan dorongan semangat serta solusi dari permasalahan yang dihadapi. Dengan begitu, tingkat kecemasan diharapkan bisa berkurang.

Apa bedanya dengan depresi? Mereka yang depresi mengalami tekanan mental yang kuat. Mereka yang mengalami ini cenderung memiliki rasa putus asa yang hebat. Penyebabnya juga beragam, tapi hal itu akan membuat pengidap depresi merasa minder, tak berharga, merasa tak sanggup melakukan sesuatu, dan ujung-ujungnya bisa berpikir bunuh diri.

Mereka yang mengalami depresi cenderung bisa tidur di waktu normal. Namun, yang bersangkutan bisa tiba-tiba terbangun tengah malam. Setelah itu, yang bersangkutan akan sulit tidur kembali.

"Orang depresi itu dia (bisa tidur), tengah malam dia bangun dan enggak bisa tidur lagi. Dia lebih enak menyendiri," tutur Teddy.

Dalam kondisi sulit tidur, pengidap depresi akan larut dalam dirinya sendiri alias cenderung jadi penyendiri. Sehingga, berbagai hal negatif terus berkutat dalam pikiran. Segala pikiran negatif itu pada akhirnya membuat pikiran semakin 'kacau' dan pada fase akut pengidapnya berpikir menyakiti diri sendiri hingga mengakhiri hidup .

"Kalau cemas itu takut (mati), kalau depresi dia (bisa berpikir) bunuh diri. Jadi, lebih berbahaya situasinya (orang yang mengalami depresi)," jelas Teddy.

Solusinya, orang yang mengalami depresi perlu ditemani lebih intens. Bahkan, lebih disarankan orang yang menemani hadir secara fisik. Sehingga, potensi pengidap depresi melakukan tindakan negatif bisa dicegah.

Mereka yang mengalami depresi juga perlu dukungan penuh dari orang sekitar, mulai dari keluarga hingga teman dekatnya. Orang yang berada di sekitarnya juga diharapkan tak lelah dalam membantu seseorang keluar dari depresinya.

Selain itu, mereka yang mengalami depresi disarankan ditangani ahli kejiwaan. Sehingga, ada berbagai terapi atau pengobatan yang bisa dilakukan secara tepat.

TemanBaik, selalu jaga kesehatan ya. Tak hanya kesehatan fisik, kesehatan jiwa juga perlu dijaga. Jika mengalami masalah kejiwaan, jangan ragu berkonsultasi dengan ahli kejiwaan saat tak bisa mengatasinya sendiri.

Foto: Ilustrasi Pexels/Pixabay


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler