Apa Sih 'Sindrom Bintang' Itu? Yuk, Kenal dan Pahami!

Bandung - TemanBaik, pernah dengar istilah stardom syndrome atau sindrom bintang? Kecenderungan perilaku ini perlu banget kita ketahui, apalagi jika kita punya mimpi menjadi seorang tokoh publik.

Perjalanan berkarya atau mengerjakan sesuatu yang kemudian membawa seseorang pada satu titik tertentu yaitu keberhasilan atau ketenaran, perlahan biasanya akan mengubah kepribadian orang tersebut. Misalnya nih, kamu adalah seorang musisi yang awalnya hanya dikenal gemar bernyanyi di rumah lalu tiba-tiba ada pencapaian dari proses kreatifmu dan kamu mendadak jadi seleb. Nah, setelah sukses dari sisi karir, ada hal yang bisa mengancammu. Ya, namanya stardom syndrome.

Istilah ini sebenarnya lebih dikenal dengan 'sindrom seleb' atau star syndrome. Lebih "tongkrongan" lagi, stardom syndrome boleh jadi bisa disamakan dengan istilah "ngartis". Dalam diskusi daring di kanal YouTube Sounds from The Corner, dua musisi favorit Indonesia Rian Ekky Pradipta atau dikenal dengan Rian D’Masiv dan Nazriel Irham atau dikenal dengan Ariel Noah mengakui hal tersebut bisa menghampiri tiap orang, enggak hanya musisi saja.

Meski sudah ada sejak musisi generasi terdahulu, namun secara personal Rian menduga, kemunculan stardom syndrome dalam diri selebrita (khususnya musisi yang katakanlah baru terkenal) di era sekarang karena kemudahan akses yang membuat sang bintang menjadi cepat terkenal. Kondisi ini disebutnya berbeda dengan masa di mana Rian sedang membangun D’Masiv, bandnya tersebut untuk menjadi band besar.

"Kalau dulu sih kita kan manggung tuh kayak semua disikat. Manggung di acara sunatan, manggung di acara 17-an, wah banyak banget. Nah kalau anak sekarang kan mereka cukup upload lagu (ke media sosial), orangnya good looking, bisa langsung tenar. Nah, yang mau saya garis bawahi di sini adalah proses seseorang menjadi terkenal ini relatif instan, sehingga mungkin dampaknya ke attitude mereka (musisi tersebut)," ujar Rian.

Sementara itu Ariel mengaku bisa saja seorang tokoh publik mengalami stardom syndrome. Namun, vokalis grup band Noah ini melihat sudut pandang lain dari stardom syndrome yang biasanya menerpa para tokoh publik seperti musisi terkenal ini. Menurutnya, itu boleh jadi adalah dampak dari proses berliku-liku yang dialami oleh tokoh publik.


                                                                Foto: Tangkapan Layar YouTube Sounds from The Corner

Baca Ini Juga Yuk: Bingung Siapkan Pendidikan Dasar Anak? Begini Penjelasannya

Keduanya kemudian mengenang masa-masa di mana mereka belum terkenal dan sudah terkenal seperti hari ini. Rian misalnya, ia mengenang masa-masa awal D’Masiv dikenal lewat ajang festival tingkat nasional pertengahan dekade 2000-an.

"Habis menang festival, juara satu, dikontrak label, terus keliling Indonesia kan. Nah, pas manggung di Sumatra itu, saya inget banget; penonton ada puluhan ribu dan mereka hafal lagu D’Masiv semuanya," ujar Rian, mengenang perjalanan D’Masiv saat fase tur album pertama mereka awal tahun 2008 silam.

Sebagai informasi, saat itu D’Masiv begitu dikenal pecinta musik Tanah Air lewat single mereka 'Cinta Ini Membunuhku'. Debut album mereka 'Perubahan' pun laku keras di pasaran. Hal itu diakui Rian banyak mengubah hidupnya, dan ia tak menampik kalau dirinya menjumpai gejala stardom syndrome pada fase tersebut.

"Pas puluhan ribu penonton nyanyi lagu 'Cinta Ini Membunuhku', saya kayak amazing gitu. Wah ini mimipi bukan sih?" kenang Rian.

Sindrom Bintang, Bisakah Dicegah?
Dari sisi psikologis, Regis Machdy yang merupakan psikolog dari Pijar Psikologi menyebut, stardom syndrome itu sendiri sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari perilaku mengidolakan dari seorang atau mungkin sejumlah penggemar kepada musisi idolanya.

Jika berkaca pada sejarah, istilah selebrita atau artis itu baru muncul di era hadirnya media komunikasi seperti media cetak atau elektronik seperti radio dan televisi. Sebelum masuk era ini, seseorang yang dianggap artis pada zaman dahulu adalah penyampai wahyu Tuhan yang dijadikan panutan oleh banyak orang.

"Kalau sekarang kan orang kayak gitu, katakanlah orang suci, udah enggak ada. Nah, jadilah kehadiran si selebrita ini seolah jadi gantinya. Merekalah yang dianggap sempurna dan jadi panutan oleh orang banyak. Makanya ada istilah bintang disematkan dalam ketenarannya," ujar Regis.

Ditambah lagi hadirnya media sosial, tiap orang seolah bisa memilih sosok sempurna dan "bintang-nya" masing-masing. Di sisi lain, Regis menyebut ini merupakan sisi kejam dari hadirnya media sosial.

Lebih lanjut, Regis menyebut stardom syndrome adalah hal yang wajar terjadi di industri hiburan. Akan tetapi, ada banyak perilaku kurang baik yang merupakan dampak dari stardom syndrome ini. Secara singkat Regis memaparkan, seseorang yang mengalami stardom syndrome bakal jadi seorang narsistik yang merasa dirinya benar dan superior. Selanjutnya, orang yang mengalami stardom syndrome perlahan bakal menuntut diperlakukan spesial, dan diprioritaskan.

"Namun setelah lewat fase itu, seorang seleb akan masuk fase calm down, yaitu fase penerimaan. Di sini mereka seperti sudah menyadari kalau selebrita adalah sebatas pekerjaan,” terangnya.

Saat ditanya mengenai apakah perilaku ini bisa dihindari oleh tokoh publik atau selebrita di masa yang akan datang, Regis menyebut ada 4 poin yang mesti jadi perhatian agar seseorang tidak terpapar stardom syndrome saat dirinya merasa berhasil dengan kerja kerasnya.

Pertama adalah dengan menyadari kalau diri dan profesi menjadi seorang yang terkenal itu merupakan sesuatu yang tidak stabil. Ya, sebab enggak selamanya seorang seleb akan jadi seleb yang bergelimang segalanya, loh!

Setelah itu, Regis menyebut sikap memijak bumi adalah hal yang harus dijaga oleh tiap orang. Sikap ini bisa dilatih dengan mengingat kembali hal-hal umum yang biasa dilakukan sebelum kita, atau seorang individu, menjadi terkenal atau menjadi seorang yang banyak penggemarnya.

"Dengan mengingat apa yang kita makan dengan apa yang mereka (penggemar) makan waktu masih kecil itu sama, misalnya. Atau dengan berkontemplasi. Sebab hal yang perlu diingat saat kita mulai terkena stardom syndrome adalah, kita perlu kembali menjadi diri sendiri," terang Regis.

Dua hal lainnya yang bisa mengatasi gejala stardom syndrome antara lain dengan menyadari bahwa tidak ada yang abadi dari pencapaian seseorang. Regis menyebut upaya sadar diri ini dengan istilah bahasa asing yaitu wisdom. Hal terakhir adalah dengan menikmati pencapaian kita untuk hari ini tanpa berekspektasi untuk hal yang jauh di depan.

"Nikmatin aja hari ini, sekarang. Jadi andaikata besok udah enggak jadi famous lagi, atau besok tambah terkenal, itu jangan dipikirin dulu," pungkasnya.

Foto: Ilustrasi Unsplash/veeterzy

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler