Mengulik 'Cybrarian', Pustakawan di Era Siber

Bandung - TemanBaik, pasti pernah mendengar pekerjaan pustakawan. Umumnya, pekerjaan pustakawan berhubungan dengan mengurusi berbagai hal yang berhubungan dengan buku dan arsip.

Namun di era serba digital dan daring, tak berarti pekerjaan pustakawan menjadi kurang peminat dan tidak menarik lagi. Belum lama ini, muncul istilah baru yaitu cybrarian, merupakan gabungan kata dari cyber dan librarian, alias siber dan pustakawan. Lalu apa sih sebenarnya cybrarian ini?

Untuk menjawab hal tersebut, Beritabaik.id menghadiri sebuah webinaryang diadakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan judul 'Pustakawan dalam Mewujudkan Kualitas SDM Unggul Indonesia Maju Melalui Budaya Literasi' pada Rabu, (20/1).


                Foto: Tangkapan layar "Pustakawan dalam Mewujudkan Kualitas SDM Unggul Indonesia Maju Melalui Budaya Literasi"   

Pembiacara yang hadir pada webinar ini adalah Drs. Muhammad Syarif Bando sebagai Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Drs. Teguh Widjinarko sebagai Plt. Deputi Bidang SDM Aparatur Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Dr. Ir. Bima Haria Wibisana sebagai Kepala Badan Kepegawaian Negara, dan Dr. Ir. Subandi sebagai Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas.

Pada pemaparannya, Bima menjelaskan arti dari istilah cybrarian ini. Istilah ini sebenarnya tidak baru dan telah cukup lama dikenal. Pada dasarnya cybrarian adalah seorang pustakawan yang memiliki kemampuan siber seiring dengan berkembangnya kemajuan teknologi digital dan informasi.

Baca Ini Juga Yuk:


                    Foto: Tangkapan layar "Pustakawan dalam Mewujudkan Kualitas SDM Unggul Indonesia Maju Melalui Budaya Literasi"  

Menurut kamus, cybrarian memiliki arti orang yang mengarahkan, mengelola, dan mengendalikan. Menurut definisi lain cybrarian adalah orang yang menspesialisasikan ilmunya untuk menggunakan internet sebagai instrumen, dalam contoh ini adalah pustakawan.

"Cybrarian adalah orang yang membantu komunitas untuk melakukan atau mengintegrasikan, meliterasikan masyarakat agar bisnisnya berkembang, agar kehidupannya menjadi lebih baik, agar pengelolaannya menjadi lebih pandai," ungkap Bima.

Untuk menjadi seorang cybrarian tentunya dibutuhkan kompetensi dan kecakapan yang mumpuni dibanding seorang pustakawan biasa. Yang paling penting tentunya adalah literasi informasi. Hal ini juga bercabang ke kecakapan lainnya seperti literasi visual, literasi komputer, membaca dan berpikir kritis, serta kecakapan terkait hak cipta dan juga etika informasi. Perkembangan inilah yang diharapkan dimiliki oleh para pustakawan ke depannya sehingga dapat berkembang menjadi seorang cybrarian.

"Saya membayangkan seorang pustakawan itu sebagai ulat, dan cybrarian sebagai kupu-kupu, ulat menjadi kupu-kupu itu alamiah, jadi suka atau tidak suka ulat ini akan menjadi kupu-kupu, dia bukan sesuatu yang baru tapi lebih dari mengembangkan dirinya, kita punya pilihan tetap menjadi ulat dan kepompong seumur-umur atau kemudian memecahkan kepompong itu menjadi seekor kupu-kupu yang indah," jelas Bima.

TemanBaik, dari pemaparan tadi tentunya sudah mengerti dong dengan istilah cybrarian. Perkembangan pustakawan mengikuti perkembangan teknologi digital harus dibarengi dengan keinginan berubah dan berkembang dari pustakawan itu sendiri, sehingga dapat menjadi seorang cybrarian.

Tentunya menjadi seorang cybrarian sama sekali tidak membosankan, mengenal berbagai hal lewat berbagai literasi tentu menjadi hal yang sangat menarik dan menjadi salah satu faktor dalam mengembangkan kualitas kehidupan kita bersama. Kalau TemanBaik ada yang berminat menjadi seorang cybrarian? Yuk, semakin berkembang!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Taylor Wright

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler