Mengenal 'Obesogenic Environment', Lingkungan Penyebab Kegemukan

Bandung - TemanBaik, tahukah kamu jika gizi ganda menjadi salah satu masalah masyarakat Indonesia? Gizi ganda ini bisa membuat seseorang kekurangan gizi yang menyebabkan stunting, anemia, bahkan kekurangan natrium. Disisi lain, gizi ganda juga bisa membuat seseorang kelebihan gizi sehingga ia obesitas atau kegemukkan. 

Bahkan dari tahun ke tahun, masyarakat Indonesia yang mengalami obesitas terus bertambah loh. Apalagi saat pandemi seperti ini, siapa diantara TemanBaik yang mengalami kenaikkan berat badan karena banyak diam di rumah? 

Padahal kita tak bisa menampik jika obesitas bukan hal yang diinginkan karena bisa berbahaya bagi kesehatan. Walau begitu, menerapkan pola hidup sehat agar tidak obesitas juga bukan hal yang mudah. 

Obesitas umumnya terjadi jika seseorang konsisten mengalami kondisi surplus atau kelebihan energi. Jadi kegemukan bisa terjadi ketika energi yang kita gunakan lebih sedikit dari energi yang kita terima dalam tubuh dari makanan.

"Diibaratkan kita makan 12 energi, yang terpakai hanya 8. Sisa 4 energi ini jadi cadangan energi. Kalau setiap hari kita menimbun energi akan jadi lemak di tubuh yang dapat menyebabkan kegemukan," ujar Anton Septian, pendiri @dietsantuy.id dalam webinar 'Greentalk: Sehat Gak Melulu Tentang Menu Makanannya'.


Menurut laki-laki yang akrab disapa coach Anton ini, sebenarnya solusi untuk tidak kelebihan energi sederhana, kita perlu melakukan keseimbangan energi. Walau begitu, coach Anton mengaku hal ini tidak mudah untuk diterapkan.

Baca Ini Juga Yuk: Hidup Sehat Bukan Melulu Soal Makanan Loh! Begini Penjelasannya

Penerapan keseimbangan energi tidak mudah karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Empat faktor yang paling dekat dengan diri kita adalah asupan makanan, psikologis, aktivitas fisik, dan biologi atau faktor genetik dan kondisi medis lainnya. 

Tapi tidak hanya itu, ada faktor lain yang mempengaruhi keseimbangan energi namun tidak dapat kita kontrol keberadaannya. Seperti produksi makanan, pengaruh perubahan sosial, dan perkembangan teknologi yang memudahkan hidup manusia. 

"Misalnya zaman dulu orang kalau mau makan harus berburu, sekarang kita bisa pesan makanan lewat HP. Dulu juga orang bekerja dengan fisik, sekarang lebih banyak orang yang kerjanya duduk," tambah coach Anton.

Perubahan lingkungan yang tidak bisa kita kontrol padahal bisa mempengaruhi keseimbangan energi dan membuat kita lebih mudah kegemukkan lalu cenderung sulit menerapkan hidup sehat ini bisa disebut 'Obesogenic environment', TemanBaik. 

Obesogenic environment adalah kondisi dimana suatu lingkungan memiliki kecenderungan untuk menggemukkan individu atau populasi. 

"Perlu cek lingkungan kita seperti apa. Tingkat kesulitan yang akan lingkungan kita berikan itu berbeda-beda. Kita sama-sama ingin hidup sehat tapi lingkungannya aja yang berbeda," ujar coach Anton.


Tapi bukan berarti kita abai begitu saja untuk hidup sehat ya, TemanBaik. Menurut coach Anton, memang kita tidak bisa mengontrol bagaimana kehidupan di lingkungan sekitar. Tapi reaksi kita terhadap lingkungan bisa ditentukan, karena gaya hidup adalah pilihan kita sendiri. 

Untuk menghadapi Obesogenic environment, kita bisa membuat strategi agar lebih mudah untuk menerapkan pola hidup sehat. Coach Anton memberikan beberapa alternatif caranya nih, TemanBaik!

Pertama, carilah langkah yang bisa mempermudah kamu berolahraga. Tidak perlu memaksakan diri untuk pergi ke tempat gym, berolahraga di rumah dengan menonton petunjuknya di Youtube juga tidak masalah loh, asal usahakan program olahragamu jelas ya!

Kedua, kurangi stok cemilan yang kurang berfaedah di rumah atau kantor. Ngemil boleh saja kok, tapi coba ganti dengan cemilan yang lebih sehat. Ingin tetap makan keripik kesukaan? Boleh saja, asal jangan berlebihan.

Ketiga, coba cek akun yang kamu ikuti di media sosial. Siapa tahu jika kamu lebih banyak mengikuti orang yang sering mengkampanyekan pola hidup sehat, berolahraga, atau akun-akun resep makanan sehat, semangatmu untuk menerapkan pola hidup sehat ikut bertambah ya, TemanBaik. 

Keempat, cari hidden gem dekat rumah atau kantor. Coba cari tempat makan di lingkunganmu yang menyediakan makanan sehat seperti sayur, lauk protein, hingga buah-buahan. Pasti ada kok, bahkan tak jarang rasanya tak kalah enak dengan restoran cepat saji.

Kelima, cari dukungan positif dari lingkungan sekitar. Ingat, bukan hanya dirimu sendiri yang mau hidup sehat. Yuk cari lingkungan yang mau saling mendukung. Tidak harus orang terdekat, kamu juga bisa bergabung di kelas atau komunitas hidup sehat loh!

Cara di atas hanya lima alternatif dari banyaknya cara yang bisa kamu temukan sendiri dan disesuaikan dengan lingkunganmu untuk memulai pola hidup sehat.

"Jadi kalau ngomongin makanan emang langsung berhubungan sama keseimbangan energi. Tapi diluar itu ada yang perlu kamu cek, yaitu kesehatan lingkungan," tambah coach Anton.

Kita memang tidak bisa memilih tinggal di lingkungan seperti apa, tapi kita bisa memilih ingin hidup bagaimana. Jadi atur strategi untuk hidup sehat dan jangan kalah dengan lingkunganmu ya, TemanBaik!

Foto: Tangkapan layar webinar 'Greentalk: Sehat Gak Melulu Tentang Menu Makannya' oleh Greenpack Indonesia 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler