Menjaga Kesehatan Mental Bisa dengan Membaca Buku Loh!

Bandung - TemanBaik, kepedulian terhadap kesehatan kian meningkat belakangan ini. Tapi, kamu tahu enggak, kalau membaca buku bisa menjadi terapi bagi kesehatan mentalmu. Wah, kok bisa ya?

Ya, nama terapinya adalah biblioterapi. Cara kerja terapi ini bakal sangat bersahabat, apalagi untuk kamu yang merupakan seorang pecandu buku. Jadi, biblioterapi ini merupakan terapi kesehatan mental dengan menggunakan buku sebagai medianya.

Dalam diskusi daring 'Sehat Jiwa di Masa Pandemi dengan Membaca Buku', Psikiatri di RS Panti Rapih, Sak Liung, dr., Sp.KJ menyebut kehadiran bibliografi ini merupakan terapi tambahan yang bisa digunakan untuk meredakan gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan berlebih, bahkan hingga sesuatu yang bersifat traumatik.

Menilik sejarahnya, beberapa sumber menyebut kalau terapi membaca buku ini sudah ada sejak zaman Yunani Kuno. Namun, dalam pemaparannya, Liung menyebut kalau terapi membaca masuk ke dalam kategori terapi komplementer dan alternatif, sama halnya dengan terapi akupresur, meditasi, atau terapi seni yang belakangan ramai diperbincangkan.

Ia juga memaparkan beberapa manfaat membaca buku terhadap kesehatan mental seseorang, antara lain meningkatkan memori otak, fokus, dan konsentrasi. Selain itu, kegiatan membaca buku yang berpengaruh kepada banyaknya perbendaharaan kata yang dipahami seseorang menurut Liung bakal pula meningkatkan kemampuan komunikasi dari orang tersebut.

"Dengan kemampuan komunikasi yang meningkat, rasa percaya diri orang tersebut juga bakal meningkat," terangnya.

Baca Ini Juga Yuk: Biar Makin Sehat, Yuk Pahami Kiat Bersepeda Ini!

Selain itu, membaca buku juga dapat membantu kita dalam membangun pikiran positif. Hal unik lainnya dari membaca buku adalah bisa meningkatkan kualitas tidur kita loh. Wah, ini tentu jadi angin segar untuk TemanBaik yang belakangan ini sedang susah tidur.

Lebih lanjut lagi, Liung menyebutkan beberapa indikasi gangguan kesehatan mental yang dapat ditangani dengan metode ini. Dalam pemaparannya, ia menyebut gangguan mental seperti fobia, depresi, kecemasan, panik, gangguan makan, bahkan masalah seksual, pernikahan dan pasca trauma seksual.

"Gejala depresi ringan sampai sedang, lalu kecemasan ringan sampai sedang, itu bisa ditangani dengan metode ini," ungkapnya.

Pada praktiknya, biblioterapi diterapkan dengan beberapa cara. Namun cara yang populer antara lain biblioterapi preskriptif, kreatif, dan penerapan resep untuk seseorang yang sedang menjalankan terapi ini. Saat seseorang menjalani terapi biblioterapi preskriptif, ia akan diminta untuk membaca buku dan sesekali menulis untuk mengungkapkan isi perasaan yang dialaminya. Sedangkan saat seseorang menjalankan proses terapi biblioterapi kreatif, ia akan diarahkan membaca buku imajinatif seperti novel atau cerpen.

Namun biblioterapi juga memungkinkan seorang terapis membuat resep buku untuk dibaca oleh pasiennya. Menurut Liung, resep buku itu disesuaikan dengan keluhan pasien.

Kendati dianggap sebagai terapi alternatif yang menyenangkan, namun biblioterapi masih memerlukan banyak pengembangan. Menurut Liung, terapi ini belum bisa membantu semua orang. Keterbatasan yang belum bisa digapai oleh terapi ini adalah pasien yang enggak punya minat baca. Wah, pecandu buku bersyukur banget nih karena terapi ini kemungkinan berhasil diterapkan kepada mereka yang doyan membaca.

"Paling efektif (menerapkan terapi ini) kepada remaja karena pola pikirnya masih bertumbuh. Selain itu, remaja masih sedang mencari jati diri," ujar Liung.

Kemudian, ia membahas juga beberapa jenis buku yang direkomendasikan untuk kamu yang sedang mencari bahan bacaan untuk self-healing. Beberapa kriteria buku yang dianjurkan pada dasarnya mengacu dengan minatmu. Intinya, selama buku itu enggak bikin kamu stres saat membacanya, sah-sah saja kalau kamu mau mencobanya, TemanBaik.

Hanya saja, Liung mengungkapkan kalau buku fiksi punya sejenis "kadar terapeutik" yang lebih besar daripada buku-buku non fiksi atau sains. Menurutnya, buku fiksi dapat meningkatkan kemampuan berempati seseorang, mempertajam intuisi, memudahkan seseorang melakukan refleksi diri, dan  menyontek cara tokoh dalam buku saat mengungkapkan emosi.

"Tapi enggak berarti buku nonfiksi jelek. Enggak. Selama buku itu menghibur, enggak bikin stres, ya enggak apa-apa," jelasnya.

Secara spesifik, ia memberi beberapa bacaan rekomendasi yang bisa kamu coba di rumah. Antara lain buku 'Si Cacing dam Kotoran Kesayangannya' karya Ajahn Brahm, dan buku 'Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat' karya Mark Manson. Bagaimana? Kamu sudah pernah baca salah satu atau mungkin keduanya?

Sebagai pamungkas, Liung mengajak kita semua untuk lebih jeli dalam memperhatikan kesehatan mental. Ia juga berpesan agar kepedulian kita terhadap kesehatan mental sama dengan kita mempedulikan kesehatan fisik.

''Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Sebab kedua hal ini saling terkait," pungkasnya.

Nah, lalu, kamu mau baca buku apa hari ini?

Foto: Ilustrasi Unsplash/Christian Wiediger

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler