Asyiknya Bernostalgia Lewat Buku Lawas di Cikapundung

Bandung - TemanBaik, pernah lewat sekitar Jalan Cikapundung? Ya, di samping gedung PLN, kamu akan menemui beragam buku-buku lawas nan antik loh.

Beritabaik.id punya kesempatan untuk mampir ke lapak buku-buku bekas tersebut. Karena masih menyesuaikan dengan situasi pandemi, lapakan buku-buku tersebut nampaknya enggak seramai saat suasana masih normal dulu. Kendati begitu, aktivitas di sepanjang jalan yang menjadi lapakan buku ini berlangsung normal. Setengah dari penjual buku memang tidak membuka lapaknya, namun beberapa penjaga lapak yang buka nampak hilir mudik membawa buku-buku bekas.

Boy misalnya. Pria paruh baya ini sudah melapak buku lawas sejak dekade 1980-an. Nyaris tiga dekade lamanya ia berkutat dengan rutinitas mengangkut buku, merapikan, menyortir, dan memajangnya di lapakan. Buku-buku yang dianggap lebih populer bakal dipajang di lapak yang terbuat dari seng dan kayu. Sedangkan buku lawas yang tidak terlalu populer diletakkannya di bawah, ditumpuk dengan ribuan buku lawas yang mulai termakan usia.

Kepada Beritabaik.id, Boy mengaku saat ini lapaknya memang sudah tak seramai satu atau dua dekade ke belakang. Seperti diketahui, konvergensi media dari cetak ke daring seolah mengubah skena perbukuan. Banyak beberapa buku yang sudah beralih format menjadi electronic book atau ebook.

"Enggak nentu sih kalau pembeli. Hanya saja yang jelas kalau 'kolektor' pasti menjadikan area ini wahana berburu," terangnya, Jum’at (4/12/2020).



Jangan salah, TemanBaik. Kehadiran kolektor buku ini seolah jadi pengharapan besar bagi para pelapak buku lawas. Bahkan, beberapa pelapak di sepanjang Jalan Cikapundung ini mengaku kalau seorang kolektor bahkan berani membeli buku lawas dengan harga tinggi.

Bicara soal harga, di lapakan ini berbagai jenis buku dijual seharga paling murah Rp5 ribu, hingga mencapai ratusan ribu bahkan jutaan. Kami juga menemui buku lawas versi kopian atau duplikasi ilegal yang dijual di sini. Kendati ilegal, namun harga yang ditawarkan cukup tinggi dan masih ada peminatnya. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah buku lawas dan langka tersebut, sedangkan peminatnya masih bisa dibilang relatif banyak.

Misalnya buku 'Semerbak Bunga di Bandung Raya' karya Haryoto Kunto. Di lapak Boy, versi duplikasi buku ini dijual Rp350 ribu! Meski begitu, ia nampak minder saat ditanya mengenai buku ini.

"Itu mah enggak asli. Fotokopian. Kalau yang asli mahal banget," ujarnya sembari tersipu.

Baca Ini Juga Yuk: Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Tumor dan Kanker Kata Ahlinya

Enggak hanya buku lawas saja, beberapa produk media cetak seperti majalah lawas pun dijual di sini. Dibanderol seharga mulai dari Rp10 ribu, beberapa kolektor dan pelajar yang memerlukan data riset adalah pemburu majalah-majalah lawas ini.

Di lapak Ali misalnya. Pria yang sejak tahun 2001 sudah melapak buku di sini mengaku majalah-majalah olahraga dengan tema tertentu sudah ludes duluan. Kolektor dan para pengarsiplah yang berlomba-lomba mendapatkan arsip berita tersebut.

"Kalau majalah olahraga itu kan suka ada edisi khusus. Kayak edisi Piala Dunia 1998, Piala Eropa 2000, sampai Piala Dunia 2002. Tiga seri ini laku keras banget. Mungkin orang-orang menganggap tiga gelaran bola ini tuh kayak seri terbaik sepanjang masa gitu," ujar Ali.

Saban mendapat "barang baru" seperti majalah atau tabloid dengan tema atau edisi khusus, dalam hitungan jam dipastikan majalah atau tabloid tersebut sudah ludes dimangsa para pemburu arsip. Hal ini sedikit berbeda dengan segmen pembeli buku lawas. Namun dari segi ekonomi, keduanya menjadi seimbang apabila dipukul rata.

Ya, harga majalah lawas dibanderol Rp10 ribu dan cepat ludes, sedangkan buku lawas kendati lebih lambat penjualannya, namun sekali terjual biasanya bakal dibanderol seharga ratusan ribu, beberapa kali lipat dari harga majalah atau tabloid.



Makin Langka, Makin Mahal
Saat berkunjung ke lapak Ali, kami sempat mengobrol lebih dalam mengenai buku-buku lawas yang dijual di lapaknya. Menurut Ali, harga buku lawas bisa meroket dari harga aslinya dahulu. Ada beberapa faktor yang menyebabkan harga buku tersebut meroket. Pertama, karena tahun penerbitan bukunya, kedua karena isi bukunya, dan ketiga karena kelangkaan bukunya.

"Ada buku lama, tapi isinya biasa aja dan barangnya ada banyak. Itu mah biasanya dijual 20 ribuan. Tapi kalau buku lawas, langka, dan isinya bagus, nah itu yang bakal jadi mahal," terang Ali.

Jika di lapak Boy, buku-buku lawasnya berkisar antara terbitan 1960 hingga 1970-an, di lapak Ali, kelawasan bukunya lebih ekstrim lagi. Ia menjual beberapa buku asing keluaran 1800-an. Saat ditanya mengenai perputaran keluar masuknya buku, Ali mengaku jejaringnya dengan kolektor buku lawas adalah salah satu alasan kenapa bisa banyak buku lawas dan bisa dikatakan buku bagus di lapaknya.

Selain itu, kebiasaannya yang juga kadang membaca sebagian buku membuat pria asal Tegal ini lambat laun punya selera baca dan menentukan buku bagus atau buku yang biasa-biasa saja versinya. Ia juga mengaku banyak berkenalan dengan para kolektor buku.

"Saya pribadi senangnya baca komik. Biar enggak terlalu serius," ucapnya.



Kolektor, Harapan Terakhir
Menjalankan usaha lapakan buku dan majalah lawas memang diakui bukan usaha yang ideal. Kendati begitu, baik Boy maupun Ali mengaku masih bisa menikmati usaha yang mereka jalankan saat ini. Setidaknya, usaha jual-beli buku lawas diakui mereka masih bisa dijadikan sumber penghasilan untuk sehari-hari.

Lebih lanjut lagi, keduanya tak menampik kalau para kolektor dan penikmat buku lawas merupakan pergantungan terakhir mereka agar bisnisnya masih bisa berjalan. Ya, pasalnya, di era serba instan ini, harus diakui kalau jumlah peminat buku turun jauh dibanding era cetak dulu.

"Melimpah banget sih enggak (penghasilan dari jualan buku). Tapi kalau panglaris (pelanggan awal) aja sih ada. Saya juga kalau sekarang mulai ngelirik kerjaan lain sih. Kalau enggak ada kerjaan, baru ngelapak di sini," terang Ali.

Beberapa pelapak di sini pun mengakali penjualan buku dengan menjualnya di media sosial seperti Instagram, misalnya. Dengan memanfaatkan teknologi, jangkauan penjualan buku-buku lawas tersebut menjadi lebih luas lagi.

Keduanya, mewakili pelapak lain menyebut walau mungkin buku, dan segala jenis media cetak lainnya mungkin sudah tidak lagi diterbitkan, mereka berharap setidaknya perputaran buku-buku lawas ini tetap berlangsung. Ya, sekalipun yang terkandung di dalamnya mungkin adalah nilai yang kerap terlupakan: sejarah.

TemanBaik, siapa di antara kamu yang pernah berburu buku lawas di Cikapundung? Masih ingat judul buku apa yang terakhir kamu beli di sini?

Foto: Rayhadi Shadiq

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler